Lestari Moerdijat: Pendidikan harus Jadi Perspektif Utama Pembangunan Bangsa

Sedang Trending 2 jam yang lalu
 Pendidikan kudu Jadi Perspektif Utama Pembangunan Bangsa Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat(MI)

MAJELIS Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI berbareng Institut Sarinah menyelenggarakan Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara dengan mengangkat tema "Menghidupkan Kembali Tri Pusat Pendidikan", pada Kamis (26/6).

Dalam forum tersebut, beragam kalangan menyoroti pentingnya mengembalikan ruh pendidikan nasional sebagaimana dicita-citakan oleh para pendiri bangsa, terutama konsep Tri Pusat Pendidikan nan menempatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai pilar utama pembentukan karakter generasi muda.

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat mengatakan bahwa rumor pendidikan kudu menjadi perhatian serius dalam pembangunan bangsa. Menurutnya, pendidikan tidak cukup dipandang sebagai persoalan teknis dan administratif semata, tetapi kudu dilihat sebagai sebuah perspektif pandang dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Ketika kita bicara pendidikan, maka kita kudu melihatnya sebagai sebuah point of view. Pendidikan tidak hanya berbincang soal tata kelola dan administrasi, tetapi juga menyangkut arah dan masa depan bangsa," kata Rerie sapaan akrabnya, Kamis (25/6).

Ia menjelaskan bahwa beragam persoalan nan muncul saat ini, mulai dari krisis karakter hingga melemahnya rasa kebangsaan, tidak bisa dilepaskan dari sistem pendidikan nan berjalan. Karena itu, diperlukan pendalaman terhadap nilai-nilai dasar pendidikan nan diwariskan oleh para tokoh bangsa, khususnya pendapat Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan nan berakar pada kebudayaan dan kebangsaan.

Dalam kesempatan tersebut, Rerie juga menyoroti pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan anak. Namun, menurutnya, keterlibatan tersebut sering kali disalahartikan hanya sebatas kehadiran bentuk dalam beragam aktivitas sekolah.

"Keterlibatan orang tua bukan sekadar datang dalam setiap aktivitas sekolah anak. nan lebih krusial adalah keterlibatan dalam hal-hal substantif, ialah gimana orang tua memahami dan mendukung proses pendidikan anak secara menyeluruh," ujarnya.

Selain keluarga, dia menilai masyarakat juga kudu kembali mengambil peran dalam pendidikan. Hal itu sejalan dengan konsep Tri Pusat Pendidikan nan menempatkan lingkungan sosial sebagai bagian krusial dalam pembentukan karakter dan nilai-nilai kehidupan peserta didik.

Lebih lanjut, Rerie menyoroti belum optimalnya perhatian terhadap aspek kebudayaan dalam beragam kebijakan pendidikan. Padahal, kebudayaan merupakan bagian nan tidak terpisahkan dari proses pendidikan dan pembentukan identitas bangsa.

"Kalau berbincang pendidikan, maka kita tidak bisa melepaskannya dari kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil karya, cipta, dan pikir manusia nan diwariskan melalui proses belajar. Karena itu, aspek kebudayaan kudu mendapat tempat nan jelas dalam sistem pendidikan nasional," ucapnya.

Lestari juga mengingatkan bahwa tantangan pendidikan ke depan semakin kompleks. Di tengah sasaran mewujudkan Indonesia Emas 2045, muncul kejadian sebagian generasi muda nan mulai kehilangan ikatan emosional dengan bangsa dan negaranya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah berbareng nan tidak dapat diselesaikan secara instan. Dibutuhkan penguatan nilai-nilai kebangsaan, budaya, dan karakter melalui sistem pendidikan nan melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat secara terpadu.

Hasil obrolan nan berjalan dalam forum tersebut, lanjut Lestari, diharapkan dapat menjadi masukan bagi proses penyusunan kebijakan pendidikan nasional. Sebagai Wakil Ketua MPR RI nan mempunyai latar belakang di bagian pendidikan, dia berkomitmen menyampaikan beragam rekomendasi nan muncul dalam forum kepada komisi mengenai di DPR RI agar dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan ke depan.

"Ini adalah pekerjaan rumah bersama. Kita mau memastikan bahwa pendidikan Indonesia tidak hanya menghasilkan generasi nan pandai secara akademik, tetapi juga mempunyai karakter, budaya, dan rasa kebangsaan nan kuat," pungkasnya. (Fik/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia