Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat(dok.istimewa)
PELESTARIAN kesenian Lengger Banyumas bukan merupakan upaya menjaga warisan budaya semata, melainkan bagian strategis dalam memperkuat karakter dan kesadaran kebangsaan generasi penerus.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengungkapkan perihal itu pada aktivitas penyerapan aspirasi masyarakat bertema Penguatan Demokrasi Substansi dan Etika Berbangsa nan dikemas dalam corak talkshow mengangkat topik Lengger Banyumas: Menjaga Warisan, Merawat Kesadaran Bangsa.
Acara nan diselenggarakan di Pendopo Sipanji Kabupaten Banyumas, Purwokerto, Jawa Tengah, Senin (15/6), dihadiri antara lain Sadewo Tri Lastiono (Bupati Banyumas), Sugeng Suparwoto (Wakil Ketua Komisi XII), Andy Flores Noya (Pembina Lengger Bicara), dan para pegiat seni dan masyarakat di Banyumas.
"Ketika kita bicara Lengger Banyumasan, sesungguhnya kita sedang bicara gimana kita menjaga warisan, dan lebih dari itu adalah upaya merawat kesadaran kebangsaan," ujar Lestari.
Rerie, sapaan berkawan Lestari beranggapan bahwa budaya adalah prasarana moral demokrasi. Karena, tegas dia, kerakyatan tidak bakal pernah berdiri kokoh, tanpa akar budaya.
Rerie nan juga Anggota Komisi X DPR RI itu mengingatkan bahwa saat ini kerakyatan kerap dipersempit menjadi sekadar kontestasi politik, pemilu, alias urusan kekuasaan semata.
"Padahal, kerakyatan sangat memerlukan fondasi nan lebih dalam. Demokrasi memerlukan penduduk nan menghormati sesama, menghargai perbedaan, mempunyai rasa terhadap budaya dan bangsanya. Ini semua adalah inti kebudayaan," tegasnya.
Legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu mengutip Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 nan menyatakan negara wajib memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia.
Rerie menekankan bahwa budaya bukan sekadar pelengkap pembangunan, melainkan jiwa, nafas, dan bagian tak terpisahkan dari pembangunan nasional.
Lebih lanjut, Rerie mengapresiasi para seniman dan seniman Banyumas nan konsisten mengangkat dan melestarikan Lengger, termasuk menumbuhkan kembali filosofi di kembali tarian tersebut.
Rerie mendorong agar Lengger bisa diajukan menjadi warisan budaya dunia, setelah pada 2019 ditetapkan sebagai Warisan Budaya tak Benda Nasional.
"Pengakuan negara itu krusial lantaran ini bukan sekadar catatan administratif, tetapi corak bahwa Lengger betul-betul menjadi bagian nan tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa ini," katanya.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukanlah hilangnya seni alias pertunjukan, melainkan hilangnya ingatan dan keterhubungan antara generasi muda dengan budayanya sendiri.
"Generasi muda tidak boleh kehilangan keterhubungan dengan budayanya. Karena dengan kehilangan hubungan dengan budaya, bangsa itu bakal kehilangan memorinya," ujar Rerie.
Ia menekankan bahwa pelestarian budaya tidak boleh dibebankan hanya kepada organisasi budaya dan kalangan seniman saja, kudu menjadi aktivitas berbareng nan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat.
"Bangsa nan besar adalah bangsa nan mempunyai akar kuat dan bisa membawa warisan budayanya tetap hidup di tengah perubahan zaman," pungkas Rerie. (Cah/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·