Ilustrasi(magnific)
TEKNOLOGI digital nan semestinya mempermudah hidup sekarang kian sering disalahgunakan sebagai instrumen pelecehan. Laporan terbaru dari perusahaan keamanan siber global, Kaspersky, mengungkapkan kebenaran mengkhawatirkan: sebanyak 45,7% responden mengaku telah mengalami setidaknya satu corak pelanggaran nan didukung teknologi (tech-enabled abuse) dalam 12 bulan terakhir.
Ironisnya, meski nyaris separuh responden menjadi korban, studi ini menemukan adanya "jurang kesadaran" nan lebar. Hanya 32% orang nan betul-betul memahami apa makna istilah tech-enabled abuse tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa banyak perseorangan mengalami pelecehan digital tanpa menyadari bahwa mereka sedang menjadi sasaran tindakan pidana alias perilaku tidak menyenangkan.
Memahami Tech-Enabled Abuse
Tech-enabled abuse merujuk pada tindakan negatif nan dilakukan alias diperkuat melalui platform digital seperti ponsel pintar, media sosial, hingga pemantauan tanpa izin. Karena sering kali tidak meninggalkan bukti bentuk dan menyatu dalam komunikasi sehari-hari, tindakan ini kerap dianggap normal alias terabaikan oleh korban.
Berdasarkan info nan dihimpun dari 7.600 responden di beragam negara termasuk Indonesia, berikut adalah rincian prevalensi ancaman nan terjadi:
| Pernah mengalami tech-enabled abuse (12 bulan terakhir) | 45,7% |
| Memahami istilah tech-enabled abuse | 32% |
| Pemblokiran dan pengucilan digital nan merugikan | 16,7% |
| Menerima pesan menyinggung/tidak sopan | 15,1% |
| Penguntitan digital (Stalking) | 8,5% |
| Menjadi korban doxing | 5,4% |
| Pengguna terdampak Stalkerware (2024-2025) | > 34.000 orang |
Ancaman Stalkerware dan Ekonomi Gelap Dark Web
Salah satu ancaman paling rawan nan disoroti adalah stalkerware, perangkat lunak nan memungkinkan pelaku memata-matai kehidupan pribadi korban secara diam-diam melalui perangkat seluler. Sepanjang 2024-2025, lebih dari 34.000 pengguna terdeteksi terdampak ancaman ini di 160 negara, dengan Rusia, Brasil, dan India sebagai wilayah nan paling terdampak.
Kaspersky Digital Footprint Intelligence (DFI) juga menemukan ekosistem jasa doxing nan kian subur di forum dark web. Layanan untuk mengungkap info pribadi seseorang ini ditawarkan dengan nilai mulai dari Mata Uang Rupiah setara $50 hingga $4.000 (sekitar Rp800 ribu hingga Rp65 juta).
Dr. Leonie Maria Tanczer dari UCL Computer Science menekankan bahwa kurangnya kerangka kerja umum membikin masalah ini susah diukur. "Kurangnya kejelasan ini berfaedah banyak pengalaman tidak disebutkan, tidak dilaporkan, dan tidak didukung," ujarnya.
Tips Menghindari Ancaman Stalkerware:
- Gunakan perangkat keamanan tepercaya nan mempunyai fitur penemuan stalkerware (seperti fitur Who’s Spying on Me).
- Waspadai tanda bentuk perangkat: baterai sigap habis, penggunaan info melonjak tiba-tiba, alias muncul aplikasi asing.
- Jangan langsung menghapus stalkerware jika ditemukan; perihal ini bisa memberi notifikasi kepada pelaku. Hubungi organisasi support terlebih dahulu.
- Lindungi akun dengan kata sandi unik dan kuat, serta rutin menggantinya pada perangkat nan dipastikan bersih.
Sebagai langkah nyata, Kaspersky bakal berperan-serta dalam Konferensi Penyalahgunaan Teknologi internasional di London pada 19–21 Mei 2026. Melalui workshop khusus, para mahir bakal memberikan pedoman praktis bagi masyarakat untuk mengidentifikasi dan melawan ancaman penguntitan siber nan kian canggih. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·