ilustrasi akibat kesehatan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau bagi lansia.(MI)
DIREKTUR Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menilai abu vulkanik nan berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) menjadi ancaman kesehatan terutama bagi golongan lansia.
Setiap kali terjadi erupsi, akibat kesehatan masyarakat tidak bisa dihindari, dan lansia menjadi golongan nan paling rentan. Wilayah pesisir Lampung Selatan, Pesawaran, Serang, dan Pandeglang adalah wilayah nan paling sering terdampak langsung.
"Jumlah lansia di Lampung mencapai lebih dari 1,1 juta jiwa, sementara di Banten sekitar 1,26 juta jiwa. Jika ditambah dengan lansia di pesisir DKI Jakarta dan Jawa Barat, total populasi lansia nan berpotensi terdampak mencapai sekitar 3,3 juta jiwa. Angka ini menunjukkan sungguh besar beban kesehatan nan kudu diantisipasi ketika Anak Krakatau kembali beraktivitas," kata Imran kepada Media Indonesia, Minggu (6/9).
Abu vulkanik mempunyai karakter nan berbeda dengan debu biasa. Kandungan silika tajam membuatnya rawan bagi paru-paru, mata, dan kulit. Apabila bercampur dengan air, abu dapat mengeras seperti semen sehingga salah langkah membersihkan justru menambah risiko.
Partikel halusnya bisa menembus jauh ke dalam saluran pernapasan, memicu peradangan, dan memperburuk penyakit kronis. Hal ini berbeda dengan asap kebakaran rimba dan lahan nan lebih banyak mengandung karbon, gas beracun, dan partikel organik. Abu vulkanik menimbulkan iritasi bentuk nan cepat, sementara asap karhutla berakibat lebih lama dan kronis terhadap kesehatan pernapasan dan kardiovaskular.
Bagi lansia, paparan abu vulkanik dapat memicu beragam masalah kesehatan. Gangguan pernapasan seperti ISPA, sesak napas, dan eksaserbasi asma alias PPOK sering terjadi. Risiko kardiovaskular meningkat dengan tekanan darah nan naik dan potensi serangan jantung alias stroke.
Mata menjadi perih, berair, dan mudah teriritasi, sementara kulit mengalami gatal dan peradangan. Tidak jarang lansia juga mengalami kebingungan alias penurunan konsentrasi akibat paparan berkepanjangan. Trauma pemindahan mendadak dan isolasi sosial menambah beban psikologis berupa stres dan depresi sehingga mitigasi kudu dilakukan secara menyeluruh.
Ia mengimbau agar masyarakat perlu menggunakan masker N95 alias KN95 serta kacamata pelindung, menutup celah rumah agar abu tidak masuk, dan membersihkan abu dengan langkah membasahinya terlebih dahulu.
"Keluarga dan caregiver kudu memastikan obat rutin lansia tersedia, memantau tanda bahaya, dan memberikan support psikososial. Fasilitas kesehatan di wilayah terdampak wajib menyiapkan oksigen konsentrator, obat ISPA, salep kulit, dan obat tetes mata, serta menyiagakan tenaga kesehatan untuk pemindahan darurat," jelasnya.
Selain itu, membersihkan abu vulkanik di rumah kudu dilakukan dengan langkah nan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan masalah kesehatan. Abu vulkanik mengandung partikel silika nan tajam dan berkarakter asam, sehingga jika salah penanganan dapat merusak lantai, kaca, kendaraan, sekaligus membahayakan paru-paru.
Sebelum mulai membersihkan, pintu dan jendela kudu ditutup rapat agar abu dari luar tidak masuk kembali, sementara kipas angin dan AC sebaiknya dimatikan agar partikel tidak berputar dan menyebar ke seluruh ruangan.
Permukaan nan tertutup abu perlu dibasahi dengan semprotan air ringan sebelum disapu alias dikumpulkan, lantaran menyiram dengan ember justru membikin abu mengeras seperti semen. Lantai dan perabotan sebaiknya dibersihkan menggunakan kain pel basah alias jika memungkinkan menggunakan vacuum cleaner dengan filter HEPA.
"Abu nan terkumpul sebaiknya dimasukkan ke dalam wadah tertutup, bukan dibuang ke saluran air. Selama proses pembersihan, gunakan masker N95 alias KN95, kacamata pelindung, sarung tangan, dan busana lengan panjang, serta jauhkan anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru dari area pembersihan lantaran mereka lebih rentan terhadap paparan abu," ungkapnya.
Dengan langkah nan hati-hati dan perlindungan nan tepat, rumah dapat kembali bersih tanpa menimbulkan akibat kesehatan tambahan bagi penghuninya. Imran mengatakan letusan Gunung Anak Krakatau adalah pengingat bahwa musibah alam tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menakut-nakuti kesehatan masyarakat. Lansia, dengan segala keterbatasan bentuk dan penyakit kronis nan mereka miliki, kudu ditempatkan sebagai prioritas utama dalam strategi mitigasi.
Dengan perlindungan individu, support keluarga, dan kesiapan akomodasi kesehatan, akibat komplikasi dan mortalitas dapat ditekan, sehingga golongan usia lanjut tetap terlindungi di tengah ancaman vulkanik nan terus berulang. (Iam/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·