Laba Bersih BSI Tembus Rp 4,16 Triliun di Semester I 2026, Naik 11 Persen

Sedang Trending 58 menit yang lalu
Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Anggoro Eko Cahyo berbareng jejeran dewan berpotret sebelum memaparkan keahlian BSI pada triwulan II tahun 2026 di Kantor Pusat BSI, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Akbar Mubarak/kumparan

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) membukukan laba bersih sebesar Rp 4,16 triliun pada semester I 2026. Angka itu tumbuh 11 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan penguatan teknologi nan dilakukan perseroan dalam beberapa tahun terakhir mulai memberikan akibat terhadap pertumbuhan upaya dan jumlah nasabah.

"Teknologi bukan lagi sekadar kegunaan pendukung operasional. Bagi BSI, teknologi telah menjadi mesin pertumbuhan bisnis. Semakin baik pengalaman nasabah, semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar akuisisi nasabah, dan semakin luas kesempatan untuk mengembangkan seluruh ekosistem jasa finansial syariah," ujar Anggoro saat konvensi pers secara daring pada Jumat (21/8).

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Anggoro Eko Cahyo memaparkan keahlian BSI pada triwulan II tahun 2026 di Kantor Pusat BSI, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Akbar Mubarak/kumparan

Anggoro menyebut hingga Juni 2026, jumlah pengguna BSI mencapai 24,3 juta alias menjadi nan tertinggi sepanjang sejarah perseroan. Sejak Mei 2026, setelah transformasi teknologi selesai, pertumbuhan pengguna tercatat lebih dari 200 ribu per bulan.

Pertumbuhan jumlah pengguna itu turut membuka kesempatan pengembangan upaya BSI, mulai dari penghimpunan biaya murah, pembiayaan, transaksi digital, wealth management, upaya emas, hingga jasa haji dan umrah.

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI tumbuh 22 persen yoy menjadi Rp 393 triliun. Pertumbuhan DPK didorong peningkatan biaya murah alias Current Account Saving Account (CASA) nan mencapai Rp 238 triliun.

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Anggoro Eko Cahyo (kedua kiri) berbareng jejeran dewan memaparkan keahlian BSI pada triwulan II tahun 2026 di Kantor Pusat BSI, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto: Akbar Mubarak/kumparan

CASA tersebut terdiri dari tabungan sebesar Rp 173 triliun dan giro Rp 65,5 triliun. Struktur pendanaan nan kuat turut menekan Cost of Fund (CoF) menjadi 2,19 persen.

Pembiayaan BSI juga tumbuh di beragam segmen. Pembiayaan wholesale mencapai Rp 95 triliun, pembiayaan ritel dan UMKM sebesar Rp 55,83 triliun, sedangkan pembiayaan konsumer mencapai Rp 189,25 triliun. Adapun rasio Non Performing Financing (NPF) gross sebesar 1,80 persen dan NPF net sebesar 0,33 persen.

Selain pendapatan dari upaya intermediasi, BSI mencatat pertumbuhan pendapatan berbasis komisi alias Fee Based Income (FBI) sebesar 38,15 persen menjadi Rp 4,1 triliun.

Total aset BSI hingga Juni 2026 mencapai Rp 464,5 triliun, tumbuh 16 persen dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya.

Seorang model menunjukkan replika emas batangan BSI saat peluncuran BSI Gold di Jakarta, Kamis (28/11/2024). Foto: Fauzan/ANTARA FOTO

Penguatan upaya emas juga menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekosistem BSI. Hingga Juni 2026, BSI mempunyai 1,22 juta pengguna emas, terdiri dari 594,6 ribu pengguna cicil emas dan 209,7 ribu pengguna gadai emas. BSI juga mencatat 7,69 juta pengguna haji dan lebih dari 585 ribu merchant QRIS.

"Ke depan, konsentrasi kami bukan hanya menambah jumlah nasabah, tetapi meningkatkan nilai nan dapat kami berikan kepada setiap pengguna melalui jasa digital nan semakin relevan, mudah, dan terintegrasi,” tutup Anggoro.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan