Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel.(AFP)
PRESIDEN Kuba, Miguel Diaz-Canel mengumumkan paket reformasi menyeluruh nan bermaksud menghidupkan kembali perekonomian, mengurangi sentralisasi, dan memberikan otonomi nan lebih besar kepada beragam sektor masyarakat.
Dalam pidato nan disiarkan televisi pemerintah, Diaz-Canel menegaskan bahwa reformasi tersebut bukan dilakukan sebagai respons terhadap tekanan dari Amerika Serikat, melainkan untuk memperkuat model ekonomi negara itu.
“Negara ini tidak tinggal diam. Negara ini secara pandai menghadapi seluruh keadaan. Kami tidak dapat mengungkapkan secara terbuka semua nan kami lakukan lantaran musuh mengawasi setiap langkah nan kami ambil. Respons kami kudu berupa persatuan dan solidaritas,” kata Diaz-Canel, dikutip Minggu (14/6).
Ia menjelaskan bahwa paket reformasi tersebut bakal diajukan dalam beberapa pekan mendatang kepada Biro Politik Partai Komunis Kuba (PCC), salah satu lembaga pengambil keputusan tertinggi di Kuba, sebelum dibahas oleh Majelis Nasional Kekuasaan Rakyat nan merupakan parlemen unikameral negara itu.
Dalam usulan reformasi tersebut, para produsen pertanian bakal memperoleh elastisitas nan lebih besar. Pemerintah juga bakal menghapus peran wajib perusahaan negara sebagai perantara dalam perdagangan luar negeri serta mencabut pembatasan impor kendaraan.
Diaz-Canel menambahkan bahwa pemerintah mau mendorong investasi asing dan bakal memberikan kewenangan nan sama kepada penduduk Kuba nan tinggal di luar negeri seperti nan dinikmati masyarakat di dalam negeri.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi pemerintahan dan mengurangi birokrasi, jumlah kementerian bakal dikurangi dari 27 menjadi 20.
Presiden Kuba juga mengumumkan penghapusan subsidi produk secara bertahap. Bantuan sosial nantinya bakal difokuskan kepada golongan masyarakat nan paling membutuhkan.
Sebagai bagian dari reformasi, Kuba berencana membuka sektor pariwisata bagi model upaya dan operator baru. Langkah tersebut diambil setelah sejumlah perusahaan asing mengurangi alias menghentikan kegiatannya di negara tersebut akibat hukuman Amerika Serikat.
Beberapa jaringan hotel internasional, termasuk Melia Hotels International, Iberostar, Blue Diamond Resorts, dan Archipelago International, mengumumkan penghentian sebagian alias seluruh operasional mereka di Kuba pada Juni akibat hukuman nan diberlakukan Amerika Serikat.
Keputusan tersebut memunculkan ketidakpastian terhadap masa depan sekitar 50 hotel, nan sebagian besar dimiliki negara dan dikelola melalui Gaviota, anak perusahaan dari holding yang dikendalikan militer, GAESA.
Industri pariwisata Kuba menghadapi kesulitan sejak pandemi COVID-19. Namun, pengetatan hukuman oleh Amerika Serikat sejak Januari semakin memperburuk kondisi dengan memicu penurunan tajam jumlah visitor asing. Situasi tersebut mendorong banyak perusahaan asing, termasuk operator hotel dan maskapai penerbangan, meninggalkan Kuba.
Berdasarkan info dari National Office of Statistics and Information (ONEI), sebanyak 328.608 visitor asing mengunjungi Kuba sepanjang empat bulan pertama tahun 2026. Jumlah itu turun 55,8 persen dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Pada April 2026, Kuba hanya mencatat kehadiran 30.551 visitor asing. (Ant/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·