KRL 12 Rangkaian Tak Bisa Masuk Jalur Green Line, Ini Alasannya

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengungkap argumen kereta rel listrik (KRL) dengan 12 rangkaian alias stamformasi (SF12) belum bisa dioperasikan di lintas Tanah Abang-Rangkasbitung (Green Line). Padahal, jalur tersebut saat ini menjadi salah satu lintasan KRL dengan tingkat kepadatan tertinggi di Jabodetabek.

Direktur Utama PT KAI (Persero), Bobby Rasyidin mengatakan, modernisasi dan peningkatan kapabilitas jaringan KRL Jabodetabek menjadi salah satu konsentrasi perusahaan untuk mengatasi lonjakan jumlah penumpang nan terus meningkat.

"Kami segera bakal lakukan ialah modernisasi alias pengembangan kapabilitas dari jaringan KRL nan di Jabodetabek," kata Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) berbareng Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Menurut dia, tingkat okupansi KRL di sejumlah lintas utama Jabodetabek saat ini sudah sangat tinggi. Bahkan jalur Tanah Abang-Rangkasbitung tercatat menjadi nan paling padat.

"Kalau kita lihat optimasi dari kapabilitas sarana prasarana nan di Jabodetabek ini, pada kondisi saat ini okupansi rate itu 128% sampai dengan 161%. Jadi jika kita lihat, nan jalur Rangkasbitung itu sudah peak-nya 161% pada jam sibuk," ungkapnya.

Bobby menggambarkan tingkat kepadatan tersebut sudah jauh melampaui kapabilitas ideal.

Suasana visitor pengguna KRL Commuter Line, Jakarta, Kamis 23 /5. Awalnya KRL Commuter Line tujuan Stasiun Rangkasbitung diarahkan ke Stasiun Kebayoran. Para pengguna KRL nan hendak menuju Stasiun Rangkasbitung diminta berakhir di Stasiun Kebayoran. Selain itu, mereka nan hendak ke Stasiun Tanah Abang dan Palmerah diminta mengambil stasiun alternatif. Namun, per pagi ini, Stasiun Tanah Abang dan Rangkasbitung telah kembali beroperasi. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Suasana visitor pengguna KRL Commuter Line, Jakarta, Kamis 23 /5. Awalnya KRL Commuter Line tujuan Stasiun Rangkasbitung diarahkan ke Stasiun Kebayoran. Para pengguna KRL nan hendak menuju Stasiun Rangkasbitung diminta berakhir di Stasiun Kebayoran. Selain itu, mereka nan hendak ke Stasiun Tanah Abang dan Palmerah diminta mengambil stasiun alternatif. Namun, per pagi ini, Stasiun Tanah Abang dan Rangkasbitung telah kembali beroperasi. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Stasiun Tanah Abang (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

"Jadi 161% itu jika kita gambarkan 1 meter persegi itu isinya 8 orang. Kapasitas nan di Bekasi itu sekitar 140%, kapabilitas nan di Bogor itu sekitar 130%, Rangkasbitung 161%. Sehingga berasas ini, kami melakukan rekayasa, ke depannya gimana kita mulai memberikan kenyamanan nan lebih," jelas dia.

Saat ini, lanjutnya, KRL Jabodetabek melayani sekitar 1,3 juta penumpang setiap hari. Jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat hingga mencapai sedikitnya 1,4 juta penumpang per hari pada 2030.

"Perlu kami informasikan juga, satu hari pada saat ini KRL Jabodetabek ini itu mengangkut 1,3 juta penumpang, nan kami harapkan pada tahun 2030 kita kudu menyiapkan paling tidak 1,4 juta kapabilitas angkutan," kata Bobby.

Untuk mengurangi kepadatan di lintas Rangkasbitung, KAI berencana menambah rangkaian kereta nan lebih panjang. Namun upaya tersebut terkendala keterbatasan pasokan listrik di jalur tersebut.

"Apa nan bakal kami lakukan di Jabodetabek ini tentunya gimana jalur ke Rangkas, nan pada saat ini sudah 161% okupansi rate-nya, itu dengan menambah kereta-kereta baru," ucapnya.

"Kereta-kereta baru nan lebih panjang, jadi nan ke Rangkas ini biasanya kereta itu ada SF 8 dan SF 10, SF 12 itu nggak bisa, lantaran listriknya nggak cukup. Listriknya itu hanya 3.000 ya, jadi Bogor itu 4.000, Bekasi 4.000, Rangkas itu hanya 3.000. Kami sudah acapkali mencoba melakukan rekayasa operasi juga gitu ya, tidak bisa kita bawa train set nan 12 SF ini ke Rangkasbitung itu, padahal jika kita bisa bawa, itu bisa menurunkan 161% tadi," sambung dia.

Karena itu, KAI bakal melakukan dua langkah besar untuk meningkatkan kapabilitas lintas Tanah Abang-Rangkasbitung. Pertama, meningkatkan kapabilitas Listrik Aliran Atas (LAA) agar bisa menopang operasional KRL dengan 12 rangkaian.

"Insyaallah dalam dua minggu ini kami bakal mulai melakukan pengerjaannya. nan pertama, itu adalah peningkatan daya untuk LAA-nya (Listrik Aliran Atas). Jadi peningkatan daya untuk LAA ini tidak simpel kita meningkatkan daya PLN saja, tapi kudu menambah 11 gardu traksi namanya. Nah dengan demikian dayanya cukup untuk SF 12 itu bisa masuk ke Tanah Abang-Rangkasbitung," jelas Bobby.

Langkah kedua, adalah melakukan modernisasi sistem persinyalan nan saat ini dinilai sudah ketinggalan zaman. Sistem nan digunakan saat ini tetap menggunakan blok tertutup, nan membatasi jumlah kereta nan dapat melintas dalam satu segmen jalur.

"Kita juga melakukan upgrade dari pensinyalannya di situ Jadi persinyalan nan di Rangkasbitung ini sudah cukup tua dan antik gitu ya, nan kita sebut itu adalah blok tertutup. Nah kita bakal upgrade dulu dia kelak bakal menjadi blok-blok terbuka. Blok tertutup ini satu blok itu beberapa stasiun itu hanya boleh satu kereta," terang dia.

"Jadi pada saat ini itu headway nan ada di Tanah Abang-Rangkasbitung ini 10 menit. Nah sementara jika Bekasi itu 3-4 menit, ke Bogor juga 3-4 menit pada saat ini," sambungnya.

Dengan peningkatan daya listrik dan modernisasi persinyalan tersebut, KAI berambisi kapabilitas lintas Tanah Abang-Rangkasbitung dapat meningkat signifikan. Selain memungkinkan pengoperasian KRL 12 rangkaian, proyek ini juga diharapkan bisa memangkas waktu antar kehadiran kereta (headway) sehingga kepadatan penumpang pada jam sibuk dapat berkurang.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News