Krisis Menghantam, Hiburan Warga RI Ini Meledak Jadi Pelepas Stres

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik nan menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa sekarang lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis ekonomi biasanya membikin masyarakat mengurangi pengeluaran untuk hiburan. Namun, perihal berbeda justru terjadi di Indonesia pada dasawarsa 1930-an. Di tengah maraknya pengangguran dan kemiskinan akibat krisis ekonomi dunia, pagelaran wayang orang malah kebanjiran penonton.

Museum Bank Indonesia dalam pameran "Ing Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi" mengungkapkan, wayang orang menjadi salah satu intermezo favorit masyarakat Hindia Belanda untuk melepas penat di tengah tekanan hidup nan semakin berat.

"Di kembali kesulitan tersebut, pagelaran wayang orang justru mengalami peningkatan minat. Gedung-gedung pagelaran dipadati penonton dari beragam kalangan nan mencari penghiburan di tengah kesempitan hidup," tulis Museum Bank Indonesia dalam pameran nan diadakan dari 3 Juni sampai 30 Agustus 2026 itu. 

Bagi masyarakat, wayang orang menjadi sarana untuk sejenak melupakan kesulitan ekonomi. Sementara bagi para pemain dan penyelenggara pertunjukan, ramainya penonton menjadi sumber penghasilan nan membantu mereka memperkuat hidup.

Fenomena ini terjadi ketika Hindia Belanda sedang dilanda krisis ekonomi berkepanjangan nan merupakan imbas dari runtuhnya Bursa Saham New York pada Oktober 1929. Kejatuhan pasar saham tersebut memicu perlambatan ekonomi global, menurunkan daya beli, dan meningkatkan nomor pengangguran di banyak negara, termasuk Hindia Belanda.

Di Indonesia, banyak perusahaan dan pabrik mengurangi aktivitas upaya apalagi menutup operasinya. Gelombang PHK merebak dan kemiskinan meningkat. Sejarawan Onghokham dalam Runtuhnya Hindia Belanda (1987) mencatat pemerintah kolonial dinilai lamban merespons krisis, sehingga dampaknya berjalan hingga nyaris sembilan tahun, dari 1930 sampai menjelang 1939.

Menariknya, wayang orang nan ramai ditonton saat itu sebelumnya merupakan intermezo eksklusif kalangan keraton. Kesenian tersebut baru dapat dinikmati masyarakat luas setelah seorang pengusaha keturunan Tionghoa berjulukan Gan Kam mengubahnya menjadi pagelaran komersial nan terbuka bagi publik melalui sistem tiket.

Berkat perubahan itu, wayang orang berkembang menjadi intermezo rakyat. Ketika krisis ekonomi menghantam kehidupan sehari-hari, kesenian tersebut pun menjelma sebagai salah satu pelarian favorit masyarakat untuk mengusir stres dan kesulitan hidup.

(mfa/mfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News