Ada stigma nan bising di telinga kita: generasi Gen Z dianggap mengalami krisis kepercayaan terhadap masa depan bangsa. Cap ini melekat hanya lantaran mereka enggan melirik panggung formal, padahal mereka tengah membangun kekuatan baru lewat aktivitas politik digital.
Namun, benarkah mereka tidak peduli?
Jika kita memperluas lensa pandang, realitasnya justru terbalik. Generasi muda tidak sedang mundur dari politik; mereka sedang mendefinisikan ulang apa itu "partisipasi penduduk negara."
Bagi Gen Z dan Milenial, politik tidak lagi dimulai dan berhujung di bilik bunyi setiap lima tahun sekali. Partisipasi politik sekarang berkarakter harian, cair, dan digital. Isu-isu krusial seperti kerusakan lingkungan, kesehatan mental, hingga kebocoran info pribadi justru dikawal ketat oleh jemari anak muda di media sosial.
Gerakan clicktivism—yang sering diremehkan sebagai sekadar modal "klik" dan "share"—nyatanya bisa menciptakan tekanan publik nan nyata. Petisi daring sekarang bisa membatalkan kebijakan nan timpang. Utasan kritis di media sosial bisa membongkar penyalahgunaan wewenang, dan penggalangan biaya digital untuk rumor sosial terkumpul dalam hitungan jam, melompati birokrasi negara nan lambat.
Keengganan mereka masuk ke politik umum bukanlah tanpa alasan, melainkan corak protes atas krisis kepercayaan (crisis of trust). Ketika parpol dirasa koruptif dan dihuni wajah lama, anak muda memilih menyalurkan daya mereka ke jalur non-formal: organisasi independen dan aktivitas lokal. Di sana, mereka menemukan transparansi dan tindakan nyata nan instan.
Melihat kejadian ini, negara tidak bisa lagi memakai langkah lama untuk "merangkul" anak muda. Memaksa mereka tunduk pada style berpolitik abad ke-20 adalah kesia-siaan.
Sudah saatnya kita mengakui bahwa kritik di ruang digital dan pembelaan organisasi adalah pilar krusial kerakyatan modern. Generasi muda tidak sedang tidur. Mereka bergerak dengan langkah sendiri, merombak masa depan bangsa dari kembali layar gawai. Karena menjadi penduduk negara nan baik bukan lagi soal seberapa alim kita pada sistem, melainkan seberapa berani kita bersuara untuk memperbaikinya.
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·