GCC2 Gelar Akad Kredit Massal Perdana Cluster Livana Park.(Dok. MI)
PEMERINTAH menyetujui kebijakan perpanjangan tenor Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan alias KPR FLPP hingga 40 tahun. Kebijakan ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terhadap kepemilikan rumah melalui skema angsuran nan lebih ringan.
Direktur Utama PT Alexandra Citra Pertiwi, Tuti Mugiastuti, mengapresiasi langkah pemerintah dalam memperbesar akses masyarakat terhadap kediaman layak. Namun, dia menilai kebijakan tenor hingga 40 tahun tetap perlu dikaji secara komprehensif, terutama dari sisi keberlanjutan pembiayaan dan kualitas kediaman nan diterima masyarakat.
“Kalau saya pribadi sebenarnya kurang setuju dengan tenor sampai 40 tahun. Memang angsuran menjadi lebih ringan, tetapi jangka waktunya terlalu panjang. Menurut saya, tenor nan sekarang sebenarnya sudah cukup,” ujar Tuti, belum lama ini.
Menurut Tuti, persoalan rumah subsidi tidak hanya berangkaian dengan keahlian masyarakat bayar cicilan. Tetapi juga menyangkut kualitas gedung dan keberlanjutan penyediaan kediaman oleh pengembang.
Karena itu, dia menilai penyesuaian nilai jual rumah subsidi menjadi kebutuhan nan lebih mendesak.
Ia mengatakan nilai rumah subsidi saat ini tetap berada di kisaran Rp185 juta. Tuti mengusulkan agar nilai tersebut dapat disesuaikan naik sekitar 5-7% menjadi sekitar Rp212 juta.
“Harga rumah subsidi saat ini tetap sekitar Rp185 juta. Kami mengusulkan agar dapat disesuaikan, naik sekitar 5-7% menjadi sekitar Rp212 juta. Pembahasan ini juga sedang berjalan di REI berbareng beragam pemangku kepentingan. Idealnya memang ada penyesuaian nilai secara berkala mengikuti kenaikan biaya pembangunan,” jelas Tuti, nan juga merupakan salah satu pengurus DPP REI.
Tuti menilai, penyesuaian nilai diperlukan agar developer mempunyai ruang untuk meningkatkan kualitas gedung di tengah kenaikan biaya material, lahan, dan konstruksi. Dengan begitu, rumah subsidi tetap dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga kepantasan kediaman dalam jangka panjang.
Menurut dia, rumah subsidi tidak boleh hanya dilihat dari sisi nilai murah dan angsuran terjangkau. Pemerintah dan pemangku kepentingan juga perlu memastikan kediaman nan dibangun tetap layak, nyaman, serta relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
“Rumah subsidi kudu tetap layak, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Jadi, kebijakan pembiayaan perlu melangkah beriringan dengan penyesuaian nilai dan peningkatan kualitas,” kata Tuti.
Peningkatan Kualitas
Tuti menyebut, peningkatan kualitas rumah subsidi sudah mulai dilakukan pengembang, salah satunya melalui pengembangan Cluster Livana Park by GCC2 di area Grand Cikarang City 2, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Proyek tersebut dikembangkan Arrayan Group melalui PT Alexandra Citra Pertiwi sebagai bagian dari komitmen menghadirkan kediaman subsidi nan lebih berkualitas.
Komitmen tersebut ditandai dengan penyelenggaraan Akad Kredit Massal Perdana Cluster Livana Park by GCC2 pada Sabtu (27/6/2026). Mengusung tema “Revolusi Rumah Subsidi”, aktivitas tersebut menjadi salah satu upaya GCC2 menghadirkan standar baru rumah subsidi nan lebih modern, nyaman, dan berbobot tinggi bagi masyarakat.

“Livana Park kami hadirkan sebagai revolusi rumah subsidi. Konsumen sekarang memperoleh rumah dengan tampilan kebinasaan nan jauh lebih modern, tata ruang lebih fungsional, kualitas material nan meningkat, hingga akomodasi nan sebelumnya identik dengan rumah komersial. Tujuan kami sederhana, memberikan kepuasan maksimal kepada setiap konsumen,” ujar Tuti.
Livana Park merupakan rumah subsidi berkonsep cluster di area Grand Cikarang City 2. Konsep tersebut menjadi cluster rumah subsidi kedua nan dikembangkan di GCC2 setelah Cluster Alexandra Park di Blok C nan saat ini telah lenyap terjual.
Standar Baru Rumah Subsidi
Tuti mengatakan, peningkatan kualitas di Livana Park mencakup kreasi kebinasaan nan lebih modern, tata ruang lebih efisien, tembok belakang nan sudah terpasang, meja dapur, penggunaan kloset duduk, material hebel, jalan utama area selebar 14 meter, serta area bermain anak dan akomodasi umum.
“Kami mau masyarakat merasakan bahwa rumah subsidi juga bisa tampil menarik, nyaman ditempati, dan mempunyai kualitas gedung nan membanggakan. Konsumen tinggal membawa koper dan langsung menghuni rumahnya,” tambahnya.
Pengembangan tahap pertama Livana Park sebanyak 242 unit mendapat respons positif dari masyarakat. Seiring tingginya permintaan, GCC2 sekarang membuka tahap kedua dengan pembangunan 249 unit baru. Akad angsuran massal untuk tahap kedua direncanakan kembali digelar pada Juli 2026.
Selain kualitas bangunan, Tuti menyebut letak Livana Park menjadi salah satu daya tarik utama. Perumahan tersebut berada di area Grand Cikarang City 2, di antara area industri besar Cikarang dan Karawang, serta berada di koridor Jalan Pantura nan memudahkan mobilitas para pekerja.
“Masyarakat sekarang semakin selektif. Mereka mencari rumah subsidi nan lokasinya baik, kualitas bangunannya bagus, dan tampilannya menarik. Livana Park menjawab kebutuhan tersebut,” jelasnya.
Salah satu konsumen Livana Park, Safitri Rahmadani, mengaku tertarik memilih kediaman tersebut lantaran desainnya dinilai lebih modern dibandingkan rumah subsidi pada umumnya.
“Model rumahnya cantik, kekinian, lokasinya juga strategis. DP ringan, cicilannya terjangkau. Saya percaya tidak bakal menyesal memilih Livana Park,” ungkap Safitri. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·