Kospi Anjlok 11 Persen, Bursa Saham Korea Selatan Sempat Hentikan Perdagangan

Sedang Trending 47 menit yang lalu
Ilustrasi Kospi. Foto: Pavel Ignatov/Shutterstock

Saham Korea Selatan mengalami tekanan dahsyat pada perdagangan Selasa (28/7). Aksi jual nan semula menghantam saham-saham produsen chip meluas ke beragam sektor hingga memaksa Bursa Efek Korea menghentikan perdagangan sementara di pasar saham.

Mengutip Bloomberg, Indeks Harga Saham Komposit Korea (Kospi) merosot nyaris 11 persen. Dua emiten chip terbesar, Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc., masing-masing terkoreksi lebih dari 13 persen. Bursa Efek Korea menghentikan perdagangan tunai di indeks Kospi dan Kosdaq selama 20 menit setelah sebelumnya menangguhkan perdagangan program akibat anjloknya perjanjian berjangka.

Pasar saham Korea Selatan nan sebelumnya menjadi salah satu penerima faedah terbesar dari euforia kepintaran buatan (AI), sekarang justru menjadi contoh akibat di kembali tingginya antusiasme investor. Setelah sempat mencatat reli tajam, Kospi sekarang telah terkoreksi lebih dari 30 persen dari posisi puncaknya sekitar satu bulan lalu.

Tekanan tersebut dipicu kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan AI dunia bakal kesulitan mengubah shopping besar menjadi keuntungan, ditambah meningkatnya persaingan dari perusahaan teknologi asal China.

“Sentimen terhadap saham semikonduktor Korea sangat lemah. Penurunan akibat nan luas, pengurangan utang paksa, pelebaran spread CDS hyperscaler, dan memburuknya sentimen penanammodal ritel semuanya menambah tekanan jual,” kata Ha SeokKeun, kepala investasi di Eugene Asset Management.

Ilustrasi Kospi. Foto: Utoimage/Shutterstock

Sepanjang sejarah, penghentian perdagangan (circuit breaker) di Kospi tergolong jarang dilakukan. Namun, dari 14 kali penghentian sejak 2000, sebanyak delapan di antaranya terjadi pada tahun ini. Sebelumnya, kebijakan serupa juga pernah diterapkan saat gejolak besar seperti pandemi Covid-19 dan perang Iran.

Padahal, Kospi sempat menjadi indeks saham dengan keahlian terbaik di bumi setelah melonjak lebih dari 100 persen sepanjang tahun hingga mencapai puncaknya. Namun reli tersebut juga dibarengi volatilitas nan tinggi, dengan tingkat volatilitas 30 hari menyentuh rekor tertinggi.

Kondisi pasar semakin bergolak lantaran likuiditas nan menurun. Nilai transaksi Kospi pada perdagangan tengah hari tercatat lebih dari 30 persen di bawah rata-rata 30 hari terakhir.

Aksi jual ini diperkirakan semakin menekan penanammodal ritel Korea Selatan nan ramai membeli saham-saham chip saat harganya mendekati puncak pada akhir Mei. Sebagian besar saham tersebut sekarang telah kehilangan sekitar 60 persen alias lebih dari nilai debutnya.

Di sisi lain, penanammodal asing membukukan tindakan jual bersih saham Kospi senilai 4,5 triliun won alias sekitar USD 3 miliar. Sementara itu, penanammodal ritel justru menambah kepemilikan saham mereka. Pelaku pasar juga menanti laporan keahlian SK Hynix nan dijadwalkan dirilis pada Rabu.

Gelombang tindakan jual pada Selasa terjadi setelah saham-saham semikonduktor dunia lebih dulu melemah pada sesi sebelumnya. Sentimen negatif semakin kuat menyusul laporan mengenai kemajuan perusahaan milik negara China dalam memproduksi massal mesin kreator chip tertentu.

“Ditambah dengan laporan mengambil litografi DUV domestik, swasembada semikonduktor Tiongkok memberikan tonggak nyata,” kata Jason Minsang Kam, kepala manajemen ekuitas aktif di Kyobo Life Insurance Co.

“Hal ini telah memicu kekhawatiran bakal potensi ‘pertumpahan darah’ di pasar komoditas memori akibat kelebihan pasokan,” tambahnya.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan