Jakarta, CNN Indonesia --
Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk melakukan koordinasi untuk membahas soal tata kelola lampau lintas, persiapan menghadapi libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), penerapan kebijakan penerapan Zero Over Dimension Over Loading (ODOL) hingga percepatan integrasi teknologi operasional di lajur tol.
Hal tersebut dibahas saat Kakorlantas Polri Irjen Wibowo dan Pejabat Utama (PJU) Korlantas Polri menerima audiensi Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Rivan A. Purwantono beserta jejeran Direksi di Gedung NTMC Polri, Senin (3/8).
Wibowo mengatakan kerjasama Korlantas Polri dan Jasa Marga perlu terus diperkuat, terutama dalam mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat pada momentum libur nasional seperti Operasi Lilin alias Natal dan Tahun Baru (Nataru).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dua potensi libur besar ini tentunya bakal memunculkan pergerakan masyarakat nan juga pasti bakal meningkat, khususnya di jalur-jalur wisata," kata Wibowo dalam keterangannya.
Dalam pertemuan tersebut, Wibowo juga meminta pembaruan info terkini mengenai progres pembangunan serta kesiapan operasional jalan tol baru. Khususnya ruas di wilayah Jawa Tengah hingga Yogyakarta, serta akses pendukung di Jawa Timur.
Sebab, kehadiran jaringan tol baru tersebut diproyeksikan efektif memecah konsentrasi kepadatan kendaraan, termasuk mempermudah arus pengedaran menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
Selain kesiapan Nataru, konsentrasi pembahasan juga tertuju pada rencana penerapan kebijakan Zero ODOL nan ditargetkan mulai melangkah pada awal tahun depan. Kata Wibowo, penanganan kendaraan ODOL kudu mempertimbangkan keseimbangan ekonomi masyarakat dan tidak hanya berfokus pada penegakan norma di hilir.
Ia menyebut penyelesaian masalah dari sektor hulu, seperti keterlibatan sisi pengusaha dan transporter juga menjadi kunci agar kebijakan ini memberikan hasil nan efektif dan tidak menimbulkan akibat kontraproduktif di lapangan.
"Korlantas kan selalu bekerja di hilir. Pekerjaan hulu sangat berakibat pada pekerjaan hilir. Kalau semuanya dilempar ke hilir, tanpa ada pertimbangan nan cukup matang malah kelak hasilnya bakal kontraproduktif dengan nan diinginkan," ucap Wibowo.
Sementara itu, Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono menjelaskan kendaraan ODOL berisiko terhadap keselamatan dan mempercepat kerusakan struktur jalan tol.
Untuk mendukung kebijakan Zero ODOL, Jasa Marga pun menambah akomodasi Weigh In Motion (WIM) dari dua titik menjadi delapan titik. Fasilitas ini terintegrasi dengan kamera pengawas dan teknologi Light Detection and Ranging (LIDAR) untuk mendeteksi berat dan dimensi kendaraan secara real-time.
Selanjutnya, info tersebut kemudian disinkronkan langsung ke sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) alias tilang elektronik milik Korlantas Polri.
Selain itu, Jasa Marga juga mendorong integrasi info digital melalui aplikasi Travoy nan dilengkapi teknologi Radio Frequency Identification (RFID).
Data RFID ini bakal diselaraskan dengan info Registrasi dan Identifikasi (Regident) Korlantas Polri serta info uji berkala Kementerian Perhubungan untuk memperkuat pemantauan dan pengawasan kelaikan kendaraan pikulan barang.
"Penguatan sistem juga dilakukan melalui Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC) nan siap dimanfaatkan berbareng di titik-titik krusial. Integrasi command center ini diharapkan mempercepat respons penanganan kejadian dan memperkuat koordinasi lintas sektor," tutur Rivan.
Disampaikan Rivan, seluruh penemuan digital dan prasarana tersebut bermaksud menciptakan kenyamanan dan keselamatan mobilitas masyarakat, khususnya dalam menghadapi kepadatan Nataru.
"Kolaborasi dan pemanfaatan sistem info berbareng ini menjadi kunci. Jasa Marga dan Korlantas Polri mempunyai tugas nan saling mengenai dalam menjamin kelancaran dan keselamatan di jalan tol," kata dia.
(tfq/dal)
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·