Korea Panas! Blokade 35 Jam-Presiden Minta Investigasi

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Huru-hara terjadi di Korea Selatan (Korsel). Aparat kepolisian apalagi membubarkan paksa para pengunjuk rasa di Seoul, Jumat (5/6/2026).

Massa berdemo soal kelangkaan surat suara. Mereka menggelar tindakan blokade selama 35 jam sejak Kamis.

Mengutip AFP dan media lokal Yonhap, awalnya lebih dari 1.000 demonstran berkumpul di luar tempat pemungutan bunyi di Jamsil 7-dong, Seoul. Pendemo membawa poster nan menuntut penghentian penghitungan bunyi dan pembatalan pemilu seraya mencoba menghalangi pemindahan setidaknya dua kotak suara.

Akibat tindakan tersebut, stasiun penyiaran negara Korea Selatan, KBS, melaporkan bahwa petugas pemilu terpaksa memperkuat di dalam tempat pemungutan bunyi hingga Jumat pagi demi keamanan. Polisi juga terlibat pemindahan secara bentuk dengan para demonstran nan memblokir pintu masuk tempat pemungutan suara, di mana beberapa demonstran berteriak dan mencoba melawan saat ditangkap.

"Apakah ini betul-betul negara nan diatur oleh hukum?" teriak seorang laki-laki berteriak di tengah momentum petugas kepolisian nan memerintahkan para demonstran untuk mengosongkan jalan.

Pihak berkuasa mengonfirmasi bahwa kotak-kotak bunyi nan berisi sekitar 2.000 surat bunyi sekarang telah diamankan dan sukses dipindahkan ke pusat penghitungan suara. Atas kejadian memalukan ini, Komisi Pemilihan Umum Nasional (NEC) terpaksa mengeluarkan permintaan maaf setelah 14 tempat pemungutan bunyi di Seoul kehabisan surat bunyi pada hari Rabu.

Kesalahan nan belum pernah terjadi sebelumnya ini dituding akibat kegagalan komisi dalam mengantisipasi tingkat partisipasi pemilih. Beberapa tempat pemungutan bunyi apalagi sempat tetap dibuka hingga pukul 22.00 waktu setempat demi memberikan kesempatan kepada penduduk untuk menyalurkan bunyi mereka, namun langkah tersebut tidak banyak meredam kritik atas penanganan pemilu oleh komisi tersebut.

Sebelumnya, Korsel melakukan pemilu lokal pada 3 Juni. Tapi penduduk bukan memilih Presiden, melainkan memilih gubernur, wali kota, kepala daerah, serta sejumlah personil majelis wilayah dan personil parlemen dalam pemilu sela.

Pemilihan ini secara luas dipandang sebagai ujian awal bagi tahun pertama masa kedudukan Presiden Lee Jae Myung. Dirinya mengambil alih kekuasaan setelah gejolak politik berbulan-bulan nan dipicu oleh deklarasi darurat militer pendahulunya, mantan Presiden Yoon Suk Yeol.

Partai ketua Lee nan berkuasa, Democratic Party of Korea, memenangkan sebagian besar daerah, meskipun kalah dalam perebutan bangku wali kota Seoul nan sangat bergengsi. Partai itu sukses menyapu bersih sebagian besar kursi.

Sementara itu, mengenai kelangkaan surat bunyi Lee meminta investigasi menyeluruh. "Ini adalah kelemahan nan susah untuk diterima," tegas Lee saat mengutuk keras kelalaian teknis tersebut.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News