Korban Baru Perang AS-Iran, Maskapai Bangkrut dan Setop Operasi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Maskapai berbiaya rendah Amerika Serikat (AS), Spirit Airlines, resmi menutup operasionalnya setelah kandas mengamankan biaya talangan pemerintah sebesar US$500 juta alias sekitar Rp8,5 triliun. Penutupan ini menjadi salah satu korban terbaru dari gejolak dunia akibat perang AS-Iran nan mendorong lonjakan tajam nilai bahan bakar.

Dalam pernyataan resminya, Spirit mengumumkan "dengan kekecewaan besar" bahwa mereka memulai penutupan operasional secara teratur dan langsung membatalkan seluruh penerbangan.

"Semua penerbangan Spirit telah dibatalkan, dan penumpang tidak boleh pergi ke bandara," tulis perusahaan, seperti dikutip BBC International, Senin (4/5/2026).

Keputusan drastis ini terjadi hanya beberapa bulan setelah maskapai tersebut keluar dari proses kebangkrutan keduanya. Namun, lonjakan nilai avtur pasca eskalasi bentrok di Iran membikin beban biaya membengkak dan menghantam upaya nan sudah rapuh.

CEO Spirit, Dave Davis, mengungkapkan bahwa perusahaan sebenarnya sempat mencapai kesepakatan restrukturisasi dengan pemegang obligasi pada Maret 2026.

"Namun, kenaikan nilai bahan bakar nan tiba-tiba dan berkepanjangan dalam beberapa minggu terakhir akhirnya membikin kami tidak punya pilihan selain menutup perusahaan," ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah AS membantah bahwa perang menjadi penyebab utama. Menteri Transportasi Sean Duffy menegaskan Spirit sudah bermasalah jauh sebelum konflik.

"Model upaya mereka tidak berhasil. Perang bukanlah pemicunya," katanya.

Krisis ini berakibat langsung pada ribuan penumpang nan terlantar. Salah satu pengguna mengaku baru mengetahui pembatalan penerbangannya setelah tiba di bandara. Ia menyebut email pembatalan baru masuk sekitar pukul 1 pagi.

Salah satu penumpang lain mengaku kudu membeli tiket pengganti seharga US$180 (Rp3,06 juta), lebih mahal dari tiket awal Spirit senilai US$108 (Rp1,84 juta).

"Saya pikir aplikasinya diretas. Tapi rupanya nyata, dan saya kudu sigap cari penerbangan pulang," katanya.

Maskapai lain seperti Delta Air Lines, United Airlines, American Airlines, dan Frontier Airlines langsung menawarkan "tarif penyelamatan" bagi penumpang terdampak.

Analis maskapai dari Raymond James, Savanthi Syth, menyebut lonjakan nilai bahan bakar sebagai "paku terakhir di peti mati" bagi Spirit. Biaya bahan bakar sendiri bisa mencapai 40% dari total pengeluaran maskapai, dan sejak bentrok pecah, nilai avtur dilaporkan melonjak drastis.

Sementara itu, serikat pekerja International Association of Machinists and Aerospace Workers (IAM) menyebut berita ini sebagai pukulan telak bagi ribuan karyawan.

"Ini sangat menghancurkan. Anggota kami tidak menyebabkan kegagalan ini; kesalahan manajemen dan tata kelola finansial nan buruklah penyebabnya," tegas IAM.

Kebangkrutan Spirit mempertegas tekanan berat nan dihadapi industri penerbangan global. Selain kenaikan nilai bahan bakar, sejumlah maskapai mulai mengurangi gelombang penerbangan dan meningkatkan tarif untuk memperkuat di tengah ketidakpastian geopolitik.

(tfa/tfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News