Presiden Direktur Sampoerna, Ivan Cahyadi(HM Sampoerna)
PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna/BEI: HMSP) melaporkan penurunan volume penjualan sebesar 1,3% pada Semester I 2026 dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh tren pergeseran konsumsi ke produk dengan nilai nan lebih rendah (downtrading) serta maraknya peredaran rokok terlarangan di pasar.
Dampak paling signifikan terlihat pada segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT) nan mengalami penurunan penjualan hingga 13% secara tahunan (year-on-year). Padahal, segmen SKT memegang peranan krusial dalam ekosistem industri lantaran sifatnya nan padat karya.
Dampak Ekonomi dan Peran Strategis SKT
Segmen SKT dinilai mempunyai makna strategis bagi perekonomian nasional. Selain menyerap puluhan ribu tenaga kerja nan kebanyakan adalah wanita sebagai tulang punggung keluarga, segmen ini juga mempunyai keterkaitan kuat dengan aktivitas ekonomi daerah.
Merujuk pada Studi Universitas Airlangga tahun 2022, segmen SKT mempunyai akibat ekonomi berganda (economic multiplier effect) sebesar 3,8 kali lipat. Hal ini berfaedah setiap Rp1.000 aktivitas ekonomi di pabrik SKT berpotensi menggerakkan perputaran ekonomi masyarakat sekitar hingga Rp3.800.
Presiden Direktur Sampoerna, Ivan Cahyadi, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus memperkuat segmen ini. "SKT telah menjadi bagian nan tidak terpisahkan dari perjalanan Sampoerna selama lebih dari satu abad. Kami menciptakan sekitar 90 ribu lapangan kerja serta mengembangkan rantai nilai domestik, termasuk kemitraan dengan 22.500 petani tembakau dan cengkih," ujar Ivan dalam keterangan resmi, Jumat (7/8).
Kinerja Keuangan Semester I 2026
Meski menghadapi tantangan pasar nan berat, Sampoerna tetap mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin industri hasil tembakau di Indonesia. Hingga pertengahan tahun 2026, Perseroan sukses membukukan:
| Penjualan Bersih | Rp56,5 Triliun |
| Laba Bersih | Rp4,2 Triliun |
| Pangsa Pasar | 29,6% |
Apresiasi Kebijakan Cukai
Manajemen Sampoerna turut mengapresiasi langkah Pemerintah nan memutuskan untuk tidak meningkatkan tarif cukai hasil tembakau. Kebijakan tersebut, ditambah dengan upaya pemberantasan rokok ilegal, dinilai bisa menciptakan suasana upaya nan kondusif bagi pelaku industri legal.
Ke depan, Perseroan berkomitmen menciptakan nilai jangka panjang melalui tiga pilar utama: penemuan berkelanjutan, pengembangan sumber daya manusia, dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat daya saing upaya sekaligus menghadirkan faedah bagi seluruh pemangku kepentingan. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·