Konsumsi Makanan Ultraproses pada Balita Turunkan Skor IQ Anak

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Konsumsi Makanan Ultraproses pada Balita Turunkan Skor IQ Anak Ilustrasi.(Magnific)

POLA makan anak pada usia sedini dua tahun rupanya mempunyai implikasi jangka panjang terhadap langkah mereka berpikir dan belajar di masa depan. Analisis terbaru mengungkapkan bahwa balita nan mengonsumsi lebih banyak makanan ultraproses (ultraprocessed foods) condong mempunyai skor tes kepintaran nan lebih rendah saat mencapai usia enam dan tujuh tahun.

Temuan ini tetap konsisten apalagi setelah para peneliti mempertimbangkan beragam aspek sosial, ekonomi, dan family nan luas. Studi ini didasarkan pada info dari Pelotas Birth Cohort yang mengikuti ribuan anak nan lahir di Brasil selatan sejak lahir hingga masa kanak-kanak dan seterusnya.

Pola Makan Sehat vs Tidak Sehat

Peneliti dari University of Illinois dan Federal University of Pelotas mengumpulkan info diet terperinci saat anak-anak berumur dua tahun. Mereka kemudian menilai performa kognitif anak-anak tersebut saat memasuki usia sekolah dasar. Alih-alih memeriksa nutrisi individu, peneliti konsentrasi pada pola makan keseluruhan nan terbagi menjadi dua kategori utama:

  • Pola Sehat: Mencakup kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran, makanan bayi, dan saribuah buah alami.
  • Pola tidak Sehat: Didominasi oleh camilan kemasan, mi instan, biskuit manis, permen, minuman ringan, sosis, dan daging olahan lain nan termasuk kategori ultraproses.

Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak dengan diet nan lebih mendekati pola tidak sehat pada usia dua tahun mempunyai skor IQ nan lebih rendah di usia enam hingga tujuh tahun. Hubungan ini tetap kuat meski disesuaikan dengan variabel seperti pendidikan ibu, status sosioekonomi, struktur keluarga, lama pemberian ASI, hingga stimulasi di rumah.

Fakta Kunci: Sekitar 92 persen anak dalam sampel secara rutin mengonsumsi makanan sehat. Namun kehadiran makanan ultraproses nan tinggi tetap memberikan akibat negatif nan signifikan terhadap perkembangan kognitif.

Dampak pada Anak nan Rentan secara Biologis

Profesor Thayna Flores, salah satu penulis studi tersebut, mencatat bahwa pengaruh terkuat terlihat pada anak-anak nan sudah mempunyai kerentanan biologis. Hubungan antara diet tidak sehat dan IQ rendah lebih nyata pada anak-anak nan mempunyai defisit awal dalam berat badan, tinggi badan, alias lingkar kepala.

Hal ini menunjukkan ada kerugian kumulatif yaitu nutrisi jelek memperburuk tantangan pertumbuhan awal nan sudah dialami anak. Meskipun studi ini tidak menguji sistem biologis secara langsung, Flores menjelaskan bahwa penelitian nan ada menunjukkan jalur peradangan (inflamasi), stres oksidatif, dan perubahan pada poros usus-otak (gut-brain axis) sebagai penjelasan nan masuk akal.

Relevansi Global

Meski penelitian ini dilakukan di Brasil, para penulis menekankan bahwa temuan ini mempunyai relevansi dunia mengingat kesiapan makanan ultraproses nan semakin meluas di seluruh dunia. Di tengah tren kenaikan nilai pangan nan sering kali membikin makanan olahan menjadi pilihan lebih murah, tantangan ini menjadi semakin nyata bagi para orangtua.

Pesan dari para mahir sangat jelas: diperlukan tindakan nan lebih kuat untuk mencegah konsumsi makanan ultraproses secara berlebihan, terutama pada masa kanak-kanak awal, demi melindungi potensi intelektual generasi mendatang. (Newsweek/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia