Konsumen Kini Tak Cuma Cari Rumah, Tapi Lingkungan yang Bisa Menjawab Kebutuhan

Sedang Trending 51 menit yang lalu
Hunian di Kota Baru Parahyangan. Foto: Kota Baru Parahyangan.

Memiliki rumah tetap menjadi salah satu tujuan besar banyak orang. Namun, ketika kebutuhan konsumen semakin beragam, rumah tidak lagi berdiri sendiri sebagai produk nan hanya dinilai dari luas bangunan, jumlah kamar, alias desain.

Lingkungan di sekitar kediaman ikut menentukan keputusan. Mulai dari akses menuju tempat kerja, sekolah, akomodasi kesehatan, ruang terbuka, hingga kesempatan untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Perubahan langkah pandang ini membikin pengembangan area kediaman ikut bergeser. Konsep kota mandiri, misalnya, tidak lagi sekadar menawarkan area dengan beragam fasilitas, tapi juga berupaya membangun ekosistem nan dapat terus berkembang mengikuti kebutuhan penghuninya.

Hal tersebut turut menjadi perhatian Kota Baru Parahyangan (KBP), nan telah dikembangkan selama 26 tahun. Sejak awal, area ini mengusung konsep budaya, sejarah, dan pendidikan. Seiring perkembangan area dan penghuninya, konsep tersebut kemudian berkembang menjadi mandiri, madani, dan alami.

Direktur Kota Baru Parahyangan Ryan Brasali mengatakan, perkembangan sebuah kota semestinya tidak berakhir ketika pembangunan fisiknya selesai.

Direktur Kota Baru Parahyangan Ryan Brasali. Foto: kumparan.

“Yang pertama, kota itu kudu semakin lama semakin baik. Jadi banyak developer nan misalnya lantaran tanahnya habis, ya sudah ditinggal. Kalau di sini lantaran jangka panjang, satu, keberlanjutan, makin lama kudu makin baik,” ujar Ryan kepada kumparan.

Mengikuti Perubahan Konsumen

Salah satu tantangan dalam upaya properti saat ini adalah menghadapi konsumen dari beragam generasi dengan kebutuhan nan berbeda.

Marketing Manager Kota Baru Parahyangan, Joseph Ijong Dachlan, mengatakan, Kota Baru Parahyangan (KBP) saat ini telah melayani konsumen mulai dari generasi baby boomer, X, Y (milenial), hingga generasi Z.

Hunian di Kota Baru Parahyangan. Foto: Kota Baru Parahyangan.

Menurutnya, generasi milenial dan Z mempunyai karakter nan berbeda. Generasi milenial condong aspiratif dalam mempunyai rumah, sementara generasi Z lebih kritis dalam memandang nilai nan ditawarkan sebuah hunian.

“Kalau generasi Z itu mereka lebih condong lebih kritis, lebih punya nilai, punya value apa nan bisa mendukung style hidup mereka nan hari ini tetap sangat produktif dan mobilitas tinggi,” kata Ijong.

Perubahan tersebut membikin developer perlu memahami konsumen sebelum menentukan produk nan bakal ditawarkan.

“Tantangan nan terbesar adalah psikografis tiap-tiap generasi ini berubah. Jadi nan paling penting, kami sebagai garda depan alias nan memasarkan, kami kudu menyimpan kaki kami di sepatu mereka istilahnya,” ujarnya.

Marketing Manager Kota Baru Parahyangan, Joseph Ijong Dachlan. Foto: kumparan.

Pendekatan itu kemudian diterjemahkan dalam beragam aspek pengembangan kawasan, mulai dari jenis rumah, tata kawasan, hingga ruang komunal. Setiap pengembangan juga diarahkan untuk menyasar kebutuhan segmen tertentu.

“Sehingga apa nan kita luncurkan itu resonate dengan calon pembeli,” katanya.

Hunian sebagai Ekosistem, Bukan Hanya Tempat Tinggal

Perubahan kebutuhan konsumen juga membikin ruang di luar rumah menjadi semakin penting.

Taman, pedestrian, dan jalur sepeda misalnya, tidak semestinya hanya menjadi komponen estetika. Ruang tersebut kudu bisa membikin masyarakat keluar dari rumah, bergerak, dan berinteraksi.

“Kita nggak mau sebatas bahwa itu hanya bagus di dalam foto. Artinya tempat-tempat itu bisa mengakomodir aktivitas masyarakatnya,” ujar Ryan.

Hunian di Kota Baru Parahyangan. Foto: Kota Baru Parahyangan.

Konsep tersebut juga berangkaian dengan upaya menciptakan lingkungan nan lebih sehat. Itulah kenapa, 50 persen area KBP dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau, baik berupa taman maupun area alami.

“Ruang hijau itu sebetulnya adalah paru-paru alias kesehatan nan bisa buat stakeholder nan ada di sini, baik pengunjung,” ungkap Ijong.

Di sisi lain, ruang komunal juga membuka kesempatan hubungan antarpenghuni. Sebab, aktivitas berbareng lintas tatar alias klaster, bisa menjadi salah satu langkah membangun hubungan sosial nan sehat di kawasan.

Bagi Kota Baru Parahyangan, keberlanjutan area tidak hanya berangkaian dengan pertumbuhan bisnis, tapi juga memastikan warganya mempunyai peran dalam membikin sebuah kota terus berkembang.

“Warga itu bukan sebagai objek, tapi subjek,” kata Ryan.

Karena itu, konsep mandiri, madani, alami tidak hanya diterjemahkan melalui pembangunan fisik. Ada pula upaya mendorong masyarakat untuk aktif dalam kehidupan kawasan, termasuk menjaga lingkungan dan membangun hubungan sosial.

Pada akhirnya, tantangan developer bukan lagi sekadar gimana menjual rumah, tetapi gimana membangun lingkungan nan tetap relevan ketika kebutuhan penghuninya berubah. Ukuran keberhasilan sebuah kota justru terletak pada kemampuannya untuk terus bertumbuh berbareng masyarakat nan tinggal di dalamnya.

“Kalau mandiri, madani, alami, dikaitkan ke tema sustainability, maka berdikari itu melambangkan prosperity, madani melambangkan people, sedangkan, jika alami itu melambangkan planet. Jadi kita rawat berbareng dengan semangat berkelanjutan” tutup Ijong.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan