Kondisi Warga Iran, Penuh Ketakutan dan Tekanan Setelah Perang

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di Timur Tengah melunak setelah Iran mengumumkan pembukaan Selat Hormuz dengan beberapa syarat dan ketentuan. Kendati demikian, ketidakpastian tetap menyelimuti wilayah tersebut, terutama setelah Amerika Serikat (AS) menegaskan bakal tetap memblokade pelabuhan Iran.

Iran juga menakut-nakuti bakal kembali menutup Selat Hormuz jika AS tetap melakukan blokade. Di saat bersamaan, Presiden AS Donald Trump menyebut kemungkinan tidak bakal memperpanjang gencatan senjata antara AS dan Iran nan ditetapkan selama dua pekan.

Di tengah ketidakpastian tersebut, penduduk Iran berupaya mempertahankan kehidupan normal setelah berminggu-minggu dibom AS dan Israel. Bukan hanya itu, penindakan sadis terhadap para demonstran pada Januari 2026 menjadi bayang-bayang suramnya masa depan di negara tersebut.

Dikutip dari Reuters, Sabtu (18/4/2026), pembicaraan lebih lanjut antara AS-Iran diharapkan bakal menghasilkan perpanjangan masa gencatan senjata. Kondisi terkini, toko-toko, restoran, dan instansi pemerintah tetap buka di Iran.

Taman-taman kota ramai dengan family nan berpiknik dan anak muda nan bermain olahraga, sementara nan lain berkumpul di kafe-kafe pinggir jalan.

Namun, di kembali pemandangan tenteram tersebut, ekonomi Iran hancur lebur. Masyarakat ketakutan menghadapi tindakan keras pemerintah nan baru. Mereka juga marah dan sedih dengan serangan udara berkali-kali nan telah merusak rumah mereka. Kesulitan nan memicu kerusuhan massal pada Januari 2026 diprediksi bakal memburuk.

Menteri Luar Negeri Iran pada Jumat (17/4) mengatakan Selat Hormuz telah dibuka menyusul kesepakatan gencatan senjata untuk Lebanon, sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan dia percaya kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran bakal segera tercapai.

"Perang bakal berakhir, tetapi justru saat itulah masalah nyata kita dengan sistem dimulai. Saya sangat cemas jika rezim mencapai kesepakatan dengan AS, perihal itu bakal meningkatkan tekanan pada rakyat biasa," kata seorang laki-laki berumur 37 tahun berjulukan Fariba nan ikut serta dalam demonstrasi Januari lampau kepada Reuters melalui telepon dari Iran, dikutip Sabtu (18/4/2026).

"Rakyat belum melupakan kejahatan rezim pada Januari lalu, dan sistem belum melupakan bahwa rakyat tidak menginginkannya. Mereka menahan diri sekarang lantaran mereka tidak mau bertempur di dalam negeri juga," katanya.

Serangan AS-Israel terhadap Iran telah menewaskan ribuan orang, menurut jumlah korban resmi, termasuk banyak orang di sebuah sekolah pada hari pertama konflik. Serangan itu juga telah menghancurkan prasarana di seluruh negeri, meningkatkan prospek PHK massal.

Teokrasi revolusioner Iran tampak makin kuat setelah memperkuat dari serangan intensif selama berminggu-minggu dan menegaskan kendali atas pasokan minyak global.

"Rakyat Iran memahami bahwa perang ini tidak bakal menggulingkan rezim, tetapi pada saat nan sama, perang ini bakal membikin kehidupan mereka jauh lebih jelek secara ekonomi," kata Omid Memarian, analis Iran di lembaga think tank independen nan berbasis di AS, Dawn, dikutip dari Reuters.

"Militer tidak bakal meletakkan senjata mereka. Mereka bakal tetap di sini dan bakal terjadi pertumpahan darah. Ini bakal sangat mahal tanpa prospek masa depan nan lebih baik," tambahnya.

Di Teheran utara, Reuters juga mewawancarai penduduk Iran tentang perang dan kekhawatiran mereka. Media asing di Iran beraksi di bawah pedoman nan ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, nan mengatur aktivitas dan izin pers.

Mehtab, nan bekerja di sebuah perusahaan swasta dan meminta agar nama keluarganya tidak disebutkan, mengatakan bahwa keadaan bisa lebih jelek bagi penduduk Iran, mengingat akibat perang dan hukuman serta isolasi selama bertahun-tahun.

Warga Iran lainnya nan dihubungi Reuters melalui telepon, menyuarakan kekhawatiran nan jauh lebih besar saat berbincang secara anonim.

"Ya, orang-orang menikmati gencatan senjata untuk saat ini, tetapi apa nan bakal terjadi selanjutnya? Apa nan semestinya kita lakukan dengan rezim nan menjadi maka kuat?" kata Sara, 27 tahun, seorang pembimbing privat, nan menolak menyebut nama family alias lokasinya.

Amerika Tak Niat Bantu Warga Iran

Ribuan orang tewas ketika pihak berkuasa menumpas protes selama berminggu-minggu pada Januari lalu. Hal ini mendorong Trump sesumbar dia bakal membantu rakyat Iran.

Namun, meskipun Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sama-sama mengatakan di awal perang bahwa mereka berambisi perang itu bakal menggulingkan ustadz nan berkuasa, tujuan itu memudar seiring berjalannya perang.

Kemarahan atas penindakan tersebut membikin banyak penduduk Iran menginginkan penguasa baru, tetapi segera merasa kecewa dengan perang tersebut, kata Memarian.

"Saya pikir menjadi lebih jelas bagi banyak penduduk Iran bahwa perang ini tidak dirancang, alias tidak bertujuan, untuk membantu rakyat Iran," katanya.

Beberapa sumber Reuters merupakan wanita nan tidak mengenakan hijab. Aturan berpakaian nan lebih lenggang di tempat umum adalah hasil dari protes massal pada 2022 lalu, termasuk tentang hak-hak perempuan, nan ditindas secara sadis oleh pihak berkuasa sembari secara diam-diam mengurangi penegakan beberapa patokan berpakaian.

Analis politik Iran independen nan berbasis di Inggris, Hossein Rassam, mengatakan kejadian pada Januari lampau menunjukkan bahwa pihak berkuasa tidak bakal mudah mundur.

Perang dengan AS membikin penduduk Iran makin terpolarisasi, tetapi hanya sedikit pilihan nan mereka miliki.

"Ini adalah momen kalkulasi bagi penduduk Iran lantaran pada akhirnya penduduk Iran, terutama penduduk Iran di dalam negeri, menyadari bahwa mereka perlu hidup bersama. Tidak ada tempat untuk pergi," katanya.

Ketakutan Ditindas Rezim

Banyak penduduk Iran cemas penindasan sekarang bisa memburuk. "Di jalanan, wanita berkeliaran tanpa hijab, tetapi tidak jelas apakah kebebasan semacam ini bakal bersambung setelah kesepakatan dengan AS. Tekanan bakal meningkat 100%, lantaran begitu ada perdamaian dengan Washington, rezim tidak bakal lagi menghadapi tekanan eksternal nan sama," kata Arjang, seorang ayah dua anak berumur 43 tahun, kepada Reuters melalui telepon dari Teheran utara.

Protes pada Januari lampau tidak membawa perubahan nyata pada kehidupan masyarakat. Justru kejadian itu menyebabkan pihak berkuasa membatasi penggunaan internet secara ketat.

Hal ini menjadi pukulan bagi upaya dan orang biasa nan sangat memerlukan info selama perang.

"Bahkan hal-hal terkecil seperti berasosiasi dengan personil family kami nan tinggal di luar negeri pun tidak mungkin," kata Faezeh, 47, saat bermain voli dengan teman-temannya di sebuah taman di Teheran utara.

(fab/fab)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News