Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan meningkat setelah terlihat banyak kapal tanker nan melintas dengan sinyal terbuka.
Dikutip dari Bloomberg pada Selasa (23/6), terdapat tujuh kapal tanker di Selat Hormuz nan menyalakan sinyal terbuka. Dua di antaranya merupakan kapal berbendera non-Iran dengan muatan penuh.
Analis senior minyak mentah Kpler, Muyu Xu, menilai peningkatan lampau lintas tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan para pemilik kapal bahwa Iran tak bakal menyerang kapal nan melintasi Selat Hormuz.
Walau demikian, menurutnya lampau lintas di Selat Hormuz nan terjadi tanpa halangan tetap kudu dilihat progresnya ke depan.
Dalam kondisi normal, sekitar 135 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Kapal-kapal tersebut mencakup pengangkut minyak mentah, produk olahan minyak, gas alam, serta beragam muatan lain seperti komoditas curah, kontainer, dan ternak.
Mereka biasanya menggunakan sistem sinyal identifikasi otomatis (AIS) untuk menyiarkan posisi. Pada Selasa (23/6), seluruh kapal tanker nan terpantau menggunakan sistem tersebut.
Adapun transmisi AIS umumnya diwajibkan oleh perusahaan asuransi, lembaga pembiayaan, dan firma norma sebagai syarat pendukung aktivitas perdagangan. Beberapa perusahaan asuransi besar apalagi mewajibkan transponder tetap aktif agar perlindungan asuransi tetap berlaku.
Salah satu kapal nan sedang melintas adalah kapal tanker raksasa Very Large Crude Carrier (VLCC) Universal Glory. Kapal tersebut memasuki Selat Hormuz pada Selasa (23/6) pagi dari wilayah Teluk Persia dengan membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Arab Saudi. Kapal tersebut mengambil jalur di bagian tengah selat dan mencantumkan Korea Selatan sebagai tujuan akhir.
Dari arah sebaliknya, dua kapal tanker jenis Suezmax, Sarak dan Sobar sekarang sedang melakukan pelayaran menuju Teluk Persia setelah berangkat dari perairan dekat Pakistan. Sehari sebelumnya, satu VLCC non-Iran dan empat kapal LNG juga menyiarkan pelayaran mereka menuju area teluk.
Meskipun semakin banyak kapal nan mulai mengaktifkan sinyal selama melintas, sebagian kapal tetap memilih mematikan transponder pada sebagian perjalanan.
Kini, pemulihan kondisi di Selat Hormuz memang menjadi topik pembicaraan antara AS dan Iran di Swiss.
Kondisi tersebut juga telah membikin nilai minyak mentah Brent turun ke bawah USD 77 per barel pada Selasa (23/6). Adapun sebelum perang terjadi, nilai minyak mentah ada pada level USD 73 per barel. Hal itu menunjukkan akibat perang kepada nilai minyak mulai terkoreksi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·