Mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Kalimantan Barat, berinisial RY mengedit foto teman-temannya menggunakan teknologi deepfake menjadi foto tak senonoh. Komisi I DPR menyesalkan kasus deepfake vulgar ini.
"Komisi I DPR RI menyesalkan terjadinya praktik penyalahgunaan teknologi digital nan merendahkan martabat wanita dan menimbulkan keresahan di masyarakat," ujar Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, tindakan mengedit foto menggunakan teknologi deepfake untuk tujuan nan tidak senonoh merupakan pelanggaran etika dan moral serta berpotensi melanggar hukum. Ruang digital, terangnya, semestinya menjadi wadah nan sehat untuk penemuan dan kreativitas, bukan arena pemanfaatan nan merugikan kewenangan asasi manusia.
"Komisi I DPR RI mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk segera mengambil langkah konkret dalam memperkuat regulasi, pengawasan, dan literasi digital mengenai penggunaan teknologi deepfake," kata Dave.
Bagi Dave, krusial adanya sistem penemuan dini, penindakan tegas terhadap pelanggaran, serta edukasi publik agar masyarakat memahami akibat dan akibat dari penyalahgunaan teknologi ini.
"Komisi I DPR RI juga mendukung proses norma nan sedang melangkah di tingkat kampus maupun abdi negara penegak hukum, sesuai ketentuan perundang-undangan nan berlaku, termasuk UU ITE Nomor 11 Tahun 2008 jo. UU Nomor 19 Tahun 2016. Siapapun nan terbukti melakukan tindakan merugikan dengan teknologi digital kudu bertanggung jawab atas konsekuensinya," imbuhnya.
Dave mengatakan Komisi I DPR RI berkomitmen memperkuat kerja sama lintas sektor dalam menghadapi kejadian deepfake dan teknologi manipulatif lainnya. Dengan izin nan jelas, pengawasan nan ketat, serta literasi digital nan masif, bangsa ini dapat menjaga ruang digital tetap aman, sehat, dan berorientasi pada kepentingan rakyat.
Kronologi Terungkap Kasus Ini
Dilansir detikKalimantan, Jumat (15/5/2026), salah satu korban berinisial S menceritakan saat itu RY dan teman-temannya angkatan satu jurusannya sedang melakukan praktikum mata kuliah Sistematika Mikroba pekan lalu. Saat itu, kawan RY meminjam ponselnya untuk keperluan pengarsipan praktikum.
Setelah selesai memotret, kawan RY disebut membuka galeri untuk mengecek hasil pengarsipan praktikum. Namun, mereka justru menemukan banyak foto wanita nan dikenal tersimpan di dalam ponsel tersebut.
"Pas buka galeri, temannya heran kok banyak muka orang nan dia kenal. Pas dicek rupanya banyak sekali foto-foto tidak senonoh nan sudah diedit pelaku," katanya.
Beberapa hari kemudian, kasus tersebut akhirnya menyebar di media sosial dan grup percakapan mahasiswa. S mengaku terkejut saat bangun tidur dan mendapati grup percakapannya ramai membahas dugaan deepfake vulgar tersebut.
S mengungkap bahwa korbannya rata-rata adalah kawan dari RY, termasuk kawan SMA dan kawan kuliah satu bidang dan satu angkatan. Bahkan ada editan AI nan memperlihatkan pacar RY seolah sedang berkecupan dengan laki-laki lain.
Kasus Mulai Diusut Untan
Kasus ini mendapatkan atensi dari pihak kampus, ialah Untan. Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Untan memastikan kasus tersebut sudah ditangani.
"Sudah ditangani dan sedang dalam proses," kata Ketua Satgas PPKPT Untan, Emilya Kalsum, saat dikonfirmasi detikKalimantan.
Tak hanya itu, Emilya Kalsum mengatakan pihaknya telah memberikan pengarahan kepada ketua fakultas terlapor untuk menghentikan sementara aktivitas perkuliahan terlapor. Langkah tersebut dilakukan dalam rangka proses investigasi sekaligus menciptakan ruang kondusif bagi korban maupun terlapor selama penanganan kasus berlangsung.
"Dalam rangka penyelenggaraan proses investigasi serta pembuatan ruang kondusif bagi korban dan terlapor, Satgas PPKPT Untan telah memberikan pengarahan kepada ketua fakultas agar menghentikan sementara perkuliahan," kata Emilya saat dikonfirmasi
(isa/isa)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·