Ilustrasi(Dok Istimewa)
TRANSFORMASI digital di Indonesia menunjukkan percepatan nan signifikan. Sepanjang tahun 2025, ekonomi digital nasional diproyeksikan tetap tumbuh dua digit, didorong oleh peningkatan mengambil teknologi, penetrasi internet nan telah melampaui 75 persen populasi. Serta, semakin kuatnya peran creator economy dalam mempengaruhi perilaku konsumsi digital.
Pada awal tahun 2025, Indonesia mempunyai 143 juta pengguna media sosial aktif. Nilai pasar influencer marketing di Indonesia diproyeksikan mencapai USD 257 juta di tahun 2025, dengan pertumbuhan rata-rata 9,8 persen per tahun.
Namun dibalik pertumbuhan tersebut, tetap ditemukan rendahnya awareness terhadap produk digital lokal, keterbatasan distribusi, hingga minimnya support monetisasi bagi pembuat teknologi. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi digital saja belum cukup, melainkan perlu didorong oleh ekosistem baru nan bisa menjembatani talenta digital, kreator, dan produk teknologi agar tumbuh secara terintegrasi dan berakibat langsung pada percepatan mengambil serta pertumbuhan ekonomi digital.
Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Garuda Spark Innovation Hub, mengadakan aktivitas berjudul Tech Influencer Ecosystem. Program nan bekerja-sama dengan Ngalup.co ini datang pendekatan baru melalui konsep ‘Techfluencer’—sebuah pergeseran dari sekadar influence berbasis intermezo menuju influence nan berfokus pada edukasi teknologi, mengambil produk digital.
“Program ini juga memberikan akibat nyata terhadap pertumbuhan ekonomi digital. Berbeda dengan lifestyle influencer nan berorientasi pada awareness dan engagement. Techfluencer mendorong terciptanya pemahaman, penggunaan, hingga transaksi produk digital oleh audiens,” kata Irfan Rahmad Widiutomo, CEO Ngalup.co.
Program nan juga didukung oleh Jagoan Hosting ini dirancang untuk membangun ekosistem nan terintegrasi antara kreator, talenta digital, dan produk teknologi lokal.
“Melalui pendekatan ini, pembuat tidak hanya menjadi content creator, tetapi juga berkedudukan sebagai distribution engine bagi penemuan digital. Dengan memproduksi konten edukatif teknologi, mereka bisa menjembatani kesenjangan antara produk dan pengguna, sekaligus mempercepat mengambil teknologi di masyarakat,” kata dia.
Dalam implementasinya, program ini menargetkan peningkatan kapabilitas hingga 200 tech creator. Dimana 70 persen diantaranya konsisten memproduksi konten edukasi teknologi. Serta 60 persen bisa menyampaikan produk digital dalam format nan mudah dipahami.
“Dampaknya tidak hanya pada peningkatan literasi digital, tetapi juga pada aktivasi penggunaan produk digital, di mana ratusan pengguna baru diharapkan mulai mencoba solusi teknologi lokal nan diperkenalkan,” papar dia.
Lebih jauh, Techfluencer juga membuka kesempatan ekonomi baru melalui model monetisasi seperti hubungan SaaS, revenue sharing, hingga kerjasama dengan produk teknologi.
“Dengan skenario di mana apalagi sebagian mini audiens mengangkat produk digital, pengaruh nan dihasilkan dapat berupa peningkatan transaksi, pertumbuhan revenue startup, serta percepatan mengambil teknologi secara nasional,” papar dia.
Melalui pendekatan ini, *Techfluencer* tidak hanya membangun kreator, tetapi juga menciptakan multiplier effect bagi ekosistem digital, mengubah pembuat menjadi edukator, dan penemuan menjadi solusi nan betul-betul digunakan. Inilah langkah nyata untuk mendorong literasi digital nan berakibat langsung pada pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
“From Viral to Valuable, dari sekadar konten menjadi akibat nyata,” tandas dia.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital, Sonny Hendra Sudaryana menguraikan, penguatan ekosistem digital tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan memerlukan kerjasama lintas sektor nan bisa menghubungkan talenta, kreator, dan pelaku industri.
“Melalui program ini, kami mendorong lahirnya talenta-talenta nan tidak hanya mempunyai kompetensi teknologi, tetapi juga bisa menjadi penggerak mengambil digital di masyarakat. Inisiatif seperti Tech Influencer Ecosystem menjadi langkah strategis dalam memperluas literasi sekaligus mempercepat pemanfaatan produk digital nasional secara lebih inklusif dan berkelanjutan,” pungkas dia. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·