Kolaborasi PGN, BRIN dan Pemkab Batang Sukses Panen Raya 166,5 Ton Padi Biosalin

Sedang Trending 58 menit yang lalu
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq (keempat dari kiri), Perusahaan Gas Negara (PGN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Pemkab Batang melaksanakan panen raya Padi Biosalin sekitar 166,5 ton gabah kering di Batang pada Jumat (18/9/2026). Foto: Dok. Pertamina

Tantangan El Niño dan kondisi lahan pesisir nan mempunyai kadar garam (salinitas) tinggi tidak menghalangi produktivitas pertanian di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Kolaborasi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Pemerintah Kabupaten Batang sukses menghasilkan sekitar 166,5 ton gabah kering panen (GKP) dari budidaya Padi Biosalin dengan nilai ekonomi mencapai Rp 1,3 miliar.

Hasil tersebut dipanen dalam Panen Raya Padi Biosalin di Kabupaten Batang, Jumat (18/9), melalui program CSR Pengembangan dan Budidaya Varietas Padi Biosalin dan Minapadi Salin pada Kawasan Salinitas Tinggi.

Capaian tersebut menjadi relevan di tengah kondisi suasana nan menantang. Berdasarkan info Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), indeks ENSO rata-rata tiga bulanan periode Juli-September 2026 tercatat 2,6 alias berada pada kategori El Niño sangat kuat. Hingga Dasarian I September, sekitar 80,7 persen Zona Musim di Indonesia juga telah memasuki musim kemarau.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi sektor pertanian, terutama di area pesisir nan mempunyai keterbatasan air dan menghadapi salinitas akibat pengaruh air laut maupun rob. Di Batang, kondisi tersebut sebelumnya membikin sebagian lahan pesisir tidak produktif selama 6 tahun.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq, mengatakan perubahan iklim, abrasi, dan rob menjadi tantangan bagi keberlanjutan lahan pertanian pesisir. Menurutnya, diperlukan langkah penyesuaian dan mitigasi nan terintegrasi, termasuk melalui penemuan pertanian nan bisa beradaptasi dengan kondisi lahan salin.

Ia menilai pengembangan Padi Biosalin dan mina salin di Batang menunjukkan bahwa lahan dengan tingkat salinitas tinggi tetap dapat dimanfaatkan secara produktif melalui penerapan penemuan dan teknologi.

"Integrasi padi dan ikan juga rumput laut juga berpotensi menjadi model nan dapat dikembangkan sesuai karakter wilayah," ujar Hanif.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq dalam panen raya Padi Biosalin di Kabupaten Batang, Jumat (18/9/2026). Foto: Dok. Pertamina

Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, mengatakan tantangan perubahan suasana dan kondisi lingkungan pesisir memerlukan kerjasama lintas sektor.

"Kerja sama pemerintah, bumi usaha, lembaga riset, dan masyarakat dapat menghadirkan solusi nan sesuai dengan kebutuhan wilayah sekaligus memberikan faedah ekonomi, lingkungan dan masyarakat khususnya petani," kata M. Faiz.

Anggota Dewan Pengarah BRIN, Tri Mumpuni, menyampaikan bahwa keberhasilan panen kali ini adalah hasil dari gotong royong dan kerjasama semua pihak baik pemerintah, akademisi, badan usaha, dan masyarakat. Secara unik dia mengucapkan apresiasi kepada para petani nan gigih dan mau melangkah berbareng mengaplikasi hasil rekayasa teknologi ini menjadi faedah nyata buat masyarakat dan ketahanan pangan Batang.

Bangun Ekosistem Pesisir Berkelanjutan

Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, mengatakan pengembangan Padi Biosalin merupakan bagian dari komitmen PGN menjalankan program tanggung jawab sosial CSR dan lingkungan nan menciptakan faedah ekonomi sekaligus sosial bagi masyarakat.

Menurut Fajriyah, panen di Batang menunjukkan bahwa lahan nan sebelumnya tidak produktif dapat kembali dimanfaatkan dan memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat dan membuka lapangan kerja melalui penemuan dan kolaborasi.

Program Padi Biosalin di Batang merupakan bagian dari kerja sama PGN dan BRIN nan telah dikembangkan di sejumlah wilayah pesisir. Sejak Desember 2024 hingga saat ini, pengembangannya telah mencapai sekitar 232 hektare di Semarang, Jepara, dan Batang.

Di Semarang, pengembangan dimulai pada Desember 2024 di wilayah pesisir Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu. Dari tahap awal seluas 20 hektare, pengembangan berdikari terus melangkah sampai mencapai sekitar 180 hektare.

Sementara di Jepara, pengembangan dimulai pada September 2025 dengan penanaman 400 kilogram bibit pada lahan awal seluas 5 hektare. Luasan kemudian diperluas menjadi sekitar 20 hektare dan telah mencapai panen pada lahan sekitar 22 hektare dengan produktivitas 6–8 ton per hektare.

Model tersebut juga mulai direplikasi di wilayah lain. Bibit Padi Biosalin 1 nan dikembangkan di Semarang telah diperluas ke Kabupaten Kendal dengan luasan sekitar 353 hektare.

Langkah mitigasi terhadap tantangan perubahan suasana juga dilakukan PGN melalui penguatan ketahanan pangan pesisir dengan upaya menjaga ekosistem. Sejak 2024, PGN grup turut mendukung penanaman sekitar 14 ribu mangrove di wilayah Batang, Kendal, dan Semarang untuk mendukung keberlanjutan lingkungan pesisir.

Fajriyah mengatakan pengalaman dari pengembangan di beragam wilayah menunjukkan pentingnya menyesuaikan model budidaya dengan karakter lahan dan kebutuhan masyarakat. Karena itu, PGN berbareng BRIN terus mendorong replikasi penemuan tersebut ke wilayah pesisir lainnya.

Melalui pengembangan tersebut, PGN berambisi Padi Biosalin dapat menjadi salah satu model pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan produktivitas lahan pesisir sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.

"Dari lahan nan menghadapi keterbatasan, kita tumbuhkan produktivitas. Dari inovasi, kita hadirkan solusi. Dan melalui kolaborasi, kita ciptakan keberlanjutan nan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat," tutup Fajriyah.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan