Mahasiswa dari beragam perguruan tinggi di Jabodetabek turun ke jalan untuk menyuarakan kritik terhadap kondisi ekonomi dan sejumlah kebijakan pemerintah nan dinilai semakin membebani masyarakat. Sebelum tindakan digelar di area Bundaran HI, mereka terlebih dulu menggelar konsolidasi terakhir di Universitas Indonesia (UI), Depok, pada Rabu (10/6/2026) malam.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Yatalathof Ma’shum Imawan alias Athof mengatakan, tindakan tersebut merupakan puncak dari beragam upaya penyampaian kritik nan selama ini dilakukan mahasiswa. Menurut dia, pemerintah dinilai tidak memberikan respons nan memadai terhadap beragam masukan nan telah disampaikan.
“Kami memandang memberi kesempatan dan waktu (untuk pemerintah) sudah terlalu lama kita coba. Karena kritik lewat info juga sudah disampaikan dan selalu diabaikan, lebih-lebih lantaran pemerintah memilih mengelak alih-alih bertanggung jawab,” kata Athof dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).
Athof menilai kondisi ekonomi nan dirasakan masyarakat saat ini tidak sejalan dengan nomor pertumbuhan ekonomi nan kerap dipaparkan pemerintah. Menurutnya, beragam persoalan nan dihadapi masyarakat tetap terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Dia menyoroti kenaikan nilai kebutuhan pokok, terbatasnya lapangan pekerjaan, hingga beban pajak nan dinilai semakin memberatkan masyarakat.
“Kenyataan nan kita hadapi sekarang adalah ekonomi hanya tumbuh di atas kertas, tapi di meja makan rakyat tidak ada nan berubah. Harga beras naik, lapangan kerja menyempit, rakyat dihajar pajak,” ungkap Athof.
Selain persoalan ekonomi, mahasiswa juga mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah nan dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Dalam konsolidasi tersebut, mereka menyoroti beragam rumor mulai dari kebijakan perpajakan bagi pelaku UMKM, tata kelola sektor pertambangan, hingga rumor militerisme di ruang sipil dan kampus.
Menurut Athof, akumulasi beragam persoalan itulah nan mendorong mahasiswa memilih turun langsung ke jalan untuk menyampaikan aspirasi.
“Semua itu nan membikin kami kudu turun ke jalan,” katanya.
Ketua Departemen Aksi dan Propaganda BEM UI, Albani Hilmi menambahkan, mereka membawa lima tuntutan dalam demo. Mulai dari penghentian pemborosan anggaran APBN, menurunkan nilai BBM, menurunkan nilai kebutuhan pokok, memberhentikan program MBG, penghentian program Kopdes. Selain itu, BEM UI turut menuntut penghentian adanya militerisasi di ranah sipil.
"Kita meminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengakui kesalahannya dan juga menyadari bahwa beliau sedang salah gitu," tegas Albani.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·