
Huang Hua dan suaminya, Tjandra Budi Darmawan. (Foto: Instagram/susysusantiofficial)
KLATEN – Pada era 90-an, nama Susy Susanti dan Huang Hua adalah agunan duel maut di atas lapangan bulu tangkis. Namun, waktu telah mengubah sabetan raket nan tajam menjadi pelukan hangat nan penuh kekeluargaan.
Hal ini terbukti saat legenda tunggal putri Indonesia, Susy Susanti, menempuh perjalanan menuju Klaten, Jawa Tengah, demi menghadiri hari spesial putra dari mantan rival terberatnya tersebut.
Kehadiran Susy di pernikahan Michael Tjandra, putra sulung Huang Hua, menjadi simbol bahwa sportivitas sejati tidak berhujung saat wasit meneriakkan laga berakhir. Di kembali sejarah panjang persaingan mereka, terselip benang merah persahabatan nan melintasi pemisah negara dan kompetisi.
1. Rivalitas Sengit
Bagi para pecinta bulu tangkis lawas, Huang Hua adalah sosok "tembok" besar dari China nan susah ditembus. Pemegang gelar juara Piala Dunia 1991 ini telah berjumpa Susy sebanyak 13 kali di beragam turnamen bergengsi.
Susy Susanti dan Huang Hua
Meski Susy unggul dengan sembilan kemenangan, setiap pertemuan mereka selalu menyajikan drama bentuk dan mental nan luar biasa, termasuk final All England 1990 nan tak terlupakan.
Menariknya, takdir membawa Huang Hua menetap di tanah air rivalnya. Sejak menikah dengan Tjandra Budi Dharmawan pada 1993, dia memilih menjadi WNI dan membangun kehidupan nan jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, ialah di Klaten.
Keputusannya menetap di Indonesia inilah nan perlahan menyambung kembali komunikasi dengan Susy dalam konteks nan jauh lebih personal.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari
Follow
Berita Terkait
Telusuri buletin Sport lainnya
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·