Dari kejauhan, Rahmat Hidayat (32) tampak sibuk berdiri di tepian tambak udang vaname di area Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (28/7).
Bersama sejumlah penduduk bimbingan lainnya, dia bahu-membahu memanen udang nan telah mereka rawat selama berbulan-bulan. Sesekali, Rahmat menarik jaring dari tengah tambak hingga mengelilingi area tersebut.
Beberapa bulan lalu, Rahmat belum mengetahui apa pun tentang budidaya udang. Kini, penduduk bimbingan Lapas Kelas IIA Nusakambangan itu memahami nyaris seluruh prosesnya, mulai dari menyiapkan kolam hingga panen raya.
“Saya di sini dari bulan Januari, dari pengangkatan kincir sampai penebaran bibit udang dan hingga sampai sekarang panen raya,” kata Rahmat saat ditemui di lokasi.
Sebelum diterjunkan ke letak budidaya, Rahmat lebih dulu menjalani sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP).
Setelah dinyatakan layak mengikuti program pembinaan, Rahmat berbareng penduduk bimbingan lainnya mulai membangun tambak dari awal. Mereka mengangkat kincir air, membersihkan kolam, menebar benih, hingga merawat ribuan udang vaname selama berbulan-bulan.
Belajar Merawat Udang hingga Malam
Rutinitas Rahmat dan penduduk bimbingan lainnya dimulai sejak pukul 06.00 WIB. Saat udang tetap berumur satu hingga dua bulan, pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari, ialah pagi, siang, dan sore.
Namun, ketika udang memasuki usia tiga bulan, pekerjaan menjadi lebih padat.
“Kalau sudah umur tiga bulan, kami sampai jam 6 sore, terus kembali lagi (ke letak tambak) jam 10 malam buat pemberian pakan,” ujarnya.
Karena pekerjaan berjalan hingga malam, Rahmat dan rekan-rekannya tidak kembali ke lapas setiap hari. Mereka tinggal di mes nan telah disediakan di sekitar area tambak agar dapat memantau kondisi kolam dan memastikan pertumbuhan udang tetap optimal.
Di sela pekerjaannya, Rahmat menyadari pengalaman tersebut lebih dari sekadar mengisi waktu selama menjalani masa pidana. Baginya, setiap hari di tambak menjadi kesempatan mempelajari keahlian nan kelak bisa menjadi bekal setelah bebas.
“Insyaallah menjadi bekal saya. Mungkin nambah skill, pengalaman saya bekerja di sini. Tahu tentang udang, pemberian pakan udang, obat-obatan udang,” katanya.
Rahmat mengaku belum mempunyai modal untuk membuka upaya tambak sendiri. Namun, dia percaya pengalaman nan diperolehnya di Nusakambangan dapat menjadi nilai tambah saat mencari pekerjaan nanti.
“Kalau untuk masuk lagi di perusahaan tambak di luar, mungkin sudah ada bekal, sudah ada pengalaman,” ujarnya.
Sisihkan Premi untuk Keluarga
Selama mengikuti program pembinaan, Rahmat memperoleh premi sebesar Rp25 ribu per hari nan dibayarkan setiap pekan.
Sebagian duit tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari, sementara sisanya dikirimkan kepada keluarganya di Bengkulu.
“Kalau ada lebihnya kami transfer ke luar melalui bapak nan jaga, minta tolong transferkan ke keluarga,” tuturnya.
Di kampung halamannya, dua anak Rahmat menunggu kepulangannya. Meski terpisah jarak, komunikasi tetap terjalin melalui akomodasi wartel unik (Wartelsus) nan disediakan pihak lapas.
“Alhamdulillah di sini pihak lapas memberikan akomodasi Wartelsus. Kadang dikasih waktu 10 menit, kadang 15 menit per orang untuk menghubungi keluarga,” katanya.
Bagi Rahmat, setiap panggilan telepon menjadi penyemangat untuk terus menjalani pembinaan. Ia berambisi ketika masa pidananya berakhir, dirinya dapat kembali ke tengah family dengan membawa keahlian nan telah dipelajari selama bekerja di tambak udang vaname Nusakambangan.
“Di sini satu program bimbingan untuk penduduk bimbingan seperti kami. Mengerjakan seperti ini buat bekal pulang nanti,” ucap Rahmat.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·