Perang AS-Iran Makan Korban Baru: India

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan ekonomi India diperkirakan bakal melambat signifikan pada tahun fiskal 2026/2027. Hal ini seiring melemahnya investasi swasta dan meningkatnya tekanan akibat lonjakan nilai minyak dunia nan dipicu bentrok di Timur Tengah, seperti perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap 42 ekonom, produk domestik bruto (PDB) India diproyeksikan hanya tumbuh 6,6%, turun dari 7,7% pada tahun fiskal sebelumnya. Ekonom India di Societe Generale, Kunal Kundu, menilai nomor pertumbuhan resmi kemungkinan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi riil.

"Kami meyakini nomor utama tersebut kemungkinan melebih-lebihkan laju aktivitas ekonomi nan sebenarnya," ujar Kundu, seperti dikutip Selasa (28/7/2025).

Menurutnya, kenaikan investasi dan akumulasi persediaan memang menopang pertumbuhan. Tetapi, distorsi pengukuran membikin kondisi ekonomi terlihat lebih kuat dibandingkan esensial nan sebenarnya.

Survei Reuters nan dilakukan pada 21-27 Juli juga memperkirakan ekonomi India hanya bakal pulih secara berjenjang dengan pertumbuhan 6,8% pada tahun fiskal 2027/2028. Perlambatan ini terjadi ketika perekonomian terbesar ketiga di Asia tetap berjuntai pada shopping pemerintah sementara investasi swasta dinilai belum pulih secara berkelanjutan.

Meski info resmi menunjukkan investasi swasta tumbuh 10,8% pada kuartal Januari-Maret, banyak ahli ekonomi meragukan tren tersebut dapat bertahan. Pelaku upaya tetap menahan ekspansi lantaran ketidakpastian permintaan domestik, sehingga berpotensi membatasi pembuatan lapangan kerja.

Kepala Ekonom India Morgan Stanley, Upasana Chachra, mengatakan prospek pertumbuhan dunia nan melemah, perlambatan perdagangan, serta lesunya konsumsi dan investasi domestik dapat mengurangi insentif perusahaan untuk memperluas kapabilitas produksi. Menurutnya, banyak perusahaan tetap menunda shopping modal berskala besar meski support kebijakan telah tersedia.

Tekanan terhadap ekonomi India juga datang dari lonjakan nilai minyak mentah bumi setelah bentrok nan melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Sebagai negara nan mengimpor sekitar 90% kebutuhan minyak mentahnya, India sangat rentan terhadap kenaikan biaya daya nan berkepanjangan.

Harga minyak nan lebih tinggi telah meningkatkan biaya bahan bakar dan transportasi, sehingga memicu akibat inflasi sekaligus menekan konsumsi domestik. Kondisi tersebut membikin Reserve Bank of India (RBI) menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara menopang pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi.

Mayoritas ahli ekonomi dalam survei Reuters memperkirakan RBI bakal mempertahankan suku kembang acuannya pada pertemuan kebijakan Agustus sembari mengevaluasi akibat kenaikan nilai daya terhadap inflasi. Analis BofA juga memperkirakan bank sentral bakal tetap menahan suku kembang dan mempertahankan konsentrasi pada pengendalian inflasi di tengah ketidakpastian prospek pertumbuhan ekonomi.

(tfa/sef/tfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News