Kisah Perempuan Tangguh di Kebun Solok Selatan dan Harapan Keluarga

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Solok Selatan -

Pagi belum terlalu tinggi ketika aktivitas di kebun mulai berjalan. Di antara barisan tanaman nan membentang di Solok Selatan, para pekerja menjalankan tugas masing-masing.

Di tengah aktivitas itu, ada perempuan-perempuan nan turut mengisi beragam pekerjaan di lapangan. Mereka melakukan penyemprotan, mengoperasikan mini traktor pembawa cairan semprot, merapikan buah hasil panen hingga mengoperasikan ekskavator.

Pekerjaan tersebut dijalani dengan keahlian dan tanggung jawab masing-masing. Di luar kebun, mereka juga mempunyai family nan kudu diperhatikan, anak nan dibesarkan, serta angan nan mau diwujudkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah Perempuan Tangguh di Kebun Solok Selatan dan Harapan KeluargaKisah Perempuan Tangguh di Kebun Solok Selatan dan Harapan Keluarga Foto: Mega Putra Ratya/detikcom

Salah satunya Yusmi. Perempuan berumur 50 tahun ini sudah 14 tahun bekerja sebagai aplikator semprot PT Kencana Sawit Indonesia (PT KSI) Wilmar Group.

Bertahun-tahun Bekerja, Menyaksikan Anak Meraih Mimpi

Sebagai aplikator semprot, Yusmi bekerja melakukan pengendalian gulma dan (benih)penyakit di area perkebunan menggunakan bahan kimia. Dalam menjalankan tugasnya, dia didampingi operator Ginga alias mini traktor untuk membantu proses penyemprotan pada sekitar piringan tanaman.

Karena bekerja dengan bahan kimia, keselamatan menjadi bagian krusial dalam aktivitas Yusmi. Ia diwajibkan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, mulai dari respirator alias masker filter, kacamata pengaman (goggles), apron rapat air, sarung tangan karet panjang hingga sepatu boot.

Perlengkapan tersebut digunakan selama bekerja di lapangan sebagai bagian dari standar K3 untuk mengurangi akibat paparan bahan kimia.

Dalam sehari, Yusmi berbareng timnya dapat menyelesaikan penyemprotan di lahan sekitar 13 hektare, apalagi bisa mencapai 14 hektare. Ketika hujan turun, pekerjaan dihentikan dan baru dilanjutkan setelah kondisi cuaca memungkinkan.

Selama belasan tahun bekerja di lapangan, Yusmi mengaku tidak mengalami hambatan berfaedah meski sekarang usianya sudah 50 tahun.

"Alhamdulillah, di usia kepala lima ini saya merasa tetap sangat kuat dan tidak menghadapi hambatan apa pun saat bekerja di lapangan," kata Yusmi.

Kisah Perempuan Tangguh di Kebun Solok Selatan dan Harapan KeluargaKisah Perempuan Tangguh di Kebun Solok Selatan dan Harapan Keluarga Foto: Mega Putra Ratya/detikcom

Bagi Yusmi, pekerjaan itu bukan sekadar rutinitas. Ada perjalanan panjang keluarganya nan ikut tumbuh dari hasil kerja di kebun.

Suaminya juga bekerja di PT KSI sebagai pemanen. Anak laki-laki dan menantunya pun bekerja di lingkungan nan sama.

Kini, anak-anak Yusmi sudah mandiri. Anak bungsunya apalagi telah menyelesaikan pendidikan dan bekerja sebagai perawat di Kalimantan.

Selama bertahun-tahun, Yusmi dan suaminya membiayai pendidikan anak-anak mereka dari penghasilan nan diperoleh dari bekerja di perkebunan.

"Seluruh biaya sekolah anak-anak saya sejak dulu murni berasal dan dibiayai dari hasil keringat kami bekerja di perusahaan perkebunan ini," tuturnya.

Penghasilan tersebut juga disisihkan untuk tabungan. Dari hasil menabung, Yusmi dan suaminya dapat membangun rumah pribadi dan mempunyai kebun sawit berdikari meski dalam skala kecil.

Bagi Yusmi, hasil kerja selama bertahun-tahun memberikan rasa kondusif untuk menghadapi masa depan.

"Bagi kami, faedah nan paling dirasakan selama bekerja di sini tidak hanya sebatas keahlian membiayai sekolah anak-anak hingga sukses. Lebih dari itu, perusahaan memberikan kepastian kesejahteraan nan membikin kami bisa mempersiapkan masa depan dan hari tua dengan sangat baik," ujarnya.

Menjaga Ritme di Tengah Aktivitas Panen

Cerita lainnya datang dari Aisyah. Selama 14 tahun bekerja, dia terbiasa membantu merapikan buah sawit nan telah dipanen agar lebih mudah dihitung dan kemudian diangkut ke truk.

Kisah Perempuan Tangguh di Kebun Solok Selatan dan Harapan KeluargaKisah Perempuan Tangguh di Kebun Solok Selatan dan Harapan Keluarga Foto: Mega Putra Ratya/detikcom

Pekerjaan itu memerlukan tenaga sekaligus teknik nan tepat. Aisyah memahami gimana mengatur aktivitas tubuh agar pekerjaan dapat dilakukan dengan baik tanpa membikin tubuh sigap lelah.

"Tekniknya jangan bertumpu pada perut, kelak sakit jika kelamaan. Kuatkan di kaki dan tangan," kata Aisyah.

Bobot tandan buah nan ditanganinya pun beragam. Ada nan berada di kisaran 5-10 kilogram, sementara tandan berukuran besar bisa mencapai sekitar 40 kilogram.

Aisyah bekerja merapikan tandan-tandan tersebut. Setelah itu, proses pengangkatan dilakukan menggunakan ekskavator.

"Satu tandan 5-10 kilogram, ada nan besar 40 kilogram. Saya hanya rapikan saja, kelak diangkat pakai ekskavator," ujarnya.

Empat belas tahun pengalaman membikin Aisyah terbiasa membaca situasi di lapangan dan mengatur tenaga. Keterampilan tersebut terbentuk dari pekerjaan nan dijalaninya setiap hari.

Belajar Mengoperasikan Mini Traktor dari Nol

Sementara itu, Yudiana Fera baru dua tahun menjalani pekerjaannya sebagai operator mini traktor.

Yudiana bekerja mengoperasikan Ginga untuk membawa cairan semprot nan digunakan dalam pengendalian gulma dan (benih)penyakit di area perkebunan. Seperti pekerja nan menangani penyemprotan, dia juga berhadapan dengan akibat paparan bahan kimia sehingga penggunaan APD menjadi bagian wajib dalam pekerjaannya.

Saat bertugas, Yudiana menggunakan APD komplit berupa respirator alias masker filter, kacamata pengaman (goggles), apron rapat air, sarung tangan karet panjang dan sepatu boot. Perlengkapan itu digunakan untuk mendukung penerapan K3 dan melindungi dirinya selama bekerja di lapangan.

Kesempatan menjadi operator datang ketika supervisornya menyampaikan bahwa perusahaan memerlukan operator perempuan. Yudiana memandang kesempatan tersebut sebagai tantangan nan mau dicoba.

Sebelumnya, dia belum mempunyai keahlian mengoperasikan traktor. Ia kemudian mengikuti training selama sekitar satu minggu berbareng operator nan lebih berpengalaman.

Pelatihan awal dilakukan di area nan datar. Setelah dinilai mampu, Yudiana mulai dipercaya mengoperasikan unit di lapangan, termasuk membawa air dan tangki Tedmon.

Medan perkebunan menjadi tantangan tersendiri. Ada jalan menanjak, turunan hingga area terasan nan cukup sempit sehingga memerlukan konsentrasi ketika mengendalikan mesin.

"Di area terasan nan mini itu, mengendalikan tuas alias kendali Ginganya memang terasa lebih payah dan memerlukan konsentrasi tinggi," tuturnya.

Bagi Yudiana, pekerjaan tersebut juga menuntut kehati-hatian. Ia kudu memahami kondisi medan dan memastikan setiap aktivitas dilakukan dengan memperhatikan keselamatan.

Jika menemukan jalur nan dinilai terlalu ekstrem, dia memilih melaporkan kondisi tersebut kepada atasan.

"Jika sekiranya jalur nan bakal dilewati terlalu ekstrem dan tidak sanggup, kami wajib melapor secara jujur kepada pemimpin bahwa areanya tidak terjangkau demi keselamatan kerja," katanya.

Pekerjaannya biasanya selesai sekitar pukul 15.00 WIB. Setelah itu, Yudiana kembali ke rumah dan menjalankan aktivitas sebagai istri dan ibu.

Anaknya saat ini tetap duduk di bangku SMA di Solok Selatan. Ada waktu nan kudu dibagi antara pekerjaan di lapangan dan keluarga.

Menatap Masa Depan dari Balik Kemudi Ekskavator

Kisah Perempuan Tangguh di Kebun Solok Selatan dan Harapan KeluargaKisah Perempuan Tangguh di Kebun Solok Selatan dan Harapan Keluarga Foto: Mega Putra Ratya/detikcom

Bagi Wahidah Nurhayati, kesempatan bekerja sebagai operator ekskavator menjadi ruang untuk mendapatkan pengalaman baru.

Perempuan berumur 25 tahun asal Pariaman itu sudah dua tahun mengoperasikan perangkat berat di PT KSI. Sebelumnya, dia bekerja di bagian maintenance mower alias pemotongan rumput.

Kini, pekerjaannya meliputi pembuatan parit, mengangkut buah sawit, membersihkan cabang hingga stacking.

Wahidah memang menyukai aktivitas di luar ruangan. Ia juga mempunyai kegemaran offroad dan menjelajah alam.

Ketika mendapat kesempatan untuk belajar mengoperasikan ekskavator, dia memilih mengambilnya. Bagi Wahidah, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses untuk mengembangkan keahlian di lapangan.

"Saya berterima kasih lantaran diberikan kesempatan ini," ujarnya.

Ia pun mempunyai cita-cita untuk terus berkembang dalam pekerjaannya, apalagi berambisi suatu saat dapat menjadi manajer.

"Saya berambisi pengalaman nan didapat di lapangan dapat membawa saya mewujudkan cita-cita menjadi manajer," katanya.

Keempat wanita tersebut mempunyai pekerjaan dan perjalanan nan berbeda. Yusmi dan Aisyah telah 14 tahun menjalani pekerjaan di lapangan, sementara Yudiana dan Wahidah tetap membangun pengalaman melalui keahlian nan mereka pelajari.

Namun, pekerjaan bagi mereka mempunyai makna nan lebih luas dari sekadar aktivitas sehari-hari.

Ada pendidikan anak nan kudu dipenuhi, kebutuhan family nan kudu dicukupi, masa depan nan perlu dipersiapkan, hingga cita-cita pribadi nan mau diwujudkan.

Yusmi telah memandang anak-anaknya tumbuh mandiri. Aisyah mengandalkan pengalaman untuk menjaga ritme kerja. Yudiana terus mengasah kemampuannya mengoperasikan mini traktor, sementara Wahidah menatap perjalanan pekerjaan nan tetap panjang.

Di kebun Solok Selatan, mereka menjalani hari dengan pekerjaan masing-masing. Dari sana pula, sedikit demi sedikit, mereka membangun kehidupan nan mau mereka bawa pulang untuk keluarga.

Bagi mereka, setiap hari di kebun bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan. Ada family nan menjadi argumen untuk terus melangkah dan ada angan nan mau diwujudkan dari setiap kerja nan dilakukan.

(ega/akn)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News