Kisah Perburuan Kahar Muzakkar, Pemberontak yang Disebut-sebut Kebal dan Bisa Hilang

Sedang Trending 5 bulan yang lalu

Arief Setyadi , Jurnalis-Kamis, 19 Februari 2026 |03:30 WIB

Kisah Perburuan Kahar Muzakkar, Pemberontak nan Disebut-sebut Kebal dan Bisa Hilang

Kisah Kahar Muzzakar (Foto: Ist)

JAKARTA - Menjelang akhir Ramadhan, tepatnya 2 Februari 1965, empat kompi dari Batalyon Infanteri 330/Para Kujang I Kodam Siliwangi dikerahkan dalam Operasi Kilat untuk mengepung area rimba di sekitar Sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara. Di wilayah inilah Abdul Kahar Muzakkar, tokoh pemberontak nan paling diburu pemerintah, terdeteksi keberadaannya.

Yonif 330/Para Kujang I berada di bawah komando Mayor Yogie S Memet dan diperbantukan Kodam Hasanuddin nan dipimpin Kolonel M Jusuf. Operasi pengepungan terhadap Kahar dipimpin Kolonel Solichin GP.

Operasi Kilat juga melibatkan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Keterlibatan pasukan elite Baret Merah ini dimaksudkan untuk mempersempit kesempatan pelarian Kahar beserta pengikutnya.

Seluruh akses di sekitar gunung nan menjadi tempat persembunyian pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Sulawesi Selatan itu dikepung.

Kahar Muzakkar disebut mempunyai kesaktian, konon bisa menghilang dan kebal terhadap peluru. “Tepat pukul 04.00 subuh, satu peleton pasukan Kujang I mulai bergerak melakukan penyelundupan senyap hingga jarak sangat dekat tanpa diketahui lawan,” kata Iwan Santosa dan EA Negara dalam kitab ‘Kopassus untuk Indonesia: Profesionalisme Prajurit Kopassus’, dikutip Rabu (18/2/2026).

Perjalanan Kahar hingga menjadi buronan negara berjalan panjang. Pria dengan nama mini La Domeng itu mulai menempuh jalan pemberontakan sejak 1952 dengan berasosiasi ke DI/TII buatan SM Kartosoewirjo.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com