Kisah Pedagang Sayur Keliling di Lampung Naik Haji, Nabung Rp 5-10 Ribu per Hari

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi pedagang sayur. Foto: NovArt/Shutterstock

Impian bertahun-tahun untuk naik haji nan dipendam pedagang sayur keliling berjulukan Adna Yusri (58) di Desa Karang Jaya, Merbau Mataram, akhirnya bakal terwujud tahun ini. Ia dijadwalkan berangkat haji pada 5 Mei 2026.

Perjalanan ini menjadi buah dari kerja keras dan ketekunannya selama puluhan tahun menabung. Ia setiap hari menyisihkan duit dalam jumlah kecil.

“Ya nabung dari duit kecil-kecil, kadang Rp 5 ribu, Rp 10 ribu. Kalau lagi ramai bisa sampai Rp 20 ribu per hari,” kata Adna.

Adna Yusri, pedagang sayur keliling di Lampung nan bakal berangkat haji 2026. Foto: Lampung Geh

Dengan omzet harian nan rata-rata di bawah Rp 100 ribu, dia tetap berupaya disiplin menabung. Baginya, konsistensi adalah kunci hingga tabungan tersebut perlahan terkumpul cukup untuk mendaftar haji.

Menurut Adna, cita-cita untuk berangkat ke Tanah Suci sebenarnya telah lama dia impikan, apalagi sejak sebelum menjadi pedagang sayur.

Saat tetap bertani, Adna pernah berambisi hasil kebunnya bisa membiayai keberangkatan haji. Namun, beragam kebutuhan family membikin angan itu sempat tertunda.

Adna Yusri, pedagang sayur keliling di Lampung nan bakal berangkat haji 2026. Foto: Lampung Geh

“Dulu nanam jati, nanam cokelat, pengennya buat naik haji. Tapi hasilnya lenyap untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau jual beli sayur ini walaupun kecil, tapi tiap hari ada pemasukan,” tuturnya.

Ingin Berangkat Haji dengan Istri

Di kembali kebahagiaan tersebut, tersimpan kesedihan mendalam. Adna kudu berangkat seorang diri tanpa ditemani sang istri, padahal dia sangat berambisi untuk berangkat bersama.

“Sebenarnya pengennya berangkat berdua. Tapi waktu itu belum cukup biaya. Istri saya nan menyuruh saya daftar duluan. Dia bilang, ‘Bapak saja nan berangkat, saya nggak apa-apa’,” katanya lirih.

Menurut Adna, keputusan tersebut bukanlah perihal nan mudah. Ia merasa sedih kudu meninggalkan istri nan telah berjuang bersamanya sejak awal. Namun, dia memilih pasrah dan menyerahkan semuanya kepada kehendak Tuhan.

“Kalau ingat itu saya sedih. Dari nol berjuang bersama, tapi berangkatnya sendirian. Tapi saya pasrah, jika Allah berkehendak, kelak istri saya juga bisa menyusul,” ujar Adna.

Adna berharap, setibanya di Tanah Suci, dia dapat memanjatkan angan terbaik bagi keluarga, terutama agar sang istri juga mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji.

“Semoga anak cucu, keluarga, tetangga, dan terutama istri saya bisa dipanggil juga ke Tanah Suci,” tutupnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan