Kecelakaan maut antara KRL Cikarang Line dan KA Argo Bromo Anggrek pada Senin (27/4) malam menyisakan luka mendalam bagi banyak keluarga.
Insiden nan terjadi sekitar pukul 21.00 WIB itu sontak memicu kepanikan di dalam gerbong, ketika tumbukan keras terjadi dan membikin suasana berubah gelap dan mencekam.
Di kembali nomor dan laporan kejadian, ada cerita-cerita tentang keluarga, harapan, dan kehilangan nan begitu dekat dengan keseharian. Salah satunya datang dari sosok Nuryati (62), seorang ibu nan dikenal hangat dan penuh perhatian bagi anak-anaknya.
Momen saat Nuryati Terjebak di KRL
Malam itu, Nuryati pergi ke Cikarang berbareng anaknya, Shofiah, serta cucunya nan berumur 5 tahun. Perjalanan ini dilakukan untuk menjenguk anak keduanya nan sedang sakit. Mereka menggunakan KRL seperti biasa. Namun nahas, perjalanan itu berubah menjadi tragedi nan tak pernah dibayangkan.
Sebelum tumbukan besar terjadi, KRL nan ditumpangi Nuryati sempat berakhir setelah muncul info adanya kereta nan menabrak mobil di letak nan sama. Nuryati dan Shofiah sempat turun untuk memastikan keadaan, lampau kembali masuk ke dalam gerbong.
Kurang dari lima menit kemudian, guncangan dahsyat terjadi. KRL tersebut tertabrak KA Argo Bromo Anggrek.
“Pintunya ketutup, lampu mati, semua panik,” kenang Shofiah pada kumparanMOM, Rabu (29/4).
Mereka terpencar, sang anak sempat jatuh sedangkan Nuryati dan Shofiah terombang ambil di dalam KRL.
Dalam kondisi gelap, penumpang berupaya mencari jalan keluar hingga akhirnya pintu sukses dibuka dengan support petugas keamanan.
Di tengah kepanikan itu, Shofiah lebih dulu menyelamatkan anaknya melalui jendela. Ia kemudian kembali untuk menolong sang ibu keluar dari gerbong.
Namun, setelah sukses dievakuasi, Nuryati tiba-tiba jatuh pingsan. Ia diketahui mempunyai riwayat penyakit jantung.
Meski sempat mendapat pertolongan dari orang-orang di lokasi, nyawa Nuryati tidak tertolong. Ia mengembuskan napas terakhir setelah proses evakuasi.
Mengenang Sosok Nuryati
Di rumah, Nuryati dikenal sebagai sosok ibu nan ramah dan aktif, termasuk dalam aktivitas PKK di lingkungannya. Ia meninggalkan tujuh orang anak, termasuk satu anak nan tengah bersiap menikah dalam waktu dekat.
“Aku mau menikah bulan Juni… tapi Mamah sudah nggak ada. Nanti siapa nan sebar undangan,” ucap sang anak lirih.
Sebetulnya pihak family berencana menikahkan sang anak di depan liang rahat, namun lantaran situasi nan sangat ramai akhirnya pihak family tidak jadi menikahkan dan menutuskan untuk tetap nikah di bulan Juni.
Sebuah kehilangan nan tak hanya menyisakan duka, tetapi juga ruang kosong nan susah tergantikan dalam sebuah keluarga.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·