Sayangnya, niat suci ini tak berujung manis. Agus Salim, dengan nilai diri nan tinggi, menolak tawaran tersebut. Baginya, support itu terasa seperti "hadiah" atas usul orang lain, bukan pengakuan murni pemerintah atas prestasinya.
Ia justru mencium aroma diskriminasi, katanya, kenapa dia baru dibantu setelah Kartini nan meminta?
"Kalau pemerintah mengirim saya lantaran rekomendasi Kartini, bukan lantaran kemauan pemerintah sendiri, lebih baik tidak," tegas Salim kala itu.
Penolakan tersebut mengubah arah sejarah keduanya. Agus Salim memutuskan tidak melanjutkan sekolah dan kelak menjadi diplomat jenius, menjadi Menteri Luar Negeri, "The Grand Old Man" Indonesia. Dia pun kelak mengambil posisi krusial dalam setiap perundingan di masa awal kemerdekaan Indonesia berbareng Soekarno dan Hatta.
Sementara itu, Kartini kudu menerima takdir lain. Pada November 1903, dia dipersunting Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.
Kartini memang akhirnya sukses membangun sekolah wanita di Rembang, namun mimpinya memandang Belanda tak pernah terwujud. Ia wafat di usia nan sangat muda, 25 tahun, tak lama setelah melahirkan putra tunggalnya, Soesalit.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·