
Marc Marquez berbareng sang kekasih, Gemma Pinto. (Foto: Instagram/marcmarquez93)
MADRID – Marc Marquez bukan lagi sosok remaja emosional nan hanya mengejar kecepatan tanpa batas. Di kembali deretan gelar juara bumi nan telah diraihnya, tersimpan kisah tentang seorang laki-laki nan sekarang kudu berbaikan dengan rasa sakit, keterbatasan fisik, dan keraguan bakal masa depannya di lintasan balap MotoGP.
Dalam pernyataan terbarunya, pembalap asal Spanyol ini membuka tabir sisi kemanusiaan nan selama ini tertutup oleh gambaran The Baby Alie" nan tak terkalahkan. Marquez menegaskan bahwa motivasi terbesarnya bukanlah sekadar mengendarai motor, melainkan adrenalin dari sebuah kompetisi.
"Saya tidak mempunyai ketergantungan pada motor, tetapi saya mempunyai ketergantungan pada kompetisi, pada kemenangan," ungkap Marquez, mengutip Tuttormotoriweb, Minggu (19/4/2026).
Bagi Marquez, sesi tes seringkali terasa membosankan, namun gairahnya bakal meledak seketika saat akhir pekan balap tiba. Tantangan untuk mengalahkan musuh dan melampaui pemisah diri sendiri adalah satu-satunya argumen nan membuatnya tetap memperkuat di grid MotoGP hingga saat ini.
1. Ketika Tubuh Mulai Menyerah
Perjalanan pekerjaan Marquez berubah drastis sejak cedera lengan nan berkepanjangan mulai menghantui. Ia mengenang momen kelam pada tahun 2022, di mana rasa sakit tidak hanya merenggut kemampuannya di lintasan, tetapi juga kemandiriannya dalam hidup sehari-hari.
Marquez mengaku sempat kesulitan apalagi untuk sekadar membawa kantong belanjaan ke meja. Kondisi bentuk nan rentan dan masalah penglihatan membuatnya berada di persimpangan jalan nan sangat krusial.
Marc Marquez
"Itu adalah salah satu dari sedikit momen di mana Anda bertanya pada diri sendiri: apakah masuk logika untuk melanjutkan alias tidak? Apakah penderitaan ini masuk logika alias tidak?" sambung Marquez.
Kesadaran hidup kudu terus melangkah di luar bumi balap akhirnya memaksa Marquez untuk mengambil keputusan radikal. Ia memilih untuk keluar dari area nyaman di Honda, tempat nan telah menjadi rumahnya selama 10 tahun, demi mencari motor nan bisa membuktikan apakah dia tetap mempunyai kapabilitas untuk bersaing di level tertinggi.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·