Kisah Anak-anak Duafa yang Merenda Asa Lewat Pendidikan di Sekolah Rakyat

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Kisah Anak-anak Duafa nan Merenda Asa Lewat Pendidikan di Sekolah Rakyat Para siswa tengah mengikuti salah satu aktivitas luar kelas di SRMP 13 Banyumas di Desa Ketenger, Baturraden.(MI/LILIK DARMAWAN)

INGATAN masa mini tetap tertancap di akal Dani Trianto, 14, ketika diajak orang tuanya ke Pasar Wage, Banyumas, Jawa Tengah. Dani mini berbareng orang tuanya berangkat ke Pasar Wage Purwokerto dengan naik pikulan dilanjutkan melangkah kaki dari rumahnya di Desa Dawuhan Wetan, Kecamatan Kedungbanteng. Jarak Pasar Wage Purwokerto dari rumahnya kurang lebih 15 kilometer (km).

Dani digendong bapaknya, Casim, nan tidak bisa melihat. Bapaknya digandeng ibunya, Risem, nan mengalami tuli sejak lahir. Kedua orang tuanya nan merupakan penyandang disabilitas itu tidak mempunyai pekerjaan tetap. Mereka biasanya ke pasar untuk meminta-minta.

Sejak kecil, Dani hidup dalam situasi nan penuh tantangan, terutama secara ekonomi akibat miskin ekstrem. Bahkan, dalam perihal komunikasi sehari-hari di lingkungan family juga mengalami kendala. Dani kudu berkomunikasi dengan orang tuanya nan difabel, sehingga perlu menggunakan bahasa dan kode tertentu.

Perjalanan sebagai siswa di Sekolah Dasar (SD) tidaklah mudah bagi Dani. Orang tuanya tidak mempunyai keahlian untuk mengajari mata pelajaran sekolah lantaran keterbatasan pendidikannya dan sebagai penyandang disabilitas. 

Di sekolah dia kudu menerima perundungan dari teman-temannya, lantaran kondisi orang tuanya. “Pernah diejek lantaran kondisi orang tua saya nan begitu. Saya juga sering tidak bisa belajar, lantaran memikirkan orang tua. Bahkan, orang tua tidak dapat mengajari pelajaran dari sekolah,” ungkap Dani saat ditemui pada Kamis (11/6) lalu.

Tetapi, Dani tidak patah arang. Ia tetap belajar. Ada tetangganya nan dengan sukarela memberikan waktunya untuk mengajari Dani agar tidak ketinggalan pelajaran di sekolah. Kebetulan tetangganya adalah seorang guru. Guru tersebut kerap datang langsung ke rumah untuk mengajarkan membaca dan berhitung. “Dulu ada pembimbing nan datang ke rumah, tetangga juga. Dia nan sering ngajarin saya membaca dan berhitung,” katanya.

Meski perjalanannya penuh onak dan duri, perjuangannya akhirnya membuahkan hasil. Dani bisa lulus SD. Sebetulnya, selepas SD, dia tetap bimbang mau melanjutkan sekolah alias tidak. Karena masalah ekonomi dan terpikir untuk membantu kedua orang tuanya dengan bekerja.

Niat putus sekolah urung dilakukan. Sebab, ketika lulus SD, pemerintah meluncurkan program Sekolah Rakyat. Ini merupakan program pendidikan berasrama cuma-cuma nan ditujukan unik bagi anak-anak dari family miskin ekstrem. Program ini betul-betul menjadi jawaban atas persoalan nan dihadapi Dani dan anak-anak miskin ekstrem lainnya, lantaran seluruh biaya siswa ditanggung, mulai dari biaya pendidikan, tempat tinggal, makan, pakaian, dan jasa kesehatan. Dan, Dani menjadi salah satu siswa nan terpilih untuk melanjutkan ke Sekolah Rakyat. 

Ketika masuk di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Banyumas nan berada di Kompleks UPT Kemensos Sentra Satria di Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Dani betul-betul bahagia. Dia menemukan angan baru setelah mendapatkan lingkungan belajar nan lebih kondusif. “Di sini saya merasa lebih nyaman lantaran bisa konsentrasi belajar tanpa gangguan, termasuk tanpa hinaan dari kawan sebaya,” ungkapnya.

Selain akademik, Dani juga aktif dalam aktivitas olahraga, terutama pencak silat. Ia apalagi sudah mulai mengikuti latihan secara rutin di sekolah. “Saya ikut pencak silat, sekarang tetap sabuk hijau,” katanya bersemangat.

Ketika ditanya tentang masa depan pendidikan, Dani mengaku mau melanjutkan hingga ke jenjang perguruan tinggi. Baginya, pendidikan adalah jalan untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. “Ingin kuliah sampai selesai,” ujarnya singkat.

Di lingkungan tempat belajar sekaligus tempat tinggalnya, Dani merasa lebih dihargai dan mempunyai kesempatan untuk berkembang. Ia juga menikmati beragam akomodasi nan tersedia serta suasana belajar nan lebih kondusif. “Di sini fasilitasnya cukup, teman-temannya juga baik,” ujarnya.

Anak Kembar

Kisah lainnya diungkapkan oleh anak kembar berjulukan Ahmad Hamdani dan Ahmad Rabani, penduduk Desa Kebumen, Kecamatan Baturraden. Dani, panggilan Ahmad Hamdani, dan Bani, panggilan Ahmad Rabani, mengalami masa mini nan tidak mudah.

Lahir hingga usia sekitar tujuh tahun, keduanya tinggal di Palembang. Kemudian mereka pindah ke Jawa lantaran ibunya meninggal dunia. “Waktu itu lagi ujian kelas 1 SD, terus kami pindah ke Jawa,” ujar Dani.

Setelah beranjak tempat tinggal, keduanya kemudian diasuh oleh tante mereka. Dalam satu rumah, mereka tinggal berbareng beberapa personil family lain. Kondisi itu membikin mereka kudu beradaptasi dengan lingkungan baru. “Dulu tinggal di Palembang, terus ibu tidak ada. Setelah itu ikut bude di sini (Banyumas),” tambahnya.

Mereka melewati masa-masa susah selama duduk di bangku SD. Begitu masuk ke SRMP 13 Banyumas, mereka mengaku hidupnya berubah. Sebelumnya, mau bangun jam berapa pun tidak ada nan marah. “Kalau dulu bangunnya bisa jam 12 siang. Sekarang lebih teratur,” ungkap Bani.

Dani dan Bani merasakan gimana perbedaannya berguru di SRMP 13 Banyumas. Rutinitas harian mereka sekarang dimulai sejak subuh dengan salat, dilanjutkan mengaji, olahraga, hingga bersih-bersih pondok sebelum berangkat sekolah. Setelah aktivitas belajar, aktivitas mereka diisi dengan ibadah, makan, hingga belajar malam dan refleksi diri. “Di sini lebih disiplin, lebih teratur. Kami lebih suka nan seperti ini,” jelasnya.

Mereka mengaku bakal terus giat belajar untuk bisa menjadi seorang polisi. Alasan mereka adalah polisi merupakan sosok nan gagah dan disiplin. Nilai-nilai itu pula nan sekarang mulai mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari. “Karena polisi itu gagah dan disiplin,” tambahnya.

Para siswa SRMP 13 Banyumas tak hanya dididik dalam pengetahuan pengetahuan semata, melainkan juga dalam membangun karakter dan saling memperhatikan satu sama lain. Seperti nan terlihat pada pekan lalu, para siswa berkumpul di Lapangan Futsal untuk melakukan aktivitas kedisiplinan.

Tiba-tiba, di bagian akhir ada lagu dari Jamrud nan berjudul Selamat Ulang Tahun. Ternyata, salah satu siswa berjulukan Ardian tengah merayakan ulang tahun. Para siswa menyanyi berbareng untuk mengucapkan selamat kepada Ardian. Ini merupakan tradisi sebagai upaya untuk mendekatkan para siswa agar semakin saling memahami dan memperhatikan.

Verifikasi Ketat

Kepala SRMP 13 Banyumas, Siti Isbandiyah, mengatakan kehadiran Sekolah Rakyat menjadi angan baru bagi anak-anak nan datang dari family miskin ekstrem. “Program nan diinisiasi Presiden Prabowo Subianto ini memberikan kesempatan memperoleh pendidikan nan layak, sekaligus berupaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pembentukan karakter dan pengasuhan nan intensif,” katanya saat berbincang dengan Media Indonesia.

Menurutnya, 50 siswa nan dididik oleh SRMP 13 berasal dari family nan masuk dalam Desil 1 dan 2 alias miskin ekstrem dan miskin sesuai Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

“Tujuan utama program tersebut adalah memberikan kesempatan kepada anak-anak agar dapat mengubah masa depannya melalui pendidikan. Kami mau memutus mata rantai kemiskinan. Anak-anak ini diharapkan tidak lagi mengalami kondisi nan sama dengan orang tuanya. Mereka kudu mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pendidikan nan baik, pengasuhan nan baik, dan masa depan nan lebih cerah,” jelasnya.

Berbeda dengan sekolah pada umumnya, penerimaan siswa di SRMP tidak dilakukan melalui sistem pendaftaran terbuka. Sekolah menerima siswa berasas info nan telah ditetapkan pemerintah melalui DTSEN.

“Data tersebut berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kemensos, kemudian ditindaklanjuti oleh Dinas Sosial di wilayah berbareng para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Semua info calon siswa sudah ada di pemerintah. Pendamping PKH dan Dinas Sosial nan melakukan verifikasi langsung ke lapangan,” katanya.

Proses verifikasi dilakukan secara detail. Tidak hanya memandang identitas keluarga, tetapi juga kondisi rumah, pekerjaan orang tua, hingga jumlah penghasilan keluarga. “Data nan dimiliki sangat rinci. Bahkan kondisi rumah, atap, lantai, dapur, dan jumlah personil family semuanya tercatat. Ada pengecekan langsung ke lapangan. Data itu betul-betul detail. Karena itu, sasaran program ini bisa lebih tepat,” katanya.

Selain family miskin dan miskin ekstrem, anak-anak yatim piatu juga menjadi golongan nan diprioritaskan untuk memperoleh jasa pendidikan di Sekolah Rakyat. “Banyak anak nan sudah tidak mempunyai orang tua dan hanya tinggal berbareng kakek, nenek, alias kerabatnya. Mereka menjadi salah satu golongan nan paling rentan dan memerlukan perhatian lebih,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, sebagian besar siswa nan masuk ke SRMP 13 Banyumas berasal dari lingkungan dengan beragam keterbatasan. Karena itu, banyak di antara mereka nan belum terbiasa dengan pola hidup disiplin dan kebiasaan-kebiasaan positif. “Bukan untuk merendahkan, tetapi memang kondisi nan kami temui di lapangan seperti itu. Ada anak nan belum terbiasa menjaga kebersihan, belum disiplin, dan belum mempunyai kebiasaan-kebiasaan baik dalam kehidupan mereka sehari-hari,” ujarnya.

Ia mencontohkan, dari sisi kesehatan, banyak siswa nan datang dengan beragam keluhan. “Ada nan sakit gigi, sakit mata, gangguan kulit, dan masalah kesehatan lainnya. Hal pertama nan kami lakukan adalah memastikan mereka sehat, bersih, dan siap belajar,” katanya.

Pihak sekolah kemudian bekerja sama dengan puskesmas dan tenaga kesehatan untuk menangani beragam persoalan kesehatan nan dialami siswa. “Kalau anak sehat, maka proses belajar dan pembinaan juga bisa melangkah dengan baik,” kata dia.

Tanpa Gawai 

Salah satu kebijakan nan diterapkan di Sekolah Rakyat adalah tidak memperbolehkan siswa membawa gawai. Pada awalnya, kebijakan tersebut sempat membikin para siswa merasa kesulitan. “Awalnya banyak nan bertanya kapan boleh menggunakan handphone. Namun sekarang mereka sudah terbiasa,” ujarnya.

Menurut Isbandiyah, tidak adanya telepon genggam justru memberikan akibat positif terhadap keahlian sosial anak. “Mereka jadi lebih banyak berbicara, bermain, dan berinteraksi secara langsung dengan teman-temannya. Mereka menemukan kembali langkah berkomunikasi nan lebih manusiawi,” katanya.

Bahkan, beberapa siswa mengaku merasa kurang nyaman ketika kembali ke rumah saat berkesempatan libur lantaran teman-temannya desanya nan lebih banyak bermain telepon genggam daripada berbincang secara langsung.

Meski begitu, pihak sekolah tetap memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkomunikasi dengan orang tua melalui akomodasi video call nan didampingi pembimbing dan wali asrama. “Kami membatasi penggunaan handphone, tetapi bukan berfaedah melarang anak berkomunikasi dengan keluarga,” ujarnya.

Untuk menghindari kejenuhan, pihak sekolah juga menyediakan beragam aktivitas di luar pembelajaran formal. Mulai dari aktivitas vokasional seperti memasak dan berkebun, training kebencanaan berbareng BPBD dan pemadam kebakaran, hingga aktivitas berbareng perguruan tinggi dan beragam komunitas.

Selain itu, siswa juga rutin mengikuti outing class ke sejumlah daerah. “Kami membujuk mereka ke Yogyakarta, Kebumen, Banjarnegara, dan beberapa tempat lainnya. Ada juga aktivitas menonton movie bersama. Bagi sebagian siswa, pengalaman tersebut menjadi momen nan tidak terlupakan. Karena ternyata, ada anak nan baru pertama kali masuk pusat perbelanjaan dan naik eskalator,” ujarnya.

Saat ini, SRMP 13 Banyumas didukung 12 pembimbing dan 15 wali pondok nan mendampingi para siswa secara intensif. Setiap wali pondok mendampingi sekitar 10 siswa sehingga proses pengasuhan dan pembinaan dapat dilakukan secara lebih mendalam.

Membangun Karakter

Ketika pertama kali masuk, pihak sekolah melakukan survei kecil-kecilan. Salah satu temuan nan cukup mengejutkan bagi pihak sekolah adalah rendahnya kebiasaan beragama di kalangan siswa.

Karena kebetulan para siswa nan masuk SRMP 13 Banyumas semuanya muslim, maka Isbandiyah menanyakan kepada para siswa tentang kebiasaan melaksanakan salat lima waktu.
“Dari 50 siswa, nan mengaku rutin salat lima waktu hanya dua orang. Itu menjadi perhatian besar bagi kami,” katanya.

Kondisi tersebut mendorong pihak sekolah menjadikan pendidikan kepercayaan sebagai fondasi utama pembentukan karakter. “Kami mau anak-anak memahami siapa Tuhannya, memahami nilai-nilai kehidupan, dan menyadari bahwa ibadah merupakan kebutuhan, tidak hanya kewajiban,” ujarnya.

Setiap hari, siswa dibangunkan sekitar pukul 04.00 WIB untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah, dilanjutkan mengaji berbareng ustaz nan didatangkan secara unik oleh sekolah. “Awalnya mungkin mereka merasa terpaksa. Tetapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan mudah-mudahan menjadi kebutuhan dalam hidup mereka,” katanya.

Selain pendidikan agama, sekolah juga menerapkan program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat nan dicanangkan pemerintah. Yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, doyan belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Dalam praktiknya, aktivitas siswa dimulai sejak pagi hari dengan bangun lebih awal, membersihkan diri, merapikan tempat tidur, beribadah, berolahraga, dan mempersiapkan diri mengikuti aktivitas belajar. “Anak-anak dibiasakan bangun pagi, membersihkan tempat tidur, menjaga kebersihan, dan disiplin terhadap agenda aktivitas sehari-hari,” kata Isbandiyah.

Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti merapikan tempat tidur rupanya menjadi perihal baru bagi sebagian siswa. “Mungkin di rumah mereka belum terbiasa. Di sini kami ajarkan perlahan-lahan agar menjadi kebiasaan baik,” ujarnya.

Setelah melaksanakan salat dan olahraga, siswa menjalani inspeksi pagi di asrama. Wali pondok memastikan bilik dalam keadaan bersih dan rapi sebelum siswa diperbolehkan menuju ruang makan dan mengikuti aktivitas belajar. “Kami mau mereka memahami bahwa disiplin dimulai dari hal-hal kecil,” katanya.

Sebagai sekolah berasrama, proses pendidikan di Sekolah Rakyat berjalan nyaris sepanjang hari. Model pendidikan ini memungkinkan pembimbing dan wali pondok mengenali setiap perkembangan siswa secara lebih mendalam. “Kami bisa memandang perubahan mereka dari hari ke hari, baik dari sisi perilaku, kedisiplinan, maupun keahlian akademik,” jelas Kepala SRMP 13.

Perubahan pada diri siswa mulai terlihat setelah nyaris 10 bulan mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat. “Karakter mereka mulai berubah, ibadahnya semakin baik, dan kedisiplinannya meningkat. Memang semuanya tetap berproses, tetapi kami memandang perkembangan nan sangat positif,” kata Isbandiyah.

Ia berambisi kehadiran Sekolah Rakyat betul-betul dapat menjadi jalan bagi anak-anak dari family miskin untuk memperoleh kehidupan nan lebih baik di masa depan. “Kami tidak mau mereka datang ke Sekolah Rakyat tanpa perubahan. Ini adalah kesempatan besar nan kudu dimanfaatkan untuk menjadi pribadi nan lebih baik, berkualitas, dan bisa mengubah masa depan termasuk keluarganya,” tandasnya.

Bagi Dani Trianto, si kembar Ahmad Hamdani dan Ahmad Rabani, serta puluhan anak lainnya, SRMP menjadi tempat nan nyaman untuk belajar, baik pengetahuan pengetahuan maupun pendidikan karakter. Sekolah menjadi kawah candradimuka untuk melahirkan anak-anak nan unggul dan berbudi pekerti meski datang dari family duafa. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia