Kisah 3 Kandidat Polisi Tapal Batas dan Pedalaman Hoegeng Awards 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Jakarta -

Acara puncak Hoegeng Awards 2026 bakal digelar pada Jumat, 31 Juli. Dalam aktivitas itu bakal diumumkan satu sosok polisi teladan sebagai penerima Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Tapal Batas dan Pedalaman.

Malam penganugerahan Hoegeng Awards 2026 bakal dilangsungkan mulai pukul 19.00 WIB, Jumat (31/7/2026), di The Tribrata Darmawangsa, Jakarta Selatan, dan disiarkan live di detikcom. Penyanyi ternama Tanah Air, Pongki Barata, bakal memeriahkan aktivitas malam nanti.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Chairman of CT Corp Chairul Tanjung (CT) bakal menghadiri aktivitas tersebut. Para menteri dan ketua lembaga negara juga dijadwalkan bakal hadir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Satu dari tiga besar kandidat penerima penghargaan Polisi Tapal Batas dan Pedalaman ini telah dipilih oleh Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026. Ketiganya adalah Iptu Motalip Litiloly, Iptu Bastian Tuhuteru, dan Bripka Hamzah Ladema.

Adapun Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 ialah Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Wahid, M.Psi, Wakil Ketua Komnas HAM Putu Elvina, S.Psi., MM, Mantan Plt Pimpinan KPK Dr. Mas Achmad Santosa, S.H., LL.M., personil Kompolnas Gufron Mabruri, dan Ketua Komisi III DPR, Dr. Habiburokhman, S.H., M.H.

Berikut ini profil ketiga kandidat Polisi Tapal Batas dan Pedalaman Hoegeng Awards 2026:

1. Iptu Bastian Tuhuteru

Saat ini, Bastian menjabat Kapolsek Sirimau, Polresta Ambon, Polda Maluku. Kiprahnya dimulai tahun 2016 saat tetap menjadi Bhabinkamtibmas, dia mendedikasikan diri untuk mencerdaskan masyarakat budaya di Dusun Walafau, Kabupaten Buru Selatan, nan dulu belum tersentuh pendidikan.

Iptu Bastian menjadi pembimbing nan mengajarkan baca tulis menghitung (calistung) kepada anak-anak di pelosok Maluku tersebut. Perjuangan nan konsisten dan penuh ketulusan selama tiga tahun akhirnya membuahkan hasil hingga pemerintah wilayah setempat membangun SD negeri untuk membuka akses pendidikan.

Perjuangannya tidak mudah, Bastian kudu menempuh medan jalan nan susah dan kadang kudu menyeberangi sungai. Dia awalnya mengajar anak-anak di sebuah tenda sederhana. Setelah beberapa bulan, tempat belajar pindah lantaran tenda kadang bocor.

Atas dedikasinya, Bastian diberikan tiket sekolah perwira tahun 2019 nan kemudian mengantarkannya menjadi Kapolsek Waesama. Pengabdiannya tetap dilanjutkan saat menjadi Kapolsek Waesama dengan memerintahkan Bhabinkamtibmas untuk mengajar dan menjangkau daerah-daerah pedalaman.

Iptu Bastian juga pernah mendapatkan penghargaan 2 kali dari Kapolri, ialah penghargaan ranking 1 polisi teladan tingkat nasional tahun 2019 dan penghargaan polisi pengajar tahun 2019. Selain itu, penghargaan juga diterimanya dari Kapolda Maluku hingga Kapolres Buru Selatan.

Baca profil lengkapnya di sini.

2. Iptu Motalip Litiloly

Iptu Motalip merupakan Kasat Samapta Polres Nduga, Polda Papua. Dia dekat dengan masyarakat Nduga hingga bisa meredam bentrok di sana. Karena kedekatannya, penduduk dua kali berdemo ketika Motalip dimutasi ke wilayah lain hingga akhirnya dikembalikan bekerja di Polres Nduga.

Tugas Motalip di Nduga berasal pada tahun 2012 saat dirinya diminta Bupati Nduga dan Kapolres Wamena untuk mengamankan kisruh buntut meninggalnya personil DPRD Paulina Ubruange. Dengan pendekatan humanis, Motalip sukses meredam bentrok nan berpotensi berkepanjangan. Situasi pun kembali kondusif.

Masalah tak berakhir di situ, dia menemukan kebenaran jika kehadiran abdi negara di Nduga ditakuti oleh penduduk setempat. Warga tak berani menatap dan condong mengelak jika berhadapan dengan Iptu Motalip nan berseragam polisi dan menenteng senjata api.

Ternyata masyarakat Nduga punya trauma masa lampau dengan abdi negara nan berseragam dan bawa senjata. Akhirnya, Motalip memutuskan untuk menyimpan senjatanya dan sehari-hari menggunakan busana preman untuk berjumpa dengan masyarakat lokal. Dia pakai seragam polisi hanya ketika terjadi masalah kamtibmas.

Perlahan masyarakat mulai terbuka dan menerima kehadiran Iptu Motalip dan anggotanya di Nduga. Bahkan masyarakat Nduga nan kebanyakan berakidah Nasrani mempunyai sapaan berkawan untuk Iptu Motalip, ialah 'Pak Salib', nan dianggap sebagai pelindung.

Baca profil lengkapnya di sini.

3. Bripka Hamzah Ladema

Bripka Hamzah merupakan Bhabinkamtibmas Desa Sonit, Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Dia telah mengabdikan diri selama 15 tahun di pulau terdepan Banggai Laut. Di tengah serba keterbatasan, Hamzah berupaya meningkatkan taraf hidup penduduk melalui pembinaan ibu-ibu untuk budidaya rumput laut dan membantu anak-anak SD.

Penugasan Bripka Hamzah di Desa Sonit dimulai sekitar tahun 2009. Saat itu, dia ditugaskan untuk meredam potensi bentrok masyarakat mengenai rumor perubahan wilayah. Dengan pendekatan persuasif, dia sukses menjaga keamanan dan ketertiban hingga situasi kembali kondusif.

Kepercayaan masyarakat terhadap Bripka Hamzah begitu besar hingga penduduk meminta agar dirinya tetap ditempatkan di desa tersebut. Dalam menjalankan tugasnya, Bripka Hamzah tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga aktif membantu masyarakat secara langsung.

Hamzah juga berkedudukan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan mendorong warga, khususnya ibu-ibu, untuk membudidayakan rumput laut sebagai sumber penghasilan. Ia membantu mencarikan solusi pemasaran hingga hasil panen bisa dijual ke wilayah lain, sehingga meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat.

Di bagian pendidikan, Bripka Hamzah turut aktif membantu sekolah-sekolah di desa binaannya. Ia kerap mengunjungi sekolah, membantu kebutuhan nan kurang, serta memberikan motivasi kepada anak-anak agar tetap semangat belajar di tengah keterbatasan fasilitas.

Baca profil lengkapnya di sini.

(fas/knv)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News