Kind vs Nice Leadership: Ketika Pemimpin Terlalu Baik Menurunkan Standar Tim

Sedang Trending 5 jam yang lalu
Ilustrasi Pemimpin Perempuan. Foto: Bangkok Click Studio/Shutterstock

Pemimpin nan Disukai Belum Tentu Membuat Tim Bertumbuh

Ada kejadian nan cukup menarik di banyak tempat kerja. Ketika pemimpin sedang libur alias tidak berada di kantor, sebagian orang tiba-tiba datang sedikit lebih siang. Tenggat nan biasanya dikejar mulai terasa lebih longgar. Rapat nan dijadwalkan pukul sembilan baru betul-betul dimulai beberapa menit kemudian.

Bukan berfaedah semua orang mendadak kehilangan etos kerja. Situasi itu menunjukkan satu hal: perilaku manusia sering kali dipengaruhi oleh pemisah nan jelas.

Pengalaman-pengalaman mini seperti ini membikin saya bertanya: apa nan sebenarnya membikin sebuah tim tetap disiplin? Apakah lantaran mereka bekerja dengan penuh kesadaran, alias lantaran mereka tahu ada seseorang nan bakal menegakkan standar ketika mulai bergeser?

Pertanyaan itu membawa saya pada satu perbedaan nan sering luput dibahas: perbedaan antara nice leadership dan kind leadership.

Ketika Standar Mulai Mengendur

Banyak orang menganggap keduanya sama. Padahal, ketika diuji dalam situasi nan sulit, hasilnya bisa sangat berbeda. Saya pernah mendengar seseorang berkata, "Atasan saya sebenarnya baik banget."

Kalimat itu terdengar seperti pujian. Setelah memperhatikan langkah timnya bekerja, muncul gambaran nan berbeda. Tenggat waktu sering mundur. Evaluasi jarang dilakukan. Orang nan bekerja keras mendapat perlakuan nan nyaris sama dengan mereka nan terus mengulang kesalahan.

Saat itulah saya menyadari bahwa menjadi pemimpin nan disukai belum tentu membikin sebuah tim berkembang. Masalahnya bukan lantaran pemimpin tersebut tidak peduli. Justru sebaliknya. Ia terlalu mau menjaga hubungan tetap baik.

Banyak pemimpin memilih tak bersuara lantaran tidak mau membikin bawahannya kecewa. Ada nan cemas dianggap terlalu keras. Ada pula nan merasa bahwa menegur seseorang bakal merusak suasana kerja nan selama ini terasa nyaman.

Tidak ada nan salah dengan niatnya. Persoalannya, niat baik saja tidak selalu cukup untuk membangun tim nan sehat. Ambil contoh nan sederhana. Ada seorang personil tim nan beberapa kali terlambat mengirim pekerjaannya.

Awalnya hanya terlambat satu jam. Minggu berikutnya menjadi satu hari. Lama-kelamaan, kalimat seperti "Masih saya kerjakan, kelak bakal dikirim," terdengar semakin biasa. Respons nan muncul pun sering kali terdengar menenangkan. "Tidak apa-apa. Minggu depan kita coba lebih baik."

Empati tentu penting. Setiap orang bisa mengalami hari nan buruk. Ketika respons nan sama terus diulang tanpa pernah ada pembicaraan mengenai tanggung jawab, toleransi perlahan berubah menjadi kebiasaan.

Yang paling menarik justru bukan perilaku orang nan terlambat. Perubahan pertama biasanya terjadi pada orang-orang nan selama ini paling disiplin. Mereka berakhir mengingatkan rekan kerja nan terlambat. Bukan lantaran tidak peduli, melainkan lantaran merasa teguran mereka tidak bakal mengubah apa pun selama pemimpinnya sendiri tidak bertindak.

Di titik inilah standar sebuah tim mulai turun, bukan lantaran keahlian anggotanya berkurang, melainkan lantaran pemisah antara perilaku nan dapat diterima dan nan tidak dapat diterima semakin kabur.

Berbeda dengan itu, seorang pemimpin nan mengedepankan kind leadership tidak selalu memilih jalan nan paling nyaman. Ia mungkin berkata, "Saya menghargai usahamu. Tapi keterlambatan ini sudah berakibat pada pekerjaan tim lain. Menurutmu, apa nan menjadi hambatannya? Mari kita cari solusi agar perihal ini tidak terus berulang."

Percakapan seperti itu memang tidak selalu menyenangkan. Kepedulian tidak selalu datang dalam corak kalimat nan membikin orang merasa nyaman. Kadang, kepedulian justru muncul dalam corak keberanian untuk menyampaikan sesuatu nan perlu didengar.

Fenomena serupa sebenarnya tidak hanya terjadi di kantor. Dalam kerja golongan saat kuliah, nyaris setiap orang pernah berjumpa personil nan jarang berkontribusi tetapi tetap memperoleh nilai nan sama. Di organisasi, keputusan nan kurang efektif terus dijalankan lantaran tidak ada nan mau mengecewakan senior.

Dalam kehidupan sehari-hari pun, banyak hubungan terlihat baik-baik saja hanya lantaran persoalan krusial tidak pernah betul-betul dibicarakan. Harmoni memang terlihat terjaga. Sayangnya, persoalannya tidak pernah betul-betul selesai.

Ketegasan Tidak Sama dengan Kekerasan

Apa nan terjadi di banyak instansi rupanya sejalan dengan temuan Gallup. Temuan Gallup dalam State of the Global Workplace 2024 menunjukkan bahwa hanya sekitar 23 persen pekerja di bumi nan merasa betul-betul engaged dengan pekerjaannya. Salah satu aspek nan paling konsisten memengaruhi keterikatan tersebut adalah kualitas hubungan dengan atasan, terutama kejelasan ekspektasi, umpan balik, dan support untuk berkembang.

Data ini menarik lantaran menunjukkan bahwa orang tidak hanya memerlukan apresiasi. Mereka juga memerlukan arah. Mereka mau mengetahui standar nan kudu dicapai, apa nan tetap perlu diperbaiki, dan gimana mereka bisa berkembang.

Tanpa kejelasan, rasa nyaman justru bisa berubah menjadi area nan membikin semua orang berakhir bertumbuh. Di sisi lain, bekerja di bawah pemimpin nan sangat keras juga bukan jawaban.

Memang ada tenaga kerja nan menjadi jauh lebih berhati-hati ketika dipimpin oleh pemimpin nan tegas. Mereka mengecek kembali pekerjaannya sebelum dikirim, lebih disiplin terhadap tenggat waktu, dan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Ketika ketegasan berubah menjadi intimidasi, nan muncul bukan lagi rasa hormat, melainkan rasa takut. Akibatnya, orang menjadi enggan bertanya, memilih tak bersuara ketika memandang masalah, dan perlahan kehilangan keberanian untuk menawarkan ide-ide baru.

Kepatuhan memang meningkat. Sayangnya, produktivitas sering kali ikut menurun. Karena itu, persoalannya bukan memilih menjadi pemimpin nan terlalu baik alias terlalu galak. nan dibutuhkan sebuah tim adalah pemimpin nan hangat dalam memperlakukan manusia, tetapi tegas dalam menjaga standar.

Ilustrasi leader dan manager. Foto: Shutterstock

Pemimpin tidak perlu memilih antara empati dan ketegasan. Keduanya justru saling melengkapi ketika diterapkan secara proporsional.

Ada satu perihal lain nan menurut saya layak direnungkan. Kadang-kadang nan sebenarnya kita hindari bukan bentrok itu sendiri. nan kita hindari adalah rasa tidak nyaman ketika kudu mengecewakan seseorang.

Padahal menjadi pemimpin memang sesekali menuntut keberanian untuk mengatakan hal-hal nan tidak populer. Menunda percakapan nan susah mungkin membikin hari ini terasa lebih tenang, tetapi sering kali hanya memindahkan masalah ke hari esok.

Pada akhirnya, ukuran seorang pemimpin mungkin tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang nan menyukainya. Ukuran nan lebih setara adalah seberapa banyak orang nan tumbuh setelah pernah bekerja bersamanya.

Pemimpin nan betul-betul peduli tidak hanya mau timnya merasa nyaman hari ini. Ia mau mereka menjadi lebih baik, lebih bertanggung jawab, dan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

Tidak semua kejujuran terasa menyenangkan saat pertama kali didengar. Namun, kejujuran itulah nan paling lama membawa manfaat.

Seseorang mungkin lupa seberapa ramah seorang pemimpin. Namun, mereka nyaris selalu ingat apakah mereka bertumbuh alias justru berakhir berkembang saat bekerja bersama."

- Hayari Putri

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan