Keutamaan Musyawarah

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Ilustrasi salat di masjid. Foto: Peace-loving/Shutterstock

Tatkala Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, untuk membangun masyarakat Islam nan nantinya merupakan cikal bakal pendirian negara kota adalah:

  1. Mendirikan Masjid.

2. Mempersaudarakan kaum pendatang (Muhajirin) dengan masyarakat Madinah (Anshar).

3. Piagam Madinah. Ini merupakan konstitusi untuk Negara Islam nan baru berdiri.

Dalam Piagam Madinah itu enam azas yaitu:

1. Kebebasan beragama.

2. Persamaan.

3. Kebersamaan.

4. Keadilan.

5. Perdamaian nan berkeadilan.

6. Musyawarah.

Musyawarah ini merupakan perkara nan krusial dan menjadi salah satu landasan (pondasi) untuk kehidupan khususnya bernegara. Musyawarah ini menjadi salah satu prinsip nan selalu dijaga oleh para “pewaris bumi”. Oleh karena itu, Allah SWT memberikan perintah agar segala urusan diputuskan melalui musyawarah.

Hal ini, sebagaimana dalam firman-Nya surah asy-Syura ayat 38 nan terjemahannya, “Dan (bagi) orang-orang nan menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki nan Kami berikan kepada mereka.”

Dalam Islam, musyawarah merupakan landasan hidup nan kudu dipegang teguh baik bagi penguasa (pemimpin) maupun rakyat biasa. Para pemimpin bertanggung jawab untuk mengeksekusi musyawarah dalam kebijakan politik, pemerintahan, norma dan beragam perihal nan berasosiasi dengan kepentingan masyarakat luas.

Sementara rakyat mempunyai tanggung jawab untuk menjadikan musyawarah sebagai wadah penyampaian aspirasi kepada penguasa. Negeri tercinta ini telah meletakkan musyawarah bagian dari Pancasila (dasar negara). Oleh lantaran itu, musyawarah ini hendaknya selalu digunakan dalam mengatasi persoalan nan muncul di masyarakat, bukan menang-menangan lantaran berkuasa alias dekat penguasa. Ingatlah bahwa keadilan sosial bagi semua rakyat menjadi tujuan.

Jika seorang pemimpin secerdas apa pun nan mengandalkan pendapatnya sendiri tanpa pernah mau menghargai pendapat orang lain, pendapatnya itu bakal lebih rentan dari kesalahan. Hal nan berbeda jika seorang pemimpin nan mungkin tidak terlalu cerdas, namun mau mendengarkan pendapat orang lain melalui musyawarah. Jadi dapat dikatakan, orang nan paling pandai sejatinya adalah orang nan mau berembuk serta bersikap terbuka terhadap pendapat orang lain.

Dalam aliran Islam, lembaga permusyawaratan nan ada dalam suatu negara mempunyai kedudukan nan lebih tinggi dibandingkan kekuasaan eksekutif. Lembaga inilah nan bekerja mengarahkan setiap kebijakan nan diambil oleh pelaksana alias seorang kepala pemerintahan. Kepala Negara hendaknya selalu berpegang pada prinsip musyawarah, lantaran seorang pemimpin nan terjadi adalah seizin-Nya tentu bakal dibimbing-Nya selama dia alim menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Perintah menjalankan musyawarah sesuai dengan sabda riwayat Thabrani, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak bakal merugi orang nan beristikharah dan tidak bakal menyesal orang nan bermusyawarah.”

Jelas bahwa kejayaan dan masa depan suatu bangsa berjuntai pada baik buruknya sistem musyawarah nan diterapkan oleh bangsa nan bersangkutan. Juga ada perintah langsung dari Sang Pencipta ayat di atas ( asy-Syura 38 ) dan ali-Imran ayat 159 nan terjemahannya,”….sedang urusan mereka ( diputuskan ) dengan musyawarah antara mereka…”

Sedangkan faedah musyawarah adalah:

  • Melatih Mengemukakan Pendapat.

  • Nilai Kebersamaan.

  • Masalah Cepat Terselesaikan.

  • Adanya Keadilan dari Keputusan nan Diambil.

  • Menyatukan Banyak Pendapat.

  • Mencegah Kekeliruan.

Dengan berembuk secara otomatis bakal melatih para pesertanya untuk menyampaikan pendapat, perihal ini tidaklah mudah jika tidak dilatih. Persoalan nan dimusyawarahkan mempunyai nilai kebersamaan. Pendapat satu orang bakal berbeda dengan pendapat 5 sampai 7 orang, hingga persoalan nan dibahas bakal sigap ketemu solusinya.

Dengan berembuk persengketaan bakal diselesaikan dengan setara dan para pihak bakal menerima keputusan. Musyawarah juga menghindarkan kekeliruan lantaran menyatukan banyak pendapat dan menghasilkan solusi nan komprehensif ( luas, menyeluruh, teliti dan meliputi banyak perihal ).

Ingatlah bahwa Rasulullah SAW secara terang-terangan menunjukkan kepada umatnya bahwa beliau diperintah oleh Allah SWT untuk menegakkan prinsip musyawarah di tengah perjalanan hidupnya.

Oleh karena itu, wahai para pemimpin nan mempunyai kuasa, contohlah Rasulullah SAW untuk berembuk dalam menjalankan pemerintahannya, dan ini diperkuat sebagai perintah-Nya. Janganlah engkau (pemimpin) menjadi orang nan termasuk golongan orang-orang nan tidak alim pada-Nya.

Ya Allah, bimbinglah para pemimpin kami nan menjalankan amanah agar selalu alim atas perintah-perintah-Mu. Lebih mementingkan atas kepentingan masyarakat luas dari pada sekelompok golongan. Ampunilah dan tunjukkan jalan-Mu agar nan salah segera memperbaikinya dan tidak mengulanginya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan