Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua umum MUI Pusat. KH. Anwar Iskandar mendukung posisi pemerintah untuk menolak intervensi pihak luar, khususnya Dana Moneter Internasional (IMF) dalam kemandirian ekonomi nasional. Menurutnya, sikap itu perlu diapresiasi lantaran menjadi bukti penegakkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33.
"Beliau ini berani menolak IMF. Kita tahukah kelakuan IMF? IMF ini perpanjangan tangan dari, dari apa namanya, dari kepentingan-kepentingan luar nan mau membikin negara ini lemah. nan membikin mau negara ini, yang, nan ingin, hancurkan negara," ujarnya dalam rekaman video, Sabtu (13/6/2026).
Menurutnya, Presiden RI Prabowo Subianto tetap berada di pihak rakyat untuk menuju negara nan mandiri.
"Sejak Indonesia ini lahir, presiden sudah tukar sampai delapan kali. Belum ada satu pun kepala negara nan mau melaksanakan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 45 itu sungguh-sungguh selain Pak Prabowo. Ini riil ya, pidatonya ke mana-mana dia mau agar Pasal 33 dilaksanakan. Dan ini nyata-nyata pro rakyat. Dan itulah prinsip menuju negara mandiri," ungkapnya.
Ia menyebut, sikap Prabowo ini tidak disukai oleh negara lain nan tidak menginginkan Indonesia menjadi negara maju.
"IMF bagian dari kepanjangan tangan nan tidak suka Indonesia ini maju. Mau kita sebagai bangsa kemudian dijajah lagi dijajah lagi. Nah, salah satu nan paling saya pahami, nan paling saya pahami ya, nan berani menolak IMF nan telah melakukan hal-hal nan enggak bener itu, ya Pak Prabowo ya," ucapnya.
Anwar menambahkan, jika Indonesia terus mengandalkan biaya IMF susah menuju ekonomi nan berdikari dan menolak biaya IMF memerlukan keberanian nan besar.
"Pak Presiden kita itu mau menjalankan itu semua semuanya. Pak Prabowo adalah bagian dari upaya-upaya untuk menjalankan Pasal 33 itu. Oleh lantaran itu orang-orang mini seperti saya, orang kampung ini, ya ingin, mau pesan pada Pak Presiden, Pak, jangan diberhentikan Pak ini. Jangan diberhenti. Ini bukan pesanan bukan apa ini ya. Kita merasakan, sudah merasakan," tutupnya.
(fsd/fsd)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·