Ketika Teguran Berubah Menjadi Pertikaian

Sedang Trending 55 menit yang lalu
Ilustrasi Perkelahian Foto: Getty Images

Berapa banyak keributan nan sebenarnya bermulai dari sesuatu nan sangat sederhana dan sepele: seseorang menegur lantaran memandang ada nan tidak semestinya, lampau orang nan ditegur tidak terima?

Teguran bisa muncul di mana saja. Di jalan, di tempat kerja, di lingkungan masyarakat, apalagi di antara orang-orang nan tidak saling mengenal.

Seseorang mungkin menegur lantaran ada patokan nan dilanggar, ada perilaku nan mengganggu, alias sekadar mengingatkan agar sesuatu tidak menjadi lebih buruk. Tetapi anehnya, orang nan ditegur sering kali justru lebih sigap tersinggung daripada mencoba memahami kenapa dirinya ditegur.

Dokumen pribadi dari aplikasi gemini

Tentu langkah menegur juga penting. Teguran nan disampaikan dengan kasar, merendahkan, alias mempermalukan di depan banyak orang dapat memancing emosi. Ada etika dalam mengingatkan orang lain. Namun, langkah teguran nan kurang tepat juga tidak serta-merta menghapus kesalahan andaikan memang terdapat pelanggaran.

Di sinilah persoalan sering menjadi rumit.

Manusia tidak selalu marah lantaran merasa dirinya benar. Kadang-kadang manusia marah lantaran merasa nilai dirinya disentuh. Teguran terhadap perilaku diterjemahkan sebagai serangan terhadap pribadi. Akhirnya, nan dibela bukan lagi kebenaran, melainkan ego.

Persoalan menjadi semakin rumit ketika seseorang merasa mempunyai "orang belakang". Ada keluarga, teman, saudara, kelompok, jabatan, komunitas, alias orang-orang nan diyakini bakal membantu ketika terjadi masalah. Akibatnya, keberanian menghadapi persoalan tidak lagi berjuntai pada betul alias salahnya tindakan, tetapi pada seberapa banyak orang nan berada di belakangnya.

Satu orang nan sebenarnya salah mungkin tetap bisa berpikir ulang. Tetapi ketika dia merasa mempunyai banyak pendukung, keberanian dapat berubah menjadi arogansi. Jumlah kemudian dianggap sebagai kebenaran.

Padahal, sepuluh orang nan memihak kesalahan tidak bakal membikin kesalahan berubah menjadi benar.

Fenomena ini memperlihatkan sungguh mudahnya manusia terjebak dalam loyalitas kelompok. Ketika family alias kawan terlibat masalah, hatikecil pertama sering kali bukan bertanya, "Apa nan sebenarnya terjadi?", tetapi "Bagaimana kita memihak orang kita?"

Kita mendengar cerita dari pihak nan dekat, kemudian langsung mempercayainya. Kita memihak sebelum mengetahui duduk persoalannya. Kita mencari pembenaran sebelum mencari kebenaran.

Padahal, orang nan betul-betul menyayangi kita tidak selalu kudu memihak kita. Kadang justru orang nan berani mengatakan, "Kamu salah," adalah orang nan paling peduli. Membela kesalahan hanya lantaran hubungan darah, pertemanan, alias solidaritas golongan bukanlah corak kasih sayang. Itu justru dapat membikin seseorang semakin jauh dari keahlian untuk mengoreksi diri.

Di sinilah kita perlu mengingat sebuah pepatah nan sangat sederhana tetapi dalam maknanya: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Di mana pun seseorang berada, dia wajib menghormati hukum, norma, adat, dan tata kehidupan masyarakat setempat. Tidak peduli apakah dia masyarakat asli, pendatang, orang kaya, orang berpengaruh, alias mempunyai banyak kawan dan keluarga. Ketika berada di suatu wilayah, dia tidak bisa membawa patokan sendiri dan memaksakan kehendaknya kepada orang lain.

Prinsip ini bertindak bagi siapa saja.

Karena itu, ketika terjadi perselisihan, jangan sampai identitas golongan justru menjadi argumen untuk menutup mata terhadap persoalan nan sebenarnya. Apalagi jika sebuah pertikaian berujung pada luka berat alias apalagi kematian.

Dalam situasi seperti itu, tidak cukup hanya mengatakan, “Mereka orang kita.” Tidak cukup pula menyelesaikannya hanya berasas cerita sepihak alias tekanan massa. Jika terdapat dugaan tindak pidana, maka proses norma kudu melangkah terhadap pihak-pihak nan memang diduga terlibat, sesuai bukti dan ketentuan hukum.

Bukan berfaedah semua pihak kudu dianggap bersalah.

Justru sebaliknya.

Proses norma diperlukan agar siapa nan betul dan siapa nan salah dapat diketahui berasas fakta, bukan berasas jumlah pendukung.

Jika sebuah pertikaian menyebabkan kematian, misalnya, maka penyelidikan kudu dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui gimana peristiwa bermula, siapa nan melakukan apa, apakah terdapat tindakan pembelaan diri, siapa nan memicu kekerasan, apakah ada pengeroyokan, dan gimana rangkaian peristiwa hingga akhirnya menimbulkan korban jiwa. Semua kudu diuji melalui bukti dan proses norma nan adil.

Hukum tidak boleh bekerja berasas emosi massa.

Sebab jika norma hanya berpihak kepada golongan nan lebih besar, lebih kuat, lebih kaya, alias lebih berpengaruh, maka masyarakat bakal belajar satu perihal nan sangat berbahaya: bahwa kebenaran dapat ditentukan oleh kekuatan.

Padahal norma semestinya justru datang ketika kekuatan manusia tidak lagi bisa menyelesaikan persoalan dengan logika sehat.

Mungkin kita perlu belajar membedakan antara teguran dan penghinaan. Tidak setiap teguran adalah penghinaan. Tidak setiap kritik adalah serangan. Dan tidak setiap orang nan menunjukkan kesalahan kepada kita adalah musuh.

Ada kalanya seseorang menegur bukan lantaran membenci, tetapi lantaran mau sesuatu melangkah sebagaimana mestinya.

Sayangnya, kita sering mau dipuji tetapi tidak siap dikoreksi. Kita senang ketika orang membenarkan kita, tetapi marah ketika seseorang menunjukkan kesalahan.

Padahal, manusia nan tidak pernah mau ditegur bukan berfaedah manusia nan selalu benar. Bisa jadi dia hanya dikelilingi orang-orang nan takut mengatakan kebenaran.

Karena itu, ketika teguran datang, mungkin respons pertama nan lebih sehat bukanlah marah, apalagi mengumpulkan orang untuk memihak diri. Berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

“Benarkah saya sedang dipermalukan, alias sebenarnya saya sedang diingatkan?”

Pertanyaan sederhana itu mungkin dapat mencegah sebuah persoalan mini menjadi tragedi.

Sebab banyak keributan tidak dimulai dari masalah besar. Ia dimulai dari satu orang nan melakukan sesuatu nan dianggap tidak tepat, satu orang lain nan menegur, kemudian ego berjumpa ego. Setelah itu datang keluarga, teman, saudara, kelompok, dan akhirnya persoalan mini berubah menjadi bentrok besar.

Yang awalnya hanya soal siapa nan benar, berubah menjadi soal siapa nan lebih kuat.

Dan ketika sebuah pertikaian telah menimbulkan korban jiwa, tidak ada lagi nan layak merasa menang.

Yang tersisa hanyalah kehilangan, penyesalan, dan pertanyaan panjang tentang kenapa persoalan nan mungkin semula dapat diselesaikan dengan kepala dingin kudu berhujung begitu mahal.

Karena itu, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung bukan hanya tentang menghormati budaya dan budaya. Ia juga tentang kesediaan tunduk pada patokan nan berlaku, menghormati masyarakat setempat, dan memahami bahwa kita tidak hidup sendirian.

Jangan menjadikan keluarga, teman, saudara, kelompok, jabatan, ataupun kekuasaan sebagai argumen untuk merasa kebal.

Jika benar, buktikan melalui proses hukum.

Jika salah, akui dan perbaiki.

Jika terjadi perselisihan, biarkan norma menemukan duduk perkaranya.

Sebab pada akhirnya, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa nan paling banyak berdiri di belakang kita, tetapi oleh kebenaran nan dapat dipertanggungjawabkan.

Dan ketika kebenaran dikalahkan oleh jumlah, nan sebenarnya menang bukanlah siapa pun.

Yang kalah adalah logika sehat, keadilan, dan kemanusiaan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan