Piala Dunia 2026 bukan hanya turnamen sepak bola. Ia juga lorong panjang menuju ingatan. Bagi pencinta bola generasi 1990-an, panggung di Amerika Utara tahun ini seperti membuka kembali arsip emosional tentang final Piala Dunia 1994: Brasil melawan Italia di Rose Bowl, Pasadena Stadium. Laga nan berhujung tanpa gol hingga 120 menit, lampau Brasil menang lewat adu penalti. Saat itu Brasil dan Italia sama-sama sedang memburu bintang keempat. Dua raksasa tua sepak bola bumi berdiri saling berhadapan, membawa sejarah, gengsi, talenta, dan mitologi masing-masing.
Brasil datang dengan napas samba: Romário, Bebeto, Dunga, Cafu dan deretan pemain nan membikin sepak bola terasa seperti seni jalanan nan naik kelas menjadi kebudayaan global. Italia datang dengan wajah elegan sekaligus dingin: Franco Baresi, Paolo Maldini, Roberto Baggio, Demetrio Albertini dan tradisi strategi Catenaccio nan membikin memperkuat tidak sekadar menolak kebobolan, tetapi juga corak kecerdasan. Final itu memang tidak banjir gol, tetapi penuh simbol. Di sana ada dua ajaran besar: Brasil dengan khayalan menyerang dan Italia dengan disiplin strategi.
Tiga dasawarsa kemudian, Piala Dunia kembali digelar di area nan sama. Namun suasananya berubah. Brasil tetap hadir, tetapi tidak lagi datang dengan aura tak terkalahkan. Italia apalagi tidak datang sama sekali. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, Gli Azzurri kandas lolos ke Piala Dunia: 2018, 2022, dan 2026. Ironisnya, kegagalan 2026 terjadi ketika format Piala Dunia justru diperluas menjadi 48 tim. Dalam turnamen nan lebih terbuka, Italia tetap tak bisa menemukan jalan masuk.
Inilah paradoks sepak bola modern. Negara dengan sejarah besar tidak otomatis mempunyai masa depan besar. Nama besar bisa menjadi warisan, tetapi juga bisa menjadi beban. Italia terlalu lama hidup dalam romantisme masa lalu: kejayaan catenaccio, kematangan taktik, kiper hebat, bek legendaris dan kepintaran membaca permainan. Semua itu pernah menjadi modal utama. Namun sepak bola bergerak, tempo permainan sekarang jauh lebih cepat, tekanan lebih tinggi dan tuntutan bentuk pemain jauh lebih berat. Transisi menyerang dan memperkuat berjalan dalam hitungan detik. Klub-klub modern tidak hanya mencari pemain pintar, tetapi juga atlet nan cepat, kuat, elastis dan bisa berlari dalam sistem nan sangat menuntut.
Liga Italia pun mengalami nasib serupa. Pada 1990-an, Serie A adalah pusat gravitasi sepak bola dunia. Pemain terbaik bumi mau bermain di sana. AC Milan, Juventus, Inter, Parma, Lazio, AS Roma, dan Fiorentina semua punya daya pikat. Setelah Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia 1990, Serie A seolah menjadi panggung lanjutan dari sepak bola elite dunia. Namun kini, kekuasaan itu memudar. Bukan berfaedah klub Italia lenyap sama sekali. Inter tetap bisa menembus final Liga Champions 2023 dan 2025. Namun, kekalahan telak 0-5 Inter dari Paris Saint-Germain di final 2025 seperti mengirim pesan simbolik: Italia tetap bisa memperkuat di panggung besar, tetapi tidak lagi menguasai panggung itu.
Masalah Italia bukan sekadar pelatih, bukan pula sekadar generasi pemain. Masalahnya lebih dalam: ekosistem. Ketika liga kehilangan daya finansial, klub menjadi lebih berhati-hati berinvestasi. Ketika akademi tidak cukup produktif, tim nasional kekurangan regenerasi. Ketika klub terlalu berjuntai pada pemain asing, ruang tumbuh pemain lokal makin terbatas. Ketika nostalgia terlalu kuat, penemuan sering datang terlambat. Italia tetap pandai membaca permainan, tetapi sepak bola modern tidak hanya meminta pembacaan, tetapi juga meminta keberanian membongkar kebiasaan.
Brasil menghadapi persoalan berbeda. Negeri itu tidak kehilangan produksi pemain. Nama-nama seperti Vinícius Júnior, Rodrygo, Endrick, Alisson, Marquinhos, Bruno Guimarães, dan banyak lainnya menunjukkan bahwa talenta Brasil tetap mengalir. Namun, Brasil hari ini seperti kehilangan sesuatu nan dulu membuatnya menakutkan: kesinambungan antara talenta perseorangan dan kekuatan kolektif. Dulu, ketika Brasil membawa bola, bumi seperti menahan napas. Kini, Brasil tetap berbahaya, tetapi tidak selalu meyakinkan.
Perjalanan Brasil menuju Piala Dunia 2026 pun tidak semulus mitologi lama. Dalam kualifikasi area Amerika Selatan, Brasil finis di posisi kelima. Memang tetap lolos, tetapi posisi itu terasa janggal untuk negara nan selama puluhan tahun identik dengan keangkuhan positif: seolah Piala Dunia belum komplit tanpa mereka. Brasil finis kelima di kualifikasi CONMEBOL, Brasil datang ke turnamen ini dengan bayang-bayang performa kualifikasi nan tidak meyakinkan. Bahkan dalam laga pembuka Piala Dunia 2026, Brasil hanya bermain seri 1-1 melawan Maroko.
Carlo Ancelotti—pelatih besar nan didatangkan untuk mengembalikan ketenangan dan struktur—mengakui bahwa Brasil tetap kudu banyak memperbaiki diri. Ini bukan tanda kehancuran; ini tanda perubahan zaman. Brasil tidak lagi otomatis membikin musuh merasa kalah sebelum bertanding.
Runtuhnya kekuasaan Italia dan memudarnya aura Brasil memberi pelajaran penting: sepak bola adalah sejarah nan terus dinegosiasikan. Tidak ada takhta abadi, tidak ada kejayaan nan bisa diwariskan tanpa kerja keras. Di lapangan hijau, sejarah hanya menjadi modal awal, selebihnya ditentukan oleh pembinaan, manajemen liga, keberanian taktik, pengetahuan olahraga, kultur kejuaraan dan keahlian membaca perubahan.
Italia mengajarkan bahwa tradisi besar bisa membeku jika terlalu sering dipuja. Brasil mengajarkan bahwa talenta besar bisa terserak jika tidak disatukan oleh sistem nan kokoh. Sepak bola modern bukan lagi sekadar soal siapa nan punya pemain paling bagus alias sejarah paling megah. Ia telah menjadi pertarungan ekosistem: akademi, sport science, data, pelatih, liga, federasi, mentalitas, dan apalagi industri intermezo global.
Final 1994 tetap menjadi memori agung. Roberto Baggio nan menunduk setelah kandas mengeksekusi penalti, Dunga nan mengangkat trofi, Romario nan tersenyum, dan Franco Baresi nan menangis, semuanya telah menjadi bagian abadi. Namun, Piala Dunia 2026 memperlihatkan sisi lain dari memori itu. Brasil tetap berupaya menjaga bara. Italia sedang mencari pintu pulang. Dua raksasa itu tidak betul-betul runtuh, tetapi jelas sedang turun dari singgasana lama.
Barangkali itulah keelokan sepak bola. Ia tidak membiarkan siapa pun terlalu lama berkuasa. Ia memberi ruang bagi kejutan, memberi balasan bagi kemalasan dan memberi kesempatan bagi siapa pun nan mau berubah. Brasil dan Italia pernah menjadi bahasa utama sepak bola dunia. Kini, keduanya sedang belajar kembali mengeja zaman.
Dan bagi kita, penonton nan mencintai sepak bola bukan hanya lantaran skor, melainkan juga lantaran kisahnya—perubahan ini justru membikin Piala Dunia semakin manusiawi. Sebab di kembali jersey legendaris, stadion megah dan lagu kebangsaan nan menggema, sepak bola selalu mengajarkan satu hal: kejayaan bukan milik mereka nan paling besar namanya, melainkan milik mereka nan paling siap memperbarui dirinya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·