Angka itu terdengar meyakinkan: sekitar 490 ribu lulusan keguruan setiap tahun, sementara kebutuhan hanya puluhan ribu. Dari sini, muncul satu konklusi cepat—terlalu banyak guru, terlalu sedikit ruang.
Masalahnya, konklusi itu tidak sepenuhnya hidup di lapangan.
Di sejumlah daerah, terutama wilayah 3T, kekurangan pembimbing tetap menjadi persoalan harian. Satu pembimbing mengajar beberapa kelas sekaligus bukan cerita langka. Bahkan, ada sekolah nan memperkuat tanpa tenaga pengajar tetap. Dalam konteks ini, istilah “kelebihan guru” terdengar janggal—jika bukan keliru.
Masalahnya bukan pada jumlah, tetapi pada kegagalan pengedaran nan dibiarkan bertahun-tahun. |
Negara belum betul-betul datang memastikan pembimbing sampai ke titik paling membutuhkan. Lulusan menumpuk di kota, sementara wilayah terpencil terus menunggu. Ketika persoalannya distribusi, maka penghapusan program studi keguruan berisiko menjadi solusi nan tidak menyentuh akar masalah.
Ki Hajar Dewantara sejak lama menempatkan pembimbing sebagai pusat pembentukan manusia, bukan sekadar tenaga kerja. Prinsip “tut wuri handayani” menegaskan bahwa pendidikan memerlukan kehadiran, bukan sekadar kebijakan di atas kertas.
Di sisi lain, menjadikan “kebutuhan industri” sebagai tolok ukur relevansi pendidikan juga menyisakan persoalan. Pendidikan bukan pabrik tenaga kerja, dan pembimbing bukan komoditas pasar.
Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses pembebasan. Ketika dia direduksi menjadi perangkat produksi, nan lenyap adalah daya kritis—dan pada akhirnya, kemerdekaan berpikir.
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak berakhir di jumlah lulusan. Ia menyangkut sistem nan belum rapi, pengedaran nan timpang, dan support nan sering kali separuh hati.
Karena itu, nan dibutuhkan bukan penghapusan, melainkan pembenahan. Memperkuat kualitas lulusan penting, tetapi memastikan mereka datang di tempat nan tepat jauh lebih mendesak.
Jika tidak, kebijakan ini berisiko menjadi ironi tahunan: negara berbincang tentang kelebihan guru, sementara di sudut-sudut negeri, ruang kelas tetap menunggu kehadiran mereka.
Dan di Hari Pendidikan Nasional, ironi semacam itu semestinya tidak lagi dibiarkan menjadi kebiasaan.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·