Nilai tukar peso Filipina diperkirakan tetap bakal terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa bulan ke depan, meski bank sentral Filipina diprediksi meningkatkan suku kembang tahun ini.
Analis menilai lonjakan nilai daya akibat perang antara AS dan Iran menjadi aspek utama nan menekan mata duit Filipina. Negara tersebut dinilai sangat rentan lantaran berjuntai pada impor minyak dan remitansi pekerja migran di luar negeri.
Mengutip Bloomberg, Senin (11/5), peso Filipina sudah turun sekitar 3 persen sepanjang tahun ini ke level 60,61 per dolar AS dan sempat mencetak rekor terendah pada akhir April. Sejumlah analis memperkirakan mata duit tersebut tetap bisa melemah ke kisaran 62 hingga 63 per dolar AS.
Bank sentral Filipina alias Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) diperkirakan bakal meningkatkan suku kembang hingga 100 pedoman poin sepanjang tahun ini. Normalnya, kenaikan suku kembang dapat menopang nilai tukar mata duit lantaran menarik aliran modal asing.
Namun dalam kondisi saat ini, kenaikan nilai minyak justru membikin Filipina kudu mengeluarkan lebih banyak dolar untuk impor daya sehingga menekan pertumbuhan ekonomi dan neraca perdagangan.
“Kami memperkirakan peso tetap bakal condong melemah pada 2026 lantaran prospek pertumbuhan nan tidak pasti, defisit transaksi melangkah nan lebar, dan akibat inflasi nan tinggi,” ujar Kepala Riset Asia Australia & New Zealand Banking Group, Khoon Goh.
Ia memperkirakan peso Filipina dapat melemah hingga level 63 per dolar AS pada akhir tahun.
Analis senior BNY, Wee Khoon Chong, mengatakan lonjakan nilai minyak berpotensi menghapus faedah dari kenaikan suku bunga.
Menurut dia, kenaikan biaya impor daya bakal memberikan tekanan tambahan terhadap pertumbuhan ekonomi Filipina.
Data ekonomi terbaru juga menunjukkan kondisi ekonomi Filipina mulai melambat. Produk domestik bruto (PDB) kuartal I hanya tumbuh 2,8 persen secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan pasar. Konsumsi rumah tangga juga mencatat pertumbuhan paling lambat dalam nyaris 16 tahun di luar masa pandemi.
Di sisi lain, penanammodal asing mulai menarik biaya dari pasar saham Filipina. Sejak perang dimulai, biaya dunia tercatat keluar lebih dari USD 400 juta dari pasar saham negara tersebut. Indeks saham Filipina juga turun 1,5% sepanjang tahun ini, menjadi salah satu nan terburuk di Asia Tenggara setelah Indonesia.
Tekanan inflasi pun meningkat. Inflasi konsumen April tercatat naik paling sigap dalam tiga tahun terakhir.
Analis Sumitomo Mitsui Banking Corp., Jeff Ng, mengatakan tingginya nilai daya dapat membikin nilai tukar dolar AS terhadap peso terus naik.
“Biaya daya nan tinggi dapat mendorong pasangan dolar-peso menguji level 62 hingga 63,” ujarnya.
Pasar sekarang juga menyoroti potensi penurunan remitansi dari pekerja migran Filipina di Timur Tengah akibat perang Iran. Pemerintah Filipina memperkirakan pengiriman pekerja ke area tersebut dapat turun hingga separuh tahun ini. Sekitar 2,4 juta penduduk Filipina bekerja di Timur Tengah. Padahal remitansi menjadi salah satu sumber utama devisa negara itu.
Analis MUFG Bank, Michael Wan, mengatakan negara-negara nan sangat berjuntai pada minyak Timur Tengah menghadapi akibat besar jika Selat Hormuz tetap ditutup akibat konflik.
“Filipina, seperti nan selama ini kami soroti, termasuk dalam golongan negara nan rentan,” katanya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·