, SAMPIT, – Keterbatasan akses dan akomodasi tidak menyurutkan semangat Muhammad Wildan Al Ghozali, pelajar asal Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, untuk mengukir prestasi di kancah global. Ia sukses mencatatkan namanya dalam Hall of Fame milik U.S. Department of Education (Departemen Pendidikan Amerika Serikat) berkah kontribusinya menemukan celah keamanan siber secara etis.
Keberhasilan ini bermulai dari laporan temuan kerentanan nan dia kirimkan melalui sistem responsible disclosure. “Alhamdulillah, saya senang dan bangga lantaran laporan nan saya kirim dinyatakan valid. Saya berambisi ini bisa menjadi motivasi bahwa pelajar dari wilayah juga bisa berprestasi hingga kancah internasional,” kata Wildan di Sampit, Sabtu.
Pelajar kelas XI MAN 1 Kotawaringin Timur itu mengaku ketertarikannya pada bumi teknologi tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Awalnya dia doyan bermain gim di laptop, kemudian tertarik mempelajari pemrograman setelah memandang keahlian seorang temannya. Rasa mau tahu itu mendorongnya belajar secara berdikari melalui media sosial, mesin pencari, hingga beragam referensi di internet.
Tanpa berasosiasi dengan organisasi maupun mempunyai pembimbing khusus, kemampuannya terus berkembang hingga bisa membuka jasa pembuatan situs web sebelum akhirnya mendalami bagian keamanan siber. Perjalanan itu membawanya mengenal bumi bug bounty, ialah program resmi nan diselenggarakan perusahaan maupun lembaga, memberikan apresiasi kepada ethical hacker alias peretas etis nan sukses menemukan dan melaporkan kerentanan pada sistem mereka sebelum dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.
Proses Penemuan Celah Keamanan
Menurut Wildan, keberhasilan memperoleh pengakuan dari Departemen Pendidikan Amerika Serikat bermulai saat mengikuti program di platform Bugcrowd, nan mempertemukan organisasi dengan jaringan peneliti keamanan independen dari beragam negara. “Sebelum mencari celah, saya mempelajari dulu ruang lingkup alias in-scope domain nan boleh diuji. Setelah itu saya menggunakan teknik Google Dorking untuk menemukan info nan berpotensi mengarah pada kerentanan," ujarnya.
Dari proses tersebut, dia menemukan sebuah berkas nan mengandung info sensitif pada domain nan berangkaian dengan pengguna di Amerika Serikat. Setelah dianalisis lebih lanjut, Wildan mengidentifikasi adanya celah bertipe information disclosure alias kebocoran informasi. Ia menjelaskan, kerentanan semacam itu dapat berakibat serius lantaran memungkinkan pihak lain memperoleh info pribadi, berpotensi disalahgunakan untuk rekayasa sosial (social engineering), pencurian identitas, kerugian finansial hingga beragam corak kejahatan siber lainnya.
Temuan tersebut kemudian dilaporkannya melalui prosedur resmi. Setelah dilakukan proses verifikasi oleh pihak terkait, laporan itu dinyatakan sah sehingga namanya dicantumkan dalam laman Hall of Fame sebagai corak apresiasi atas kontribusi meningkatkan keamanan sistem. “Saya juga meminta sertifikat resmi dan saat ini tetap berproses. Sertifikat itu untuk portofolio ketika kelak saya melanjutkan pendidikan maupun berkarier di bagian keamanan siber," tuturnya.
Rekam Jejak dan Cita-cita
Prestasi tersebut bukanlah keberhasilan pertamanya. Sebelumnya Wildan telah beberapa kali menemukan celah keamanan pada sejumlah situs di Indonesia, di antaranya milik Pemerintah Kabupaten Blitar, Detik.com, Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah, laman PPID Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, PPID Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, hingga situs Pemerintah Kabupaten Nganjuk. Kerentanan nan ditemukannya beragam, mulai dari kebocoran info pribadi, keterbukaan jalur direktori internal server, full path disclosure, hingga konfigurasi sistem nan dapat diakses publik.
Di tingkat lokal, Wildan juga pernah diminta membantu memeriksa keamanan laman Kementerian Agama Kotim. Dari pemeriksaan tersebut dia kembali menemukan beberapa kerentanan nan kemudian dilaporkan agar dapat segera diperbaiki. Baginya, seorang bug hunter bukanlah peretas nan merusak sistem, melainkan pihak nan membantu meningkatkan keamanan digital dengan menemukan kelemahan sebelum dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
Oleh lantaran itu, dia selalu menekankan pentingnya menjalankan seluruh proses secara etis dan sesuai aturan. Dukungan family menjadi salah satu aspek nan memperkuat semangatnya. Sebagai anak keempat dari delapan bersaudara, Wildan mengaku orang tuanya nan bekerja di sektor swasta selalu memberikan motivasi, termasuk memfasilitasi kebutuhan belajar dengan membelikan laptop. “Orang tua, pembimbing dan teman-teman sangat mendukung. Bahkan setelah mengetahui saya sukses menemukan celah di situs web luar negeri, orang tua memberi apresiasi berupa tambahan duit saku. Itu menjadi penyemangat untuk terus belajar,” ungkapnya.
Ke depan, Wildan bercita-cita menjadi Cybersecurity Analyst dan menargetkan melanjutkan pendidikan di Telkom University alias Binus University. Ia apalagi mempunyai angan nan lebih besar, ialah suatu hari dapat menemukan kerentanan pada sistem milik NASA melalui program bug bounty resmi. Ia juga membujuk generasi muda untuk lebih bijak memanfaatkan teknologi dan media sosial. Menurutnya, ancaman kebocoran info dan penyalahgunaan jejak digital semakin besar andaikan pengguna tidak memahami pentingnya keamanan informasi.
“Anak muda kudu lebih melek teknologi, lebih berhati-hati menggunakan media sosial dan menjaga jejak digital. Hal mini seperti komentar nan jelek alias membagikan info pribadi bisa menjadi pintu masuk beragam kejahatan siber. Semoga semakin banyak generasi muda nan lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi,” demikian Wildan.
Konten ini diolah dengan support AI.
sumber : antara
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·