Kesepian Bisa Tingkatkan Risiko Serangan Jantung

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Kesepian Bisa Tingkatkan Risiko Serangan Jantung Ilustrasi(Magnific)

KESEPIAN tidak hanya berakibat pada kondisi psikologis, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan jantung dan otak secara signifikan. Sebuah laporan ilmiah dari American Heart Association (AHA) menyoroti kondisi tersebut berangkaian dengan peningkatan akibat penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.

Laporan ini merangkum beragam penelitian, nan menunjukkan orang nan merasa terisolasi secara sosial alias mengalami kesenyapan mempunyai kemungkinan lebih besar mengalami gangguan kesehatan serius dibandingkan mereka nan mempunyai hubungan sosial nan sehat dan aktif.

Kesepian Sering Diabaikan

Dalam laporan tersebut, para peneliti menegaskan isolasi sosial dan kesenyapan tetap sering tidak dianggap sebagai aspek utama dalam kesehatan jantung dan otak. Padahal dampaknya cukup besar.

Pemiimpin golongan penyusun laporan tersebut, Dr. Crystal Wiley Cene menjelaskan bukti ilmiah menunjukkan adanya hubungan kuat antara kesenyapan dan penurunan kesehatan secara umum.

“Ada bukti nan kuat nan mengaitkan isolasi sosial dan kesenyapan dengan peningkatan akibat kesehatan jantung dan otak nan lebih jelek secara umum,” ujar Cene.

Ia juga menambahkan penelitian mengenai beberapa kondisi spesifik seperti kandas jantung, demensia, dan gangguan kognitif tetap terbatas dan memerlukan kajian lebih lanjut.

Temuan dalam laporan tersebut menunjukkan hubungan paling kuat terlihat pada penyakit jantung dan stroke. Orang nan mengalami isolasi sosial alias kesenyapan diketahui mempunyai akibat sekitar 29% lebih tinggi untuk mengalami serangan jantung alias kematian akibat penyakit jantung, serta sekitar 32% lebih tinggi untuk mengalami stroke.

Selain itu, kondisi ini juga dapat memperburuk prognosis pada pasien nan sudah mempunyai riwayat penyakit jantung koroner alias stroke, termasuk meningkatkan akibat kekambuhan dan kematian.

Hubungannya dengan Gangguan Kesehatan Mental

Laporan AHA juga menemukan adanya hubungan timbal kembali antara kesenyapan dan gangguan kesehatan mental, terutama depresi. Orang nan merasa kesenyapan lebih rentan mengalami depresi, sementara mereka nan mengalami depresi juga lebih mungkin menjadi terisolasi secara sosial.

Namun, hubungan antara kesenyapan dengan demensia dan gangguan kognitif tetap belum konsisten berasas info nan ada.

Gaya Hidup dan Faktor Lingkungan Ikut Berperan

Kesepian tidak hanya berakibat secara emosional, tetapi juga dapat memengaruhi perilaku sehari-hari. Individu nan mengalami isolasi sosial condong kurang aktif secara fisik, mengonsumsi lebih sedikit buah dan sayur, serta lebih sering menjalani style hidup sedentari.

Beberapa studi juga menemukan kesenyapan berangkaian dengan peningkatan kebiasaan merokok, nan semakin memperburuk akibat penyakit jantung dan otak.

Selain itu, aspek lingkungan seperti kondisi tempat tinggal, akses transportasi, kualitas hubungan keluarga, hingga akibat pandemi dan musibah alam juga dapat memengaruhi tingkat keterhubungan sosial seseorang.

Para mahir menilai kesenyapan perlu ditangani sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit jantung dan otak. Salah satu langkah nan disarankan adalah dengan meningkatkan hubungan sosial melalui aktivitas komunitas, olahraga, dan program di pusat lansia.

Cene juga menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan dalam mendeteksi kondisi ini sejak dini. “Tenaga kesehatan sebaiknya menanyakan seberapa sering pasien melakukan aktivitas sosial dan apakah mereka puas dengan hubungan sosialnya dengan family dan teman,” kata Cene.

Ia menambahkan bahwa pasien nan teridentifikasi mengalami isolasi sosial alias kesepian, terutama nan mempunyai riwayat penyakit jantung alias stroke, sebaiknya dirujuk ke jasa alias organisasi nan dapat membantu mereka membangun kembali hubungan sosial. (American Heart Association/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia