Ilustrasi.(Magnific)
UPAYA diplomatik untuk mengubah Nota Kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran menjadi perjanjian tenteram permanen menghadapi jalan terjal. Baru memasuki hari kedua dari sasaran 'sprint' 60 hari nan ditetapkan, proses negosiasi di Zurich, Swiss, dilaporkan mengalami kebuntuan akibat eskalasi militer di Lebanon Selatan.
Sedianya, Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan menghadiri upacara penandatanganan seremonial di resor Bürgenstock pada Jumat (19/6) waktu setempat. Namun, delegasi Iran membatalkan kehadiran mereka sebagai protes atas serangan Israel di Libanon Selatan. Langkah ini disusul oleh pembatalan keberangkatan JD Vance dari Washington beberapa jam sebelum agenda lepas landas.
Ketidakpastian di Tengah Tenggat Waktu
Pembatalan mendadak ini menggarisbawahi rapuhnya kesepakatan nan ditandatangani Presiden Donald Trump di Istana Versailles pada Rabu lalu. Meskipun mediator internasional, termasuk Pakistan, berupaya keras meredam ketegangan, situasi di lapangan tetap volatil. Serangan udara Israel nan menewaskan sedikitnya lima orang di Libanon Selatan menjadi batu sandungan terbaru dalam proses ini.
Kantor buletin semiresmi Iran, Tasnim News Agency, melaporkan bahwa negosiasi tetap berjalan melalui mediator. "Jika syarat-syarat untuk memulai pembicaraan terpenuhi, pengumuman resmi bakal segera dilakukan," tulis laporan tersebut pada Sabtu (20/6).
Kepentingan Strategis Kedua Belah Pihak
Para analis menilai bahwa baik Washington maupun Teheran sebenarnya tidak mau proses perdamaian ini runtuh sepenuhnya. Bagi Gedung Putih, prioritas utama adalah mengamankan Selat Hormuz guna memastikan kelancaran pengedaran minyak global. Sementara itu, Iran sangat memerlukan pencabutan hukuman ekonomi dan akses ke aset miliaran dolar nan selama ini dibekukan.
Analisis Strategis: Bilal Saab dari think tank TRENDS US menyatakan bahwa MoU saat ini sangat menguntungkan Iran sehingga Teheran kemungkinan besar tidak bakal melepaskannya begitu saja hanya lantaran rumor Hizbullah. Namun, ketidakpercayaan mendalam antara kedua pihak tetap menjadi tantangan terbesar.
Ujian bagi Diplomasi Trump
Pihak Iran memandang negosiasi kali ini sebagai ujian apakah Donald Trump bisa mengendalikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mematuhi ketentuan gencatan senjata, meskipun Israel bukan penanda tangan resmi pakta tersebut. Di sisi lain, kritikus di Washington menilai Trump memberikan terlalu banyak konsesi kepada Iran melalui 14 poin dalam MoU tersebut.
Hingga saat ini, format negosiasi dilaporkan bakal diperkecil, melibatkan Abbas Araghchi, utusan unik Trump Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner. Meskipun demikian, belum ada kepastian kapan pembicaraan umum bakal kembali digelar di Swiss mengingat situasi keamanan di Timur Tengah nan terus memanas. (Washington Post/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·