Kesamaan Ledakan Bom Rakitan di MAN 3 Padang dan SMA 72 Jakarta

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Ledakan bom rakitan di MAN 3 Padang menggegerkan penduduk Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tengah, Kota Padang, Selasa (14/7/2026). Pelaku diduga merupakan pelajar di sekolah tersebut.

Kasus dugaan peledak rakitan nan melibatkan pelajar MAN 3 Padang kembali mengingatkan publik pada ledakan peledak di SMA Negeri 72 Jakarta pada November 2025.

Meski kedua peristiwa mempunyai konteks dan akibat nan berbeda, terdapat sejumlah kesamaan pola nan menjadi perhatian aparat. Pola tindakan pelaku ledakan MAN 3 Padang juga terbilang mirip lantaran terinspirasi dari pelaku peledak di SMA Negeri 72 Jakarta.

Berikut sejumlah kesamaan kedua kasus tersebut:

1. Pelaku Sama-Sama Pelajar

Kesamaan paling mencolok adalah pelaku nan diduga terlibat tetap berstatus pelajar. Dalam kasus MAN 3 Padang, Densus 88 Antiteror Polri mengungkap terduga pelaku berinisial RGJ (17) merupakan siswa sekolah tersebut.

Juru Bicara Densus 88 Kombes Mayndra Eka Wardhana mengatakan, barang nan diduga peledak rakitan itu pertama kali ditemukan petugas keamanan sekolah.

Polisi kemudian menyisir area sekolah dan melakukan penanganan awal terhadap pelajar berinisial RGJ (17). Berdasarkan hasil penyelidikan awal, RGJ diduga merupakan pemilik barang-barang tersebut.

"Identitas korban nan disebut sebagai sasaran rencana tindakan berasal dari keterangan pelaku dan tetap memerlukan pendalaman," kata Mayndra.

Sementara itu, dalam kasus SMA Negeri 72 Jakarta, pelaku juga merupakan siswa berumur 17 tahun di sekolah tersebut. Pelaku bertindak seorang diri dan dinilai cukup terlatih.

Meski peledak rakitannya berkekuatan ledak rendah, ledakan tersebut tetap membahayakan. Terbukti, banyak siswa mengalami luka serius dalam peristiwa itu.

2. Pelaku Korban Perundungan

Kemiripan lain dari kedua kasus ini adalah pelaku sama-sama diduga menjadi korban perundungan (bullying). Dalam kasus SMA Negeri 72 Jakarta, pelaku mengaku nekat melakukan tindakan tersebut lantaran sakit hati terhadap lingkungan sekolah.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan, pelaku geram dengan perlakuan sejumlah kawan nan dinilai kerap mengucilkannya.

"Berdasarkan keterangan anak, motif nan disampaikan adalah rasa sakit hati terhadap lingkungan sekolah, khususnya perlakuan dari sejumlah kawan nan dinilai sering mengucilkan," katanya dalam keterangan, Kamis (5/2/2026).

Perundungan itu telah dialami anak berhadapan dengan norma (ABH) sejak duduk di bangku SMP. Ia kerap menjadi bahan hinaan dan mendapat panggilan nan tidak disukainya.

"Anak menerangkan bahwa sejak SMP kerap menjadi bahan ejekan, termasuk dipanggil dengan julukan nan merendahkan lantaran lebih sering berbaur dengan kawan perempuan, dan situasi serupa bersambung saat SMA," ujarnya.

Sementara dalam kasus di MAN 3 Padang, dugaan bahwa pelaku merupakan korban perundungan juga mengemuka. Berdasarkan pemeriksaan awal, pelajar tersebut mengaku mengalami tekanan psikologis setelah kerap menjadi korban perundungan oleh kawan sekelasnya.

Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Barat Kombes Pol Susmelawati Rosya mengatakan, dugaan tersebut tetap sebatas keterangan awal sehingga interogator belum menyimpulkan motif secara pasti.

"Ini dipicu oleh masalah psikologis nan mendalam akibat sering menjadi korban perundungan sesama temannya, kawan sekelasnya," kata Susmelawati.

Polisi juga memperoleh keterangan bahwa sasaran rencana tindakan diduga hanya satu orang, ialah kawan sekelas pelaku. Namun, seluruh keterangan tersebut tetap dalam proses pendalaman.

3. Belajar Merakit Bom Lewat Internet

Kesamaan berikutnya adalah proses belajar membikin bahan peledak secara berdikari melalui internet. Dalam kasus MAN 3 Padang, pelaku mengaku mempelajari langkah membikin bahan peledak melalui internet. Barang-barang nan digunakan juga dibeli secara daring.

"Pelaku juga mengaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring," kata Mayndra.

Perangkat peledak tersebut diduga dirakit sendiri di rumah menggunakan bahan nan dibeli secara daring tanpa sepengetahuan orang tuanya. Sejumlah peralatan bukti nan diamankan antara lain kotak hitam, tas hitam, telepon genggam, petasan, pisau, anak panah, kelereng, baut, serta beberapa peralatan lainnya.

Sementara itu, dalam kasus SMA Negeri 72 Jakarta, pelaku diketahui jarang berbaur dan menyukai konten kekerasan di media sosial. Perundungan nan dialaminya juga diduga membikin pelaku lebih mudah terpapar konten negatif.

"ABH nan terlibat dalam kasus ledakan ini dikenal sebagai pribadi nan tertutup, jarang bergaul, dan mempunyai kesukaan pada konten kekerasan serta hal-hal nan ekstrem," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri saat konvensi pers di Jakarta, Selasa (11/11/2025).

Fakta lain nan terungkap, pelaku meniru tindakan penembakan massal di luar negeri sebagai metode untuk melakukan balas dendam terhadap orang-orang nan merundungnya.

Hal itu terlihat dari sejumlah nama asing nan tertulis pada senjata laras panjang mainan milik pelaku. Nama-nama tersebut diketahui merupakan pelaku tindakan teror dan penembakan massal di beragam negara. 

4. Terpapar Grup Ekstremis

Kesamaan lain nan menjadi perhatian adalah aktivitas pelaku di organisasi daring. Dalam kasus MAN 3 Padang, Densus 88 menyebut terduga pelaku mengaku berasosiasi dengan sejumlah grup daring nan membahas pembuatan bahan peledak.

Namun, seluruh pengakuan RGJ tetap diverifikasi penyidik. Pendalaman dan pengumpulan info juga terus dilakukan.

"Pelaku juga mengaku telah berasosiasi dalam sejumlah grup daring nan membahas pembuatan bahan peledak. Seluruh pengakuan tersebut tetap dalam proses verifikasi dan pendalaman lebih lanjut oleh abdi negara penegak hukum," kata Mayndra.

Sementara itu, dalam kasus SMA Negeri 72 Jakarta, pelaku diduga meniru tindakan ekstrem dari grup True Crime Community (TCC) nan pernah diaksesnya. Akibat terpapar konten ekstrem secara terus-menerus, pelaku diduga meniru tindakan tersebut tanpa mempertimbangkan risikonya.

"Jadi dia bisa meniru buahpikiran perilaku apa nan terjadi, sehingga dia meniru agar bisa dibilang dahsyat ya, agar ada kebanggaan. Nah itu dari segi psikologis," kata Kepala BNPT Komjen Eddy Hartono.

Eddy mengatakan pola perekrutan golongan teror sekarang mengalami pergeseran. Menurut dia, penyebaran mengerti ekstrem lebih banyak dilakukan melalui media daring, bukan lagi lewat jalur ideologis konvensional, melainkan melalui proses nan dalam kajian psikologis disebut memetic radicalization alias memetic violence.

Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑