Kerusakan Hutan Hulu Ancam Keberlanjutan Energi PLTA

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Kerusakan Hutan Hulu Ancam Keberlanjutan Energi PLTA Foto udara waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Senin (20/1/2025)(ANTARA/RAISAN AL FARISI)

MENJAGA kelestarian rimba di wilayah hulu wilayah aliran sungai (DAS) tidak hanya krusial untuk konservasi keanekaragaman hayati, tetapi juga berkedudukan dalam menjaga kesiapan air dan keberlanjutan energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University Dr Nyoto Santoso mengatakan kondisi ekosistem rimba menjadi salah satu aspek krusial nan menentukan kualitas dan jumlah sumber daya air dalam suatu DAS.

“Semakin luas tutupan hutan, semakin baik kualitas hutan, maka sumber daya air nan tersimpan dalam ekosistem rimba semakin banyak,” ujar Nyoto dalam keterangannya, Senin (10/8).

Menurut dia, air hujan nan jatuh di wilayah DAS dapat tersimpan dalam ekosistem rimba dan meresap ke dalam tanah menjadi air tanah. Tutupan vegetasi nan rapat juga membantu menghalang aliran permukaan sehingga rimba dapat berfaedah sebagai penyangga kesiapan air.

Sebaliknya, degradasi rimba di wilayah hulu berpotensi mengganggu ketahanan daya lantaran dapat menurunkan kesiapan air dan membikin debit aliran menjadi tidak stabil, terutama saat musim kemarau.

“Kemampuan daya kinetik aliran air dalam menggerakkan turbin PLTA bakal menurun, artinya daya listrik nan dihasilkan pun bakal menurun,” jelasnya.

Kerusakan rimba juga meningkatkan akibat erosi dan banjir pada musim hujan. Di sisi lain, degradasi ekosistem rimba dapat menurunkan kegunaan rimba sebagai penyangga kehidupan bagi biodiversitas serta mengurangi kemampuannya menyediakan pangan, bahan obat-obatan, air, pengendalian (benih)penyakit dan penyakit, hingga beragam jasa lingkungan.

Karena itu, Nyoto menilai upaya konservasi rimba perlu dilakukan secara bersama-sama untuk menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus mendukung ketahanan energi.

Pemerintah, menurut dia, perlu memperkuat rehabilitasi dan restorasi hutan, pengawasan, pemantauan tutupan rimba secara berkala, edukasi masyarakat, serta penegakan norma terhadap pihak nan menyebabkan kerusakan hutan.

Sementara itu, bumi industri dan masyarakat dapat berkontribusi melalui rehabilitasi lahan, penanaman pohon, penerapan agroforestri, serta perlindungan rimba dari pembalakan liar, kebakaran, perambahan, dan pencurian keanekaragaman hayati.

“Mari bersama-sama menjaga rimba dari ancaman illegal logging, perambahan hutan, pencurian kehati, kebakaran hutan,” kata Nyoto.

Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional setiap 10 Agustus menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa kelestarian rimba tidak hanya berangkaian dengan perlindungan tanaman dan fauna. Kondisi rimba juga berangkaian erat dengan keberlanjutan sumber daya air dan daya bagi masyarakat. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia