Keripik Cipuy Renyah, Usaha Rumahan yang Hidupkan Ekonomi Janda dan Lansia

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Matahari siang itu terasa cukup terik di Jalan Nanggerang, Bojonggede, Bogor, Jawa Barat. Dari luar, rumah produksi Keripik Cipuy Renyah tampak biasa saja. Namun begitu masuk ke dalam, suasananya sibuk. Tumpukan keripik singkong memenuhi perspektif ruangan. Aroma gurih minyak goreng tetap terasa hangat di udara.

Delapan wanita duduk melingkar di lantai sembari memasukkan keripik ke dalam plastik kemasan. Tangan mereka bergerak cepat. Sesekali terdengar obrolan mini diselingi tawa.

Di antara mereka, ada Encih (44), pemilik Keripik Cipuy Renyah. Perempuan berjilbab hijau itu tampak ikut jongkok sembari merapikan bungkusan keripik. Dia mengawasi proses produksi. Wajahnya terlihat lelah, tetapi tetap sibuk memastikan karyawannya bekerja cepat.

Tak jauh dari tempat Encih duduk, seorang laki-laki lanjut usia mengangkat keripik singkong menggunakan saringan besar dari wajan penggorengan. Keripik nan baru matang itu kemudian dituangkan ke dalam karung plastik cerah berukuran besar nan nyaris penuh.

Encih memulai upaya Keripik Cipuy Renyah dengan modal sekitar Rp 15 juta pada 2019. Uang itu digunakan untuk membeli peralatan produksi, mulai dari kompor, wajan besar, hingga kebutuhan bahan baku dan minyak goreng. Sebagian modal itu berasal dari pinjaman family nan ikut mendukung usahanya sejak awal.

Sebelum mempunyai upaya sendiri, Encih bekerja pada orang lain nan menjalankan upaya serupa. Dari sana, dia belajar proses produksi hingga akhirnya memberanikan diri membuka upaya rumahan sendiri.

“Waktu itu mikirnya mudah-mudahan bisa jalan dulu,” ujar Encih saat berbincang dengan Liputan6.com, Kamis (14/5/2026).

Produksi awal Keripik Cipuy Renyah tetap kecil, sekitar satu kuintal dalam seminggu. Namun perlahan permintaan bertambah. Dalam waktu sebulan, produksi meningkat jadi dua kuintal. Tak lama kemudian, usahanya terus berkembang hingga bisa memproduksi satu sampai dua ton keripik.

Namun ketika upaya mulai berkembang, pandemi Covid-19 datang. Pada masa awal pandemi, penjualan tetap berjalan. Tetapi memasuki gelombang berikutnya, upaya Encih terpukul. Toko-toko dan warung tempatnya menitipkan peralatan mulai sunyi pembeli. Banyak produk nan akhirnya dikembalikan lantaran tidak terjual.

“Barang banyak nan kembali lagi,” katanya.

Kondisi itu membikin produksi sempat berhenti. Dalam satu bulan, kadang hanya sekali produksi. Bahkan pernah tidak produksi sama sekali. Encih mengaku usahanya seperti kembali dari nol.

Saat itu, dia memilih bertahan. Tabungan nan dimiliki kembali diputar menjadi modal upaya agar produksi tetap melangkah sedikit demi sedikit. Beruntung, saat itu Encih sudah mempunyai beberapa reseller nan tetap membantu penjualan produknya.

Walau hanya memproduksi satu kuintal, peralatan dagangannya kembali lenyap terjual. Dari situ, produksi mulai melangkah lagi setiap hari. Sedikit demi sedikit upaya nan sempat tersungkur mulai bangkit.

Sekitar tiga bulan setelah kondisi mulai membaik, produksi Keripik Cipuy Renyah kembali meningkat. Dalam seminggu, Encih sudah bisa memproduksi hingga satu ton keripik. Permintaan pun kembali berdatangan dari beragam toko dan reseller nan sebelumnya sempat berakhir mengambil barang.

Pakai KUR BRI, Penjualan Makin Meningkat

Saat penjualan Keripik Cipuy Renyah mulai membaik, Encih memberanikan diri mengusulkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Tujuannya untuk tambahan modal usaha.

Pinjaman pertama pada 2022 dengan nominal Rp 25 juta. Dana itu digunakan untuk menambah modal produksi, terutama membeli bahan baku dalam jumlah lebih besar agar usahanya bisa memperluas pasar.

“Kalau alat-alat mah sebenarnya sudah ada. Jadi fokusnya buat nambah bahan produksi,” ujar Encih.

Sebelum mendapat tambahan modal, produksi keripik miliknya tetap terbatas. Encih hanya berani memproduksi satu kuintal, lampau menunggu peralatan lenyap terjual sebelum kembali produksi. Menurut dia, pola seperti itu membikin perkembangan upaya melangkah lambat.

Setelah mendapatkan KUR, Encih bisa membeli bahan baku lebih banyak sekaligus memperluas pemasaran ke beragam toko dan pasar. Perlahan, produk Keripik Cipuy Renyah mulai masuk ke wilayah Jakarta.

Dari nan awalnya hanya satu kuintal, kapabilitas produksinya meningkat menjadi lima kuintal dalam sekali produksi. Kini, Encih mengaku kebutuhan bahan bakunya mencapai sekitar dua ton singkong per minggu.

“Alhamdulillah sekarang seminggu bisa dua ton,” katanya.

Proses pengajuan KUR pertama menyantap waktu sekitar satu bulan. Namun setelah pinjaman pertama melangkah lancar, pengajuan berikutnya menjadi lebih cepat.

Setelah pinjaman pertama lunas, Encih kembali mengusulkan top up KUR sebesar Rp 50 juta. Tambahan modal itu kembali digunakan untuk memperbesar kapabilitas produksi dan menjaga kestabilan pasokan bahan baku nan harganya kerap naik turun. Mulai dari singkong, minyak goreng, hingga plastik kemasan.

Menurut Encih, tambahan modal dari KUR sangat membantu menjaga perputaran usaha. Terutama ketika permintaan pasar sedang tinggi. Dalam kondisi tertentu, produksi keripik miliknya apalagi bisa mencapai tiga ton dalam seminggu.

Selain mengandalkan penjualan langsung, Encih juga menerapkan sistem titip jual ke beragam toko. Cara itu lebih kondusif untuk menjaga hubungan dengan pengguna dan reseller nan sudah lama bekerja sama dengannya.

Dia mengaku sengaja memberi kelonggaran pembayaran kepada beberapa toko agar upaya mereka sama-sama tetap berjalan. Sebagian pembayaran dilakukan di awal, sisanya dibayar setelah peralatan lenyap terjual.

“Jadi sama-sama muter usahanya,” kata Encih.

Omzet Naik, Encih Beli Mobil dan Tanah

Perkembangan upaya Keripik Cipuy Renyah mengubah kehidupan Encih dan keluarganya. Di awal merintis usaha, omzet Encih hanya sekitar Rp 6 juta per bulan. Kini penghasilannya meningkat hingga Rp 10 juta sampai Rp 15 juta per bulan.

“Kalau dibanding awal mah jauh banget,” ujar Encih.

Dari hasil upaya keripik, Encih mengaku sudah bisa menambah aset. Salah satunya membeli tanah di samping rumah produksi untuk memperluas tempat usaha.

Menurut Encih, tambahan lahan itu dibutuhkan agar proses produksi lebih nyaman lantaran ruang kerja sebelumnya terasa semakin sempit dan panas saat produksi sedang tinggi.

Selain tanah, Encih bisa membeli mobil untuk membantu kebutuhan operasional pengedaran barang. Dulu, pengiriman pesanan hanya mengandalkan sepeda motor milik keluarga. Saat permintaan meningkat, terutama menjelang Lebaran, mereka kudu bolak-balik acapkali mengirim peralatan ke toko dan reseller.

“Kalau hujan alias macet suka repot,” katanya.

Encih juga sekarang mempunyai beberapa motor nan digunakan untuk kebutuhan operasional harian.

Asal Muasal Nama Cipuy Renyah

Encih menceritakan asal muasal nama usahanya. Cipuy rupanya berangkat dari nama panggilannya waktu kecil. Saat mulai merintis usaha, para keponakannya mengusulkan agar nama panggilan itu dijadikan merek produk.

“Ponakan-ponakan bilang, udah pakai nama Bibi aja, Cipuy ditambah Renyah. Ya sudah akhirnya dipakai,” kata Encih sembari tersenyum.

Nama itu kemudian dipatenkan dan menjadi identitas upaya keripik singkong miliknya. Produk Cipuy Renyah juga sudah mengantongi sertifikat halal. Encih mengaku proses pengurusan legal dibantu BRI.

Selain itu, usahanya juga sempat mendapat support dari program pemberdayaan YBM BRILiaN berupa hibah peralatan senilai sekitar Rp 8 juta. Bantuan tersebut digunakan untuk menunjang kebutuhan produksi seperti terpal dan perlengkapan upaya lainnya.

Hingga kini, Cipuy Renyah tetap konsentrasi pada produk keripik singkong original. Sementara untuk jenis pedas, Encih menerapkan sistem pre-order lantaran daya tahannya lebih singkat.

“Kalau pedas paling PO saja. Takutnya nggak tahan lama,” ujarnya.

Produk keripik miliknya dijual dengan beragam ukuran. Kemasan 400 gram dibanderol Rp 12 ribu. Sementara ukuran kiloan dijual Rp 25 ribu per kilogram. Ada juga bungkusan besar dua kilogram nan biasanya dipesan unik oleh reseller untuk diolah kembali menjadi jenis pedas.

Saat ini, Encih mempunyai sekitar 18 reseller aktif nan tersebar di beberapa daerah. Meski jumlah reseller berkurang dibanding sebelum pandemi Covid-19, volume pembelian justru meningkat.

“Sekarang ada reseller nan seminggu bisa ambil sampai lima kuintal,” katanya.

Pemasaran Cipuy Renyah dilakukan secara offline maupun online. Selain memasok ke toko-toko dan reseller, pesanan juga datang melalui media sosial dan pencarian Google nan dikelola anaknya.

Di tengah persaingan upaya camilan nan semakin ketat, Encih memilih menjaga kualitas produk. Dia sangat memperhatikan proses penggorengan, mulai dari suhu minyak, kestabilan api, hingga kualitas singkong nan digunakan setiap hari.

“Kita kudu punya karakter khas. Makanya dari langkah goreng sampai kualitas minyak betul-betul dijaga,” ujar Encih.

Pekerjakan Janda dan Lansia

Di rumah produksi Keripik Cipuy Renyah, Encih mempekerjakan belasan penduduk sekitar. Sebagian besar ibu rumah tangga, janda, hingga lansia.

“Alhamdulillah sekarang bukan family saja nan kerja. Sudah banyak ibu-ibu sekitar sini juga,” kata Encih.

Sistem bayaran nan diterapkan disesuaikan dengan hasil pekerjaan masing-masing. Para pekerja mencatat hasil kerja mereka setiap hari, lampau pembayaran dilakukan setiap 10 hari sekali. Penghasilan pekerja bisa berbeda-beda tergantung kecepatan dan jumlah pekerjaan nan diselesaikan.

“Kalau nan sigap sehari bisa dapat Rp 60 ribu,” ujarnya.

Saani merupakan salah satu tenaga kerja Encih. Perempuan 66 tahun itu sudah menggantungkan penghasilan pada Encih selama delapan tahun terakhir. Sejak suaminya meninggal, Saani tinggal berbareng cucunya dan mengandalkan pemasukan dari mengiris singkong di rumah produksi Cipuy Renyah.

“Kalau nggak kerja di sini ya bingung,” kata Saani pelan.

Sebelum bekerja di tempat Encih, dia sempat tinggal di Jakarta lampau pindah ke area Citayam. Awalnya, Saani hanya datang ke rumah produksi Cipuy Renyah untuk mengisi waktu lantaran tidak nyaman tak bersuara di rumah. Namun lama-kelamaan, pekerjaan itu menjadi sumber penghasilan utama baginya.

“Pertama mah hanya belajar ngiris aja,” ucapnya.

Setiap pagi, setelah membereskan pekerjaan rumah dan mengurus cucunya, Saani datang ke tempat produksi. Dia bekerja sejak pagi hingga pekerjaan selesai selama kondisi tubuhnya tetap kuat.

Bagi Encih, keberadaan para pekerja itu menjadi salah satu argumen dirinya terus mempertahankan upaya tetap berjalan. Meski acapkali menghadapi masa sulit.

Ke depan, Encih mau membawa Cipuy Renyah berkembang lebih besar lagi. Dia berambisi suatu hari bisa memperluas pasar hingga luar Pulau Jawa dan mempunyai tempat produksi nan lebih layak.

“Bismillah pengen lebih besar lagi,” ujarnya.

UMKM Masih Jadi Penopang Utama Kredit BRI

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, penyaluran angsuran upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap menjadi motor utama upaya BRI. Hingga kuartal I 2026, pembiayaan ke sektor UMKM tetap mendominasi portofolio angsuran perseroan.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi mengatakan, total angsuran dan pembiayaan BRI pada awal 2026 tumbuh 13,7 persen secara tahunan alias year-on-year (YoY) menjadi Rp 1.562 triliun.

Menurut Hery, sebagian besar pembiayaan tersebut tetap ditopang sektor UMKM nan selama ini menjadi konsentrasi utama BRI.

“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun,” ujar Hery dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, Kamis (30/4/2026).

Selain memperbesar pembiayaan UMKM, BRI juga terus memperkuat penyaluran KUR sebagai bagian dari support terhadap program ekonomi kerakyatan pemerintah.

Sepanjang Januari hingga Maret 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 47,09 triliun kepada sekitar 947 ribu pengguna di beragam wilayah Indonesia.

Dari total penyaluran tersebut, sektor pertanian menjadi penerima terbesar dengan nilai pembiayaan mencapai Rp 19,86 triliun alias sekitar 42,16 persen dari total KUR nan disalurkan.

Hery menyebut penyaluran pembiayaan tersebut bukan hanya menunjukkan luasnya jangkauan jasa BRI, tetapi juga menjadi pendorong tumbuhnya usaha-usaha produktif di masyarakat.

“Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan jasa BRI nan luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan upaya produktif, meningkatkan kapabilitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di beragam daerah,” katanya.

Selain pembiayaan, BRI juga terus menjalankan beragam program pemberdayaan bagi pelaku UMKM. Program-program tersebut difokuskan untuk memperkuat kapabilitas upaya masyarakat sekaligus memperluas pertumbuhan ekonomi kerakyatan di beragam wilayah.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita