Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI) menjelaskan akibat dari gangguan penerbangan nan terjadi akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) beberapa waktu lampau utamanya mengenai refund. Kendala mengenai refund biasanya terjadi pada pembelian tiket pesawat yang dilakukan lewat agen travel atau online agent travel agent (OTA).
Ketua APJAPI, Alvin Lie, menjelaskan perihal itu disebabkan lantaran pengaturan mengenai pemasok travel dan OTA tetap berada di bahwa Kementerian Pariwisata, bukan di bawah Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
“Yang menjadi masalah adalah penumpang-penumpang nan beli tiket dari OTA itu banyak nan tidak bisa refund. Dan jikalau refund tidak full. Kalau nan belinya langsung dari airline itu bisa refund full,” kata Alvin dalam konvensi pers Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI) di Jakarta pada Rabu (9/8).
Meski demikian, Alvin menjelaskan bahwa penutupan beberapa airport akibat erupsi GAK beberapa waktu lampau masuk ke dalam kategori force majeure. Dengan begitu, sebenarnya maskapai tidak mempunyai tanggungjawab kompensasi maupun refund. Namun, dia memandang langkah maskapai nan memberikan kompensasi maupun refund sebagai langkah nan baik.
“Nah refund ini sebenarnya juga tidak diatur sebagai kewajiban. Tapi ini merupakan suatu goodwill,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa untuk menghadapi situasi serupa ke depan, baik maskapai, airport maupun otoritas mengenai memang perlu mempelajari efektivitas komunikasi. Hal ini lantaran Alvin memandang saat kejadian penutupan beberapa airport akibat erupsi GAK lampau tetap ada penumpang nan memilih menunggu di airport lantaran kekhawatiran mengenai kejelasan jadwal.
“Tidak sedikit juga penumpang nan pilih untuk tetap menunggu di airport lantaran cemas jika mendadak kelak bisa terbang. Mereka tidak mau ketinggalan. Ini kan menunjukkan tetap kurangnya kepercayaan terhadap efektivitas komunikasi tentang pembaruan situasi,” kata Alvin.
Alvin memberi contoh, salah satu efektivitas komunikasi nan menurutnya bagus dan bisa dicontoh adalah perihal nan diterapkan Singapore Airlines (SQ) nan langsung membatalkan beberapa penerbangan ketika Bandara Soekarno-Hatta belum mempunyai kejelasan mengenai kapan waktu pembukaan penerbangan bakal dibuka lagi.
“Kemarin pun Singapore Airlines tidak terbang dan itu memang sudah disampaikan (jauh-jauh waktu) sehingga walaupun dibuka konsekuensinya mereka juga tidak bisa terbang juga lantaran pesawatnya tidak ada juga. Tapi apa nan kita bisa belajar adalah keberanian airlines untuk mengambil inisiatif daripada penumpang ini menunggu tanpa kejelasan lebih baik saya nyatakan off,” ujarnya.
Adapun sebelumnya beberapa airport kembali membuka jasa penerbangan pada Selasa (8/9), setelah sebelumnya menghentikan operasional akibat terdampak sebaran abu vulkanik.
Pihak Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) menyampaikan melalui akun resminya bahwa airport tersebut kembali melayani operasional penerbangan.
“Sehubungan dengan kondisi Erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini, Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali melayani operasional penerbangan,” tulis pihak airport melalui akun IG resmi @soekarnohattaairport.
Pihak Bandara Soetta meminta seluruh pengguna jasa untuk mengecek kembali status dan agenda penerbangan melalui kanal resmi maskapai masing-masing sebelum melakukan perjalanan.
“Kami minta maaf atas ketidaknyamanan nan mungkin terjadi. Terima kasih atas perhatian, pengertian, dan kerja sama seluruh pengguna jasa Bandara Internasional Soekarno-Hatta,” tulis pihak Bandara Soetta.
Sementara itu, Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah Kelas Utama juga Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) dan Bandara Husein Sastranegara (BDO) juga telah kembali beraksi pada Selasa (8/9) mulai 00.00 WIB.
45 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·