Nostalgia Rambut Nenek di Blok M, Jajanan Jadul yang Masih Eksis

Sedang Trending 45 menit yang lalu
Jajanan rambut nenek milik Oca. Foto: Nur Pangesti/kumparan

Di tengah ramainya jajanan kekinian dengan beragam corak dan rasa, jajanan era dulu alias nan sekarang lebih sering disebut jajanan jadul tetap punya tempat tersendiri bagi sebagian orang.

Salah satunya rambut nenek. Jajanan berbahan dasar gula ini tetap dapat ditemui di area Blok M, Jakarta Selatan. Bentuknya sederhana, berupa helaian gula nan telah diproses menyerupai rambut tipis.

Bagi sebagian pembeli, rambut nenek bukan sekadar makanan ringan. Jajanan tersebut membawa mereka kembali mengingat masa lalu.

Salah satu pedagang rambut nenek di Blok M, Oca mengatakan pembelinya datang dari beragam usia. Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga orang nan sudah lanjut usia.

“Kayak anak mini nan biasa beli. Seumuran (remaja-dewasa) kadang-kadang nenek-nenek. Kadang nan bawa anak tiga, empat,” kata Oca kepada kumparan, Rabu (9/9).

Menurut dia, argumen pembeli membeli rambut nenek biasanya bukan lantaran sekadar mau mencicipi jajanan tersebut. Ada kenangan nan ikut terbawa ketika mereka kembali menemukan makanan nan pernah mereka kenal sejak dulu.

“Ingat masa lalu. Bukan masa kecil, masa lampau bilangnya,” ujarnya.

Jajanan rambut nenek milik Oca. Foto: Nur Pangesti/kumparan

Nostalgia itu apalagi membikin pembeli nan awalnya hanya beriktikad membeli satu balut justru membawa pulang lebih banyak.

Oca menyebut pernah mendapat pembeli dari luar wilayah nan sengaja membeli rambut nenek. Salah satunya berasal dari Bali dan Surabaya.

“Beli satu balut dulu. Pas pulang dia beli tiga, empat. Bahkan ada orang Bali gitu ya,” ujarnya.

Di kembali bentuknya nan sederhana, membikin rambut nenek rupanya memerlukan proses nan cukup panjang. Oca mengatakan proses pembuatannya memerlukan beberapa peralatan, mulai dari katel, ember berisi air, hingga meja unik untuk menarik adukan gula.

Gula pasir nan menjadi bahan utama terlebih dulu dimasak hingga betul-betul matang. Menurut Oca, tahap ini krusial lantaran gula tidak bisa sekadar direbus sebentar.

“Di sini rebus, sudah betul-betul matang. Jangan asal gerbiuk aja. Harus betul-betul matang,” katanya.

Setelah matang, gula kemudian dituangkan ke katel kosong. Adonan tersebut digoyang dan diratakan hingga menipis, sebelum akhirnya didiamkan sampai mulai mengeras dan dapat ditarik.

Proses berikutnya dilakukan di atas meja khusus. Di meja tersebut terdapat bagian seperti pancung dengan panjang sekitar 20 sentimeter nan digunakan untuk membantu memutar adukan gula.

Sebelumnya, tepung terigu juga kudu dimasak. Tepung ini kemudian digunakan agar gula tidak lengket ketika proses penarikan dilakukan.

“Terigu sudah matang. Asal matang doang. Kocok-kocok, sudah matang. Biar enggak lengket,” ujar Oca.

Ilustrasi Rambut Nenek. Foto: Nawal Karimi/Shutterstock

Dari proses tersebut, gula nan awalnya berbentuk adukan kemudian ditarik berulang kali hingga menghasilkan helaian-helaian tipis nan menjadi karakter unik rambut nenek.

Meski jajanan kekinian terus bermunculan, Oca tetap mempertahankan rambut nenek sebagai dagangannya. Jumlah nan dibawa setiap hari pun menyesuaikan dengan kondisi pasar. Ia biasanya membawa sekitar 1-2 kilogram rambut nenek untuk dijual. Jika sedang ramai, stok tersebut bisa habis.

“Kadang bawa 1 sampai 2 kg. Kalau bawa 2 kg abis ya lumayan buat jajan anak Rp 100 ribu mah dapet,” ujarnya.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan