Kenapa Jenis Kelamin Bayi Berbeda dari Hasil USG? Ini Penjelasan Medisnya

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Kenapa Jenis Kelamin Bayi Berbeda dari Hasil USG? Ini Penjelasan Medisnya

Bayi wanita dan laki-laki. (Foto: Freepik)

PERNAHKAH kamu mengalami alias sekadar mendengar cerita orang lain nan sudah menyiapkan seluruh perlengkapan bayi berwarna serbamerah muda, namun saat persalinan tiba sang buah hati justru lahir sebagai anak laki-laki? Momen mengejutkan ini kerap memicu pertanyaan di pikiran para calon ibu maupun ayah. Apakah perangkat nan digunakan rusak, alias dokter kurang teliti saat memeriksa?

Fenomena perbedaan antara hasil pemeriksaan Ultrasonografi (USG) dan jenis kelamin bayi saat lahir rupanya bukan perihal nan sepenuhnya mustahil. Ada penjelasan mendalam soal jenis kelamin bayi bisa berbeda dari hasil USG.

USG Bayi

1. Kenapa Jenis Kelamin Bayi Berbeda dari Hasil USG?

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama dalam unggahan video di akun instagramnya @adityaspratama memberikan penjelasan mengenai kejadian tersebut. Menurutnya, penilaian jenis kelamin melalui USG 2 dimensi maupun 4 dimensi pada dasarnya berfokus pada visual morfologi luar janin, bukan melalui pengetesan genetik.

Apalagi, di usia kehamilan sebelum 18 minggu, corak kelamin baik laki-laki maupun wanita condong terlihat sama.

"Jadi dalam bumi medis, nan namanya penentuan jenis kelamin lewat USG 2 dimensi alias 4 dimensi itu hanya menilai morfologi luar, bukan tes DNA kromosom. Jadi di usia kehamilan sebelum 18 minggu, organ vital janin laki-laki dan wanita itu bentuknya kadang-kadang awalnya mirip banget," kata dr. Aditya.

Kesamaan corak awal organ vital tersebut disebabkan oleh perkembangan embrio nan belum sempurna pada trimester awal. Struktur anatomi luar antara calon bayi laki-laki dan wanita tetap mempunyai kemiripan nan cukup signifikan di layar monitor.

"Penis dan klitoris itu berasal dari struktur embrio nan sama. Jadi apa nan di layar terlihat seperti misalnya bibir memek alias labia, itu bisa aja sebenarnya adalah skrotum nan belum turun alias ukurannya ini tetap sangat kecil," ujarnya.

2. Bukan Berarti USG Tidak Akurat

Meski demikian, kondisi ini bukan berfaedah pemeriksaan USG tidak mempunyai tingkat keakuratan nan tinggi. dr. Aditya menegaskan bahwa kecermatan pemeriksaan organ kelamin sebenarnya sangat tinggi andaikan dilakukan pada waktu kehamilan nan tepat. Selain itu, hambatan lain nan kerap menjadi penyulit biasanya datang dari aspek teknis seperti posisi bayi di dalam kandungan.

"Tapi tunggu, ada nan nanya lagi, 'Berarti hasil USG itu nggak akurat, Dok, dan hanya tebak-tebakan aja?' Ya enggak juga, dan ini hati-hati kalian nggak boleh nyimpulin sendiri. Jadi kecermatan USG organ kelamin itu sebenarnya mencapai 95 sampai 99 persen jika dilakukan di waktu nan tepat. Jadi nan bikin meleset biasanya bukan salah alatnya, tapi posisi janin. Jadi jika si mini pahanya rapat, itu menutup area selangkangan pakai tali pusat, alias posisinya sujud. Jadi pantulan gelombang bunyi USG itu bisa menciptakan nan namanya shadowing nan akhirnya ini menipu penglihatan," jelas dr. Aditya.

Untuk menekan akibat kekeliruan prediksi visual tersebut, pengecekan secara berkala pada usia kehamilan nan lebih matang sangat disarankan. Pemeriksaan pada trimester ketiga menjadi periode paling optimal untuk mengonfirmasi jenis kelamin sang buah hati secara lebih pasti.

"Tapi berita baiknya, konfirmasi ulang di usia kehamilan 22 sampai 28 minggu, USG fetomaternal itu bisa menekan nomor kekeliruan ini hingga mendekati 100 persen. Bahkan ada riset nan menunjukkan pemeriksaan pada trimester ketiga itu dia mempunyai tingkat presisi visual organ luar paling optimal," lanjutnya.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑